Inside Out: Kenali Pikiran Anda

image

Insideout-games

Pemandangan miris waktu sedang menunggu masuk studio adalah, melihat seorang anak, halah paling sd atau smp, dikejar oleh dua anak lainnya, karena si anak pertama misuhi (memaki) salah satu dari anak yang mengejar. Begitu dekat, mulai deh yang ngejar dorong yang misuhi tadi, yang untungnya cuma cengengesan.

Mau jadi apa generasi ini, kalau lagaknya sudah seperti preman semua?

Maka mulai menontonlah saya dengan sedih, di tengah pengunjung yang seimbang antara anak dan orang tua. Studio penuh dan berisik, baru diam setelah film pendek Lava mulai diputar. Setelah itu baru dilanjut film Inside Out, yang diulas positif oleh Kompas dan Tempo.

Untunglah filmnya sangat menarik, sehingga saya sejenak melupakan urusan preman cilik tadi. Diproduksi oleh Pixar dan Disney, film ini kurang istimewa dari segi animasi, namun ide dan eksekusinya sempurna, karena efektif menyasar anak-anak dan orang tua.

Buat orang tua tepat karena memperlihatkan bagaimana proses berpikir itu berjalan. Lalu menggambarkan gimana perkembangan emosional anak. Buat anak-anak fun banget, mereka ngga cuma ketawa, tapi ikut haru saat beberapa adegan mengharukan muncul. Hal itu ketauan dari heningnya penonton wakti adegan-adegan sedih muncul. Selain itu merek juga bisa lihat, kedekatan dengan orang tua menjadikan masalah terasa lebih ringan.

Idenya memang segar. Sebenarnya sudah muncul sejak 2009, namun konon produsernya sampai bongkar pasang 5 kali, demi hasil yang lebih sempurna. Kisahnya sederhana saja, seorang anak perempuan, Riley, mulai bayi hingga 11 tahun, selalu ditemani perasaan-perasaan istimewa dalam dirinya. Ada Joy, Sadness, Fear, Disgust dan Anger. Seperti namanya, mereka juga mewakili tiap rasa yang dimiliki Riley. Dubbing yang dilakukan para aktor juga membantu pencipataan karakter setiap perasaan itu.

Masalah muncul ketika dua perasaan, Joy dan Sadness, terserap mesin hisap, dan mengeluarkan mereka dari ruang kendali perasaan. Kisah ini banyak diwarnai bagaimana mereka berusaha kembali ke markas, dengan seluruh suka dukanya. Lucu rasanya melihat berbagai perasaan negatif saling menguasai Riley.

Yang mengejutkan dari cerita ini, ada pesan bahwa kenangan termanis itu bukan hanya yang baik-baik saja, tapi juga bisa mengandung unsur kesedihan. Joy yang sangat optimis dan dominan, di akhir cerita menyadarinya, kebutuhan perasaan lain itu penting, termasuk kesedihan. Soal imajinasi dan kreatifitas, jangan ditanya, seperti yang saya bilang tadi, film ini adalah sesuatu yang baru sehingga filmnya segar. Kejutan lain adalah pada akhir cerita, lebih baik jangan keluar dulu untuk kenal dengan perasaan-perasaan tokoh-tokoh disana.

Apakah efeknya bagi anak-anak baik?

Yah, setidaknya anak-anak yang saling nantang-nantangan itu sudah tidak saya temui lagi. Lalu ketika si bungsu maksa mau pakai trolly belanja, sedang saya memilih pakai keranjang biasa, dia marah. Dengan segera saya bilang, ‘Nah…ini Anger nih!’ dia menggantinya dengan tawa, dan mengembalikan trolly yang sudah diambilnya.

image

***
IndriHapsari

Advertisements