Dua Pendosa

“Mana ada sih anak kampusku yang ngga player?” katanya santai sambil menatapku.

Aku hampir saja menjatuhkan sendokku ke semangkuk bakso yang terhidang di hadapanku. Ini bukan cara yang biasa mendapatkan hati seorang wanita.

“Lalu, kamu berharap dengan mengatakan itu, aku akan terkesima padamu? Karena kamu lebih memilihku daripada yang lainnya?” kataku pedas.

Lama berpisah karena kuliah dan kerja di tempat yang berbeda, akhirnya aku dan Bagus dekat kembali ketika aku pindah dan bekerja di satu perusahaan dengannya. Hanya beda lantai saja. Tak banyak yang kuketahui tentang dia. Hanya saja si Rani, Laras, Pingkan, selalu blingsatan kalau ia ke mejaku. Pakai ngintip lewat sekat yang setengah itu.

“Bukan begitu,” katanya sambil tertawa, memamerkan giginya yang rapi. “Aku ngasih tahu gitu, supaya kamu jangan kaget, kalau aku punya banyak teman perempuan di luar sana, atau ada mantan yang masih kepo dengan kehidupanku sekarang, atau maksa ngajak balikan,” katanya tenang.

Aku merengut. Sudah terbayang posisiku sebagai tameng, melindungi dia dari kejaran para fansnya. Apalagi ini, player, beugh…entah apa yang sudah ia perbuat dengan mantan-mantannya.

“Dan…kamu pikir aku akan siap menghadapi semua?” tanyaku sinis.

Dia mengangguk sambil tersenyum. Tatapannya tajam. “Bisa. Aku yakin kamu bisa. Beda dengan mantan-mantanku dulu yang cemburuan, dan maunya aku bersama mereka 24 jam. Khawatir aku kemana-mana. Hal yang membuat aku makin menjadi-jadi affairnya,” kini binarnya meredup.

“Oh ya? Kok kamu lebih yakin daripada akunya yah?” kataku lagi, menyindirnya. “Tahu ngga Gus, kalau mungkin nanti, aku akan berubah jadi sama menyebalkannya dengan mantan-mantanmu. Apalagi kalau kamu tetap sok ramah seperti itu,” kataku berusaha menyadarkannya. Hei, I’m a woman too! Yang punya cemburu, apalagi kalau pacarnya diburu.

“Yakin aja. Kamu rela nemenin suamimu sampai dia meninggal kan?” katanya, kali ini wajahnya serius.

Aku terhenyak. Itu setahun lalu. Namun rasanya baru kemarin, ketika tatapan mata Mas Ary lama-lama memudar, dan si pemilik mata memejamkannya untuk selama-lamanya.

“Kamu bukan wanita yang biasa, Sas. Orang lain mungkin akan menyerah, atau menceraikan, daripada susah-susah mengurus pasangan yang…maaf…penyakitan,” katanya pelan. Aku membelalak. Ngga pernah ketemu, tapi kenapa ia tahu semua tentangku?

“Gus, meskipun agak creepy mengetahui kamu mencari info tentangku sampai sejauh itu, tapi…ok…terima kasih untuk perhatianmu. Dan…aku melakukannya karena cinta. Klise memang, tapi aku sudah jatuh cinta pada Mas Ary,” aku terdiam sebentar, sebelum menatapnya. “dan aku ngga tahu, apa aku bisa jatuh cinta seperti itu kepadamu.” Aku menatap matanya, berusaha menemukan kekecewaan di binar matanya. Namun anehnya, pernyataanku tidak mengejutkannya.

“Tidak apa, aku tahu susah bagimu melepas bayang Mas Ary. Itu juga yang semakin menguatkanku, kalau cintamu tak pernah main-main. Maka…ijinkanlah aku membuktikan, aku juga bisa membuatmu jatuh cinta.” Ia kini tersenyum. Lebih kepada sosok yang puas dan berbangga jika bisa mengubah hatiku.

“Aku selayak kelinci percobaanmu ya, Gus?” Ingin rasanya aku membungkam mulut yang suka nyeplos ini, tapi spontanitas selalu mengiringi langkah dan ucapku.

Ia tertawa. “Ngga juga, Sas. Tapi aku mulai capek dengan semua petualanganku. Aku butuh seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Aku butuh…pulang…”

Aku terdiam. Tawaran menjadi pacarnya tidak ada ruginya, mestinya malah ia yang rugi secara sosial, berpacaran dengan seorang janda. Aku menimbang lagi para fansnya yang mungkin akan mengganggu hubungan kami.

“Cemas diserbu cewek-cewek itu?” ia seakan bisa menebak resahku. “Yang diincar aku kok, Sas. Ngga usah berubah sikap, aku yang akan melindungimu dari mereka.”

Aku nyengir. Hah…dia sendiri kelabakan tapi tetap sok cool, lalu menasehati soal jangan panik…itu lucu sekali. Aku tersenyum, sebelum menganggukkan kepala. Dia tersenyum gembira, menggenggam tanganku yang membuatku salah tingkah, dan mengecupnya.

“Aku janji akan membahagiakanmu.”
Aku tersenyum padanya. Kita lihat saja nanti.

*

Sesuai dugaanku, serangan pertama tiba dari teman-teman satu lantaiku. Si Bagus ini, ngga bisa ya jemput aku untuk makan siang, tanpa harus memunculkan dirinya (tapi kupikir-pikir lagi, ia tak punya kemampuan membuat tubuhnya transparan. Jadi yah, memang harus kelihatan). Meski pertama dia sudah kutegur karena mengajakku dengan cara yang atraktif, sambil memberi bunga, cara lain yang biasa-biasa saja, tetap saja memancing pandangan iri para wanita di sekelilingku. OK, kalau begitu, bukan salah Bagusnya, toh apapun yang ia lakukan, atau apapun yang aku lakukan untuk mendapatkan hati mereka, menjadi sia-sia.

Lalu, serangan berikutnya datang dari para mantannya. Mungkin, ia mengunggah foto selfie kami berdua di akun media sosialnya. Ingatkan aku untuk memperingatkannya. Para mantan itu memburuku, mungkin itu kata yang paling tepat kusematkan pada mereka, atas telepon bertubi-tubi ke kantor (tidak lagi sejak aku bilang ke operator, semua telepon untukku tidak aku terima, lebih baik aku saja yang menelepon balik kalau ada keperluan kantor), ke ponselku (tidak lagi sejak kuganti nomor dan mengorbankan beberapa orang yang tak sempat kuberitahu tentang pergantian ini), akun media sosialku (gampang, tutup saja dulu dan ngga usah kepo balik ke sana lagi) dan yang aku tidak bisa cegah, ke alamat kosku. Rasanya ingin pindah kos saja, tapi sementara secara harga dan fasilitas kos ini yang paling baik.

Tapi berkat para mantan itu, aku jadi tahu apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Mereka tidak malu-malu memamerkan diri foto telanjang, berdua, entah dimana. Mungkin hotel tempat mereka memadu kasih. Foto-foto yang diambil dari ponsel itu memang agak buram, tapi cukup bagiku untuk mengetahui, senyuman memabukkan dari seorang Bagus, dan senyuman kepuasan dari para wanita itu. Menjijikkan!

Dan Bagus ingin agar aku menerima itu semua? Jangan mimpi!

Itulah sumber konflik kami. Bagus, dengan menyebalkan, tidak meladeni semangatku untuk bertengkar. Ia mengakui semua perbuatannya, dan menganggap itu adalah masa lalu.

“Yang penting kan masa sekarang Sas, dan itu aku jalani sama kamu,” katanya perlahan.

Aku mendelik. Selalu seperti itu jawabannya, setiap aku protes dan menyerahkan semua foto memuakkan itu padanya.

“Tapi aku jadi jijik disentuh kamu, Gus!” seruku kasar.

Bagus terdiam. Kemudian ia menghela napas. “Aku memang pendosa, Sas. Aku…sedemikian kotornya. Dan kalaupun sekarang aku mendapat hukuman, dengan dilarang menyentuhmu…aku terima,” katanya pelan.

Aku diam. Untuk sementara aku puas dengan diturutinya permintaanku. Enak saja! Sudah grepe pacar-pacarnya kemana-mana, dan ia mengira aku serendah mereka semua? Cih, jangan mimpi!

*

Bagus memenuhi janjinya untuk tidak menyentuhku. Itu yang membuatku…kadang menyesal.

Kami telah jalan bersama sekitar 6 bulan. Ia dengan hati-hati menjaga jarak setiap bersamaku. Di restoran tempat kami makan malam, di mobil, di bioskop. Bahkan di keramaian, saat aku akan terpisah dengannya, ia hanya mau memegang bajuku atau tasku, tanpa menyentuh aku. Padahal di sekitarku begitu banyak pasangan yang berpelukan, berciuman, saling menyentuh untuk mengungkapkan sayang. Kami selayak anak SMP yang baru pertama berpacaran, padahal usia sudah bangkotan begini. Wah, kalau begini terus, hubungan ini ngga akan kemana-mana, pikirku cemas.

Kadang sengaja aku menyentuhnya, tapi ia tidak bereaksi apapun. Dia hanya diam, pun tidak menghindar. Ia hanya menatapku, sambil tersenyum. Tapi setelah aku menyingkirkan tanganku, ia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam. Padahal dengan Mas Ary dulu,…pada bulan keberapa ya ia telah mengecupku?

Aku terbatuk. Akhir-akhir ini penyakit fluku kambuh, dan gawatnya ngga sembuh-sembuh. Aku sudah coba berbagai obat yang dijual bebas di apotek, masih saja flu ini melanda. Di tempat kerja juga jadi sungkan. Selain kondisiku drop, kepala pusing, aku harus memakai masker supaya tidak menulari rekan kerjaku.

“Ke dokter ya,” kata Bagus prihatin. Ia menatapku dengan iba. Sudah biasa dia begitu, jadi aku ngga salting lagi.

“Kemarin sudah kan,  Bagus? Kamu yang antar,” kataku sambil menahan pusing.

“Ke dokter yang lain. Nampaknya obatnya kurang cocok untukmu. Kamu ngga sembuh-sembuh. Tuh liat, badanmu kayanya menyusut,” lagi-lagi ia menatapku. Aku jadi tergerak melihat wajahku di cermin besar di samping kami duduk. Aku melihat seorang wanita yang kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Sangat menyedihkan.

Aku mengangguk lesu. Semoga Bagus bisa menemukan dokter yang cocok untukku.

*

couple

couplenature.tumbler

Bagus yang membawaku ke dokter itu. Dokter yang menyimak penjelasan Bagus, memintaku menjalani beberapa tes, dan Bagus pula yang mengambil hasilnya. Saat itu aku sedang sangat tidak fit, maunya berbaring saja.

Bagus datang dengan wajah yang tak bisa kutebak, hasilnya bagus atau tidak. Ia hanya menyerahkan beberapa obat, dan berkata dokter menyuruhku menjalani satu tes lagi untuk memastikan diagnosanya.

“Tes lagi? Emang ada penyakit gawat, Gus?” tanyaku ingin tahu. Ia hanya mengatakan semua akan baik-baik saja, dan pamit pulang.

Tes itu berlangsung singkat. Darah dan air liurku diambil. Kemudian ketika tiba saat mengambil hasil, aku berkeras pada Bagus untuk ikut, aku ingin mendengarkan apa analisis dokter, sebenarnya aku sakit apa.

“Hasil tesnya…Ibu positif HIV,” kata dokter di hadapanku. Aku terhenyak. HIV?? Darimana…aku tak pernah…lalu…usiaku tinggal…

Bagus memelukku.

“Ibu jangan khawatir. HIV bukan berarti AIDS. Yang kita bisa lakukan sekarang adalah rutin melakukan pengobatan, agar daya tahan Ibu membaik,” katanya tenang.

“Dokter…” kataku tak tahan, “darimana saya…dapat virus itu ya Dok. Saya tidak pernah sembarangan melakukan hubungan seksual selain dengan almarhum suami, apalagi pakai narkoba. Saya…berusaha menjaga laku saya Dok. Tapi kok kena juga…” kataku bingung.

Dokter itu diam sebentar, sebelum melanjutkan. “Kemungkinan terbesarnya…mungkin dari suami Ibu.”

Aku membelalak. Mas Ary? Pengidap AIDS?

Dokter itu menanyakan, bagaimana kondisi Mas Ary sebelum meninggal. Aku menjelaskan hari-hariku selama menemani ia hingga dijemput ajal. Semakin aku jelaskan, semakin aku menyadari, keadaannya persis seperti penderita AIDS tahunan. Dan…ini yang ia sembunyikan dari aku? Mendadak aku merasa benci setengah mati padanya. Teganya, orang yang kuserahkan hidupku seutuhnya dan seluruhnya…memberikan penyakit mematikan sebagai balasannya.

Pulang dari dokter aku terdiam terus di mobil yang mengantarku pulang. Bagus juga hanya diam, ia berusaha memahami perasaanku. Entah marah, sedih atau kecewa yang lebih mendominasi.

“Sas, sudah, ngga usah dipikir, dijalani saja,” katanya lembut, ketika kami sudah sampai di depan rumah kos.

