Beda Nonton Bioskop Dulu dan Sekarang

image

Pamer karcis bioskop

Meskipun jaman sekarang film bisa ditonton dimana saja, sesekali pergi ke bioskop itu wajib hukumnya. Ngantri tiketnya, waktu menunggunya, berada di kanan kiri orang yang untung aja sampai saat ini ngga rese, sama emosi yang dinikmati bersama saat melihat film pada layar lebar di depan mata, berikut suara yang berada di sekeliling kita.

Ngga disangka, pengalaman saya nonton film sudah puluhan tahun. Kebiasaan nonton ini memang dipupuk oleh orang tua saya, terutama Bapak, yang selalu membawa anak-anaknya nonton film yang Bapak sukai, Warkop DKI dan 007 😀 Kebiasaan yang saya bawa sampai sekarang. Nonton film James Bond itu harus, meski pemainnya sudah bukan Roger Moore. Menanti film Warkop DKI diputar pas liburan Lebaran, juga jadi pengingat kenangan di masa lalu. Jaman itu sebenarnya sudah ada kaset video, sebagai tombo kangen nonton film. Tapi tahulah dulu kan kecepatan pembajakan ngga secepat sekarang #eh jadi filmnya lebih jadul lagi dan kebanyakan serial silat.

Sekarang dengerin nenek cerita ya (kan007nya jadul banget tuh :P) apa bedanya bioskop jaman dulu dan sekarang.

Bioskopnya hanya terdiri dari satu studio. Jadi yang diputar yang film itu ituuu aja. Posternya dipasang gede di depan bioskop, siapapun yang lewat pasti bisa lihat. Tempat parkirnya cuma muat buat beberapa mobil, motor jarang. Kami malah dulu naik becak berempat, biasanya  nontonnya malam karena memang bioskop baru buka habis maghrib. Pertunjukannya cuma sekali, dan masa tayang film biasanya seminggu.

Loketnya cuma satu, dan ngga bisa milih tempat duduk. Bayangin duduk dimana aja ngga tahu. Karcisnya dirobek, bayar pakai tunai, dan antriannya sampe ke trotoar karena letak loketnya memang menghadap jalan. Semakin dekat dengan jam pemutaran film, makin dekat kita dengan layar. Jangan salah, pas bioskop sudah makin modern, saya pernah dapat baris kedua dari layar. Beugh…itu mah nyiksa mata beneran 😀

Habis beli tiket, biasanya sudah bisa masuk tuh. Ada petugas di pintu yang meriksa karcis kita. Bukan mbak-mbak cantik pakai seragam yang menyambut kita, tapi bapak-bapak berkumis, lebih mirip preman untuk ngusir penonton yang ngga berkarcis 😀 Lalu karena ruangan bioskop masih terang, kita cari nomornya sendiri. Satu yang saya lupa, nomor kursinya dulu terletak dimana ya? Kalau sekarang kan terpatri di kursinya, di ujung sandaran dan di sisi samping kursi.

Makanan bebas bawa apa aja, beli dari warung di samping, atau bawa dari rumah. Kalau sekarang sih harus beli popcorn dengan harga mihil itu ya, pakai diperiksa lagi bawa bekal ngga. Dulu mah cuek aja. Bapak malah biasa nyuapin bulatan permen coklat ke saya, biar anteng pas nonton. Minum ya bawa dari rumah, teh manis biasanya. Jaman dulu beli soft drink itu kemewahan tersendiri dan ngga lazim.

Lalu lampu mulai dimatikan. Awalnya diputar iklan, biasanya rokok. Kalau sekarang cuplikan film selanjutnya ya. Biasanya saya menoleh ke belakang, tempat sinar yang mengeluarkan gambar di layar itu keluar dari kotak kecil. Masih tersimpan rasa kagum saya, kok bisa ya dari jendela kecil itu muncul gambar besar yang bisa bergerak. Trus sebal kalau di tengah-tengah film, tiba-tiba ada penonton yang berdiri dan melewati jendela kecil itu. Huaduh, kan jadi ada bayangan gede di layar. Pada jaman itu nonton film juga ngga bisa full terus, pasti kepotong di tengah, dan penonton semua bersabar menunggu. Sepertinya pita filmnya ngga sepanjang filmnya, jadi habis dan mesti disambung dengan pita kedua.

Kalau dipikir-pikir ya, orang tua jaman dulu ngga ribet amat waktu mengajak anaknya nonton. Tuh Warkop DKI sama 007, apanya ngga 17 tahun ke atas. Tapi memang adegannya paha dan dada doang, jarang ciuman bibir, apalagi ML yang diumbar. Kalaupun ada, Bapak segera menutup mata saya dengan tangannya, dan saya akan bersabar menunggu sampai boleh lihat lagi. Kalau sekarang, sebelum nonton saya sudah sibuk cari di kids-in-mind.com, berapa level sex and nudity, violence and gore, dan profanitynya. Tambah lagi ngecek ke Wikipedia, berapa sih rating Rotten Tomatoesnya? Hidup kayanya ngga sesimple dulu deh, termasuk dalam menonton di bioskop 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements