Monas : Wajah Ramah Jakarta

Ke Monas ini mungkin bisa dibilang sudah dua setengah kali. Yang pertama duluuu pas kecil, rame-rame sama semua sepupu ke Monas, sampai sana liat diorama, trus…gelar tikar buka bekal dan makan. Yah agak-agak piknik gitu 😀

Yang kedua, maunya ke Monas pas hari Minggu, eh jalanan pada ditutup, termasuk gerbangnya. Konon ada tabligh akbar disana. Kita coba masuk lewat Stasiun Gambir, tetap ngga bisa. Tapi kan sudah sampai sana, sudah lihat ada menara dengan kobaran api emasnya. Anggep setengah deh…

Terakhir kali, ya bulan Juni ini. Dibelain loh itu, setelah gagal sekian kali. Untung saja Jakarta sepi di Minggu pagi, karena mungkin puasa yah, jalanan lancar. Sampai sana melihat delman yang cantik banget dihias, bisa keliling komplek Monas. Lalu ada ondel-ondel jalan-jalan, sempat bikin Rey ketakutan 😀

Masuk Monas sekarang mesti melalui jalan berliku para pedagang. Tapi enak sih, jadi tertib dan meski barang yang dijual sama, persaingannya ngga kasar. Kaos khas Monas bisa didapat dengan 15 ribu rupiah saja. Juga ada gantungan kunci, topi, apapun deh. Ada juga toilet yang nampaknya baru dibangun.Sepanjang koridor dari tempat parkir ke komplek Monas itu dilindungi dengan kanopi.

image

Komplek Monas

Pas melangkah ke gerbang komplek Monas, nampak orang tertib mengantri. Oh ternyata ada kereta kelinci yang nanti nganterin kita ke lokasi. Para penumpang juga tertib, ada tempat turun dan naik. Sopirnya selain tegas, juga sempat meninggalkan kita menunggu di kereta. Ngga ada yang protes, soalnya si sopir nganterin penumpang terdahulu yang lapor dompetnya ilang pas di kereta. Sopirnya ingat siapa yang menemukan, terus dianterin dah ke pasar di dalam untuk nyari yang nemu. Cerita ini didapat dari bapak-bapak yang kayanya stay di posisi ngantri, cerita dengan ramah kesana kemari kronologi kejadiannya, dan menawarkan gimana kalau dia yang nyetirin. Langsung ditolak sama para penumpang 😀

Untunglah ketemu, dan pak sopir bisa balik, karena kereta kelinci yang lain sudah menunggu. Sampai di sebrang Monas dibilangin, nanti tiket masuk Monasnya jangan dibuang, supaya bisa balik naik kereta lagi. Oooh..jadi itu caranya biar orang mau masuk Monas, smart idea 🙂

Untuk masuk Monas kita mesti turun, dan beli karcis di bawah. Ada 2 bagian, cawan dan puncak. Buat anak-anak ongkos masuk 4 ribu, buat dewasa 15 ribu, sudah lengkap bisa naik ke dua-duanya. Trus kita lewat túnnel atau terowongan bawah tanah, menuju ke Monas itu. Wiih, keren ya! Monas ini dibangun tahun1961 pas jamannya Presiden Soekarno loh, jauh sebelum terowongan yang menghubungkan antar mall Singapura dibangun.

Di Monasnya, bagian bawah ada Museum Sejarah Nasional Indonesia. Sayang suasananya gelap, jadi agak menebak-nebak ini diorama apa. Padahal dioramanya bagus, keterangannya jelas dan lengkap dalam bahasa Indonesia dan Inggris, lalu area museum ini luas dan bersih. Lihat aja, saking betahnya pada geletakan (dan tentu saja sampai tiduran) di sini. Seharusnya semua orang Indonesia bisa melihat museum ini, disini nih letak sejarah diceritakan, biar belajar dari pengalaman masa lalu.

image

Museum Nasional Indonesia

Tadinya mau naik ke puncak, tapi duileee…ngantrinya. Ya sudah foto-foto aja di luar, di relief sejarah Indonesia yang berada di bagian kiri dan kanan Monas. Habis itu keluar lagi lewat terowongan, pas kereta kelincinya datang. Karcis kita dicek, lalu balik dah ke parkir mobil.

Kenapa judulnya pake kata ramah? Karena di balik bangunan Monas yang tinggi menjulang, membuat orang harus menengadah dan mengagumi keindahannya, monumen ini seperti menyambut para pendatang bahwa mereka sudah sampai di Jakarta. Lalu penanganannya baik, petugasnya juga ramah dan rajin ngebilangin pengunjung, dan terutama melihat para pengunjung yang geletakan di museum, ok, ini memang bukan tempatnya. Tapi mungkin di Indonesia, beginilah seharusnya museum ini menempatkan diri. Menjadi oase bagi seluruh pengunjungnya, sehingga orang merasa feeling home dari semua kepenatan yang menerpa.

***
IndriHapsari

Advertisements