“Kamu enak ngomong begitu Gus, karena kamu ngga ngalamin,” kataku ketus.

Bagus terdiam.

“Dan Mas Ary tega-teganya ngga bilang itu ke aku. Hingga aku terima pinangannya, menjalankan tugasku sebagai istri, dan dengan mudahnya ia menulariku penyakit ini,” kataku geram.

“Mungkin ia juga ngga tahu, Sas,” kata Bagus pelan.

Aku memikirkan kata-katanya. Hmm…bisa jadi. Marahku mulai mereda.

“Tapi darimana dia dapat ya, Gus,” kini aku mulai pasrah. Mencoba mengira-ngira apa saja yang sudah dilakukan Mas Ary, sebelum ia bertemu denganku.

“Kurang tahu Sas, mungkin jarum suntik yang tidak steril, atau hubungan seks sebelumnya,” katanya, juga mengira-ngira.

“Kamu…bersih?” kataku ingin tahu. Mengingat sepak terjangnya di luar sana.

Ia mengangguk. “Kami pakai pengaman, lebih kepada supaya ngga jadi anak. Aku cek berkala, soalnya aktivitasku beresiko tinggi.”

“Enak ya kamu, bisa nyobain semua tapi ngga kena,” kataku setengah menyindir. Sedikit merasa tak adil juga, aku yang menjaga setia dengan pasangan bisa ketularan, sementara dia yang setia sana sini melenggang dengan bebasnya.

“Sekarang pasti ngga Sas, kan aku sudah janji untuk berubah,” katanya pelan, tidak melayani sindiranku.

Aku jadi teringat akan hari itu. Hari dimana aku memandang rendah keadaannya, dan merasa lebih suci darinya. Kini, apa bedanya aku dan dia? Selain menjadi sama-sama pendosa, bukan karena ketidaksucian, tapi dosa kesombongan.

Dan Bagus, menerima semua kesombonganku sebagai sesuatu yang harus ia jalani.

“Gus, sekarang…terserah kamu deh…mau diterusin..atau ngga. Kamu tau penyakitku, kamu ngga bisa ngapa-ngapain dengan aku. Maksudnya…” aku buru-buru melanjutkan karena ia mulai tertawa, “hubungan kita ngga akan kemana-mana. Kalaupun kita menikah, aku ngga boleh berhubungan badan denganmu. Kalau tidak, aku akan menularkan penyakit yang sama untukmu…seperti yang Mas Ary lakukan padaku.” Mengucapkan itu rasanya pahit juga.

Bagus tersenyum. “Sudah aku bilang kan, aku mau berubah. Saat ketemu kamu, aku merasa Tuhan memberikan kesempatan untukku sekali lagi, untuk menjalin hubungan serius dengan jodohku. Dan jika hukumanku adalah tidak bisa berhubungan dengan istriku sendiri…aku lakukan.”

Aku menatap wajahnya. Ada keseriusan di sana.

“Yakin, Gus? Kamu kan sex active begitu. Mending ngomong aja sekarang dan kita putus. Daripada kita menikah, dan kamu malah selingkuh sama yang lain karena tak pernah aku puaskan, itu lebih bikin sakit hati. Sudah, lepaskan aja hubungan kita, biar sama-sama enak,” kataku tercekat.

Bagus, lagi-lagi tersenyum. “Aku maunya sama kamu. Pingin nemenin kamu, supaya semangat lagi. Buat aku sendiri, nanti kamu kuajari deh, cara yang aman untuk memuaskan kita berdua.”

Aku tersipu mendengarnya. Ah, dasar player sialan! Tapi tak urung aku tersenyum.

“Jadi, kapan kita menikah?” katanya mengagetkan.

“Jiah Bagus, jangan buru-buru deh. Biarkan aku berpikir dulu apa yang sebaiknya aku lakukan. Berdamai dengan penyakitku. Berusaha memahami kam…”

Kalimatku terhenti. Rasa hangat mengalir di bibir. Bagus melepaskan kecupannya, sambil tersenyum memandangku.

“Kamu…nanti ketularan!” kataku panik.

Ia tertawa. “Banyak belajar ya Bu, biar ngga kudet,” katanya sambil tertawa. Aku meninju lengannya, ia tertawa sambil memelukku.

Memeluk?

Sampai dimana tadi peraturan dilarang menyentuhku?

***

IndriHapsari

Selamat Hari Kasih Sayang 🙂

Advertisements