Makan Apa di Bali (3)

Buat sweet escape kami kali ini…. (cieee cieee :D)

image

Me and mine

…perjalanan singkat saja, dan aslinya bingung mau kemana dan ngapain. Habis anak-anak ngga dibawa, mau kemana coba. Tapi untunglah manusia perlu makan, jadi kelilingannya ya nyariin makanan (gembul gembul dah :D)

image

Quest San Denpasar

Pertama nyari hotelnya yang ada breakfastnya, dengan harga yang terjangkau. Nah kita nginepnya di Quest, yang meskipun harganya affordable, penataannya lebih nguwongke dengan layout yang ngga asal kotak dan minimalis abis. Makanannya pun lumayan loh, main course campuran Indonesia dan western, aneka roti, omelette, bubur ayam, salad buah dan sayur, jus buah, teh dan kopi. Lalu makannya sambil ngeliatin kolam renang yang cantik ini.

image

Pabrik Krupuk Rejeki

Tempat yang kami incar adalah pabrik kerupuk kulit babi Rejeki. Ini krupuk paling happening dah di Surabaya. Suami saya sampe ditanyain apa dia mau jualan lagi, karena tiap beli pasti banyak, dan percaya deh..cuma perlu waktu beberapa hari untuk menghabiskannya. Kayanya hampir semua krupuk kulit babi di Surabaya pernah kami coba, dan yang paling hauce ini yang merk Rejeki dari Tabanan. Rasanya gurih, renyah, dan kandungan lemak di bawah kulit yang disebut samcam, beneran bikin nagih.

Nyari di internet alamat pabriknya asli susah, karena kebanyakan ngejual online. Tapi saya yakin dan percaya (tsah!) kalau pabriknya ada, somewhere, di Tabanan. Soalnya dulu waktu perjalanan ke Gilimanuk, pernah liat plangnya di tepi jalan.

Untunglah ketemu web pesonanegeri.com, dan salah satunya memuat kunjungan ke pabrik Rejeki ini. Dengan bantuan Google Map, jadi juga kami kesana, di daerah Bypass Kediri. Langsung ke area produksi, ni pabrik isinya motor, mesin jahit, dan sudut pengemasan krupuk. Serius, suasananya ngga kaya di pabrik kerupuk. Ada satu etalase yang menampilkn snack lainnya, namun tentu dong pilihan kami tumpukan krupuk kulit yang memenuhi kontainer-kontainer, siap dikirim. Ada 3 macam, selain krupuk kulit sancam, juga ada krupuk kulit dan gorengan lemak. Hooo..kolestrol semua 😀 Tapi tetap borong dong, karena harganya beda ribuan hingga puluhan ribu dengan yang di Surabaya.

Selanjutnya memuaskan rasa penasaran, karena dulu sempat ngga berhasil, Naughty Nuri’s di Kerobokan. Sudah ganti nama jadi Hog Wild, tetap saja ramenya minta ampun kalau malam. Mau putar balik juga ngga bisa karena jalanan sempit dan ramai. Karena itu kami berubut nyampe jam 10 pagi, yang ternyataaa….baru buka jam 11 katanya. Disaranin untuk liat-liat toko sebelah, ya ampun isinya babi-babi cute semua. Tapi saya cepet keluar, soalnya ngga ada yang jaga, ntar saya dikira mbaknya nanti 😀

image

Pitaya Yoghurt

Ngga mau nganggur, kami mampir di kedai yoghurt di depan Hog Wild. Namanya Pitaya, dan kedai ini manis sekali buat nengkri cantik. Ada beberapa menu, tapi yang menarik tentu self service yoghurtnya. Ada empat rasa, ori, banana, promegranade dan coconut, trus free tester pula. Akhirnya saya pilih yang banana, rasa pisangnya samar banget, dan tekstur yoghurtnya seperti yoghurt yang di mall-mall itu. Habis ngisi cup dengan yoghurt, berikutnya adalah memilih topping dan menaburkannya sendiri. Toppingnya juga beragam, manis juga penataannya. Lalu tibalah saat pembayaran…eng ing eng…ternyata yoghurt ini dihargai dengan cara ditimbang, per 100 gramnya harganya 26 ribu. Isi cup saya yang ngga penuh, pakai topping choco chip dan strawberry, kenanya 54 ribu.

Akhirnya tiba saat Hog Wild buka. Restonya agak terbuka gitu, penataannya unik pas buat santai dan penuh dengan bir. Dari mbaknya yang ramah dan fun itu, kami pesan pork ribs dan gourmet chorizo. Awalnya kami diberi pisau dan garpu, lalu ember kecil seperti canang, yang ternyata adalah tempat sampah untuk buang ribsnya.

image

Hog Wild (d/h Naughty Nuri's)

Pork ribs yang datang cukup besar, lebih besar dari yang kami makan di Makan Apa di Bali (2). Dagingnya mudah terlepas dari tulangnya, bumbunya meresap, rasanya agak manis gitu. Kalau masih kurang bisa tambah  saus BBQ yang tersedia di meja. Karena pork ribs ini stand alone, akhirnya kami padukan dengan kentang yang masih ada kulitnya. Gourmet chorizo adalah sosis bikinan sendiri, jadi kelihatan serpihan dagingnya. Rasanya gurih, agak spicy. Pelengkapnya yang ngga gitu menarik. Tapi ya makan-makan gini saya jadi inget satu hal…nasi. Beneran deh, yang kebayang adalah sepiring nasi hangat, trus saya cuilin pork ribs atau sosisnya, makan pakai tangan. Wuah…biarin aja dibilang local people makannya gitu amat, soalnya bumbunya berasa Indonesia banget. Trus minumnya teh manis hangat..hehehe. Kalau bule-bule makan disini, mereka habis loh satu ribs gede sambil diseling minum bir.

Last minute, kami seperti para turis lainnya, memenuhi toko oleh-oleh Khrisna di jalan Tuban. Lokasi ini dipilih karena paling dekat bandara, buka 24 jam, dan ada Khrisna Kuliner, divisi baru yang selalu ada di setiap toko Khrisna. Tau aja, abis belanja biasanya lapar 😀

image

Ayam Betutu

Setelah dikomporin driver kami kalau ayam betutu Men Tempeh paling enak, kami coba deh. Selama ini saya sudah coba yang Gilimanuk, barengan babi guling yang terkenal (lihat Makan Apa di Bali), barengan bebek yang terkenal, dan warung Khrisna yang di Singaraja. Saat datang, ayam pedas berkuah itu dilengkapi dengan nasi putih dan sepiring kecambah, kangkung, kacang dan sambal matah. Rasanya ya pedes gitu deh, dengan daging ayam kampung yang gurih dan empuk, gampang lepas dari tulangnya. Ayamnya dapat setengah ekor, total harganya sekitar 50an ribu. Minumnya Detox Juice, biasaaa…karena feeling guilty makanannya lemak semua 😀 Isinya lime, yoghurt, brokoli sama entah apalagi.

image

pod, everything is chocolate!

Pas nunggu di bandara yang ruame sama orang pulang liburan, kami nongkrong di pod. pod ini cafe coklat, semua tentang coklat. Dulu pernah nyoba hot chocolatenya yang emang coklat banget. Kali ini pesan choco in a stick, jadi susu panas yang dicelupin permen coklat pake stick, diaduk-aduk supaya coklatnya mencair. Hmm…nice trick. Kagum juga sama jajaran dark and milk chocolate batangan, ada dalam dua ukuran, kecil dan besar. Dark choconya ada yang sampai 80% loh kandungan cocoanya. Dan asyiknya lagi, free tester! Tapi ya gitu..yang dicobain belum tentu yang dibeli 😀 Di depan kasir ada coklat aneka rasa, lalu di kanannya ada buku Willy Wonka yang di Charlie and the Chocolate Factory, sama beberapa souvenir dan kompor listrik buat nyairin coklat.

Happy Chocolate everyone! 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements