Museum Bahari: Tempat Belanda Mengatur Lalu Lintas Rempah-rempah

Berkunjung ke tempat ini awalnya hanya untuk mendekati PRJ Kemayoran. Daripada masuk PRJ siang-siang, mending dimanfaatkan masuk bangunan Museum Bahari. Kalau dari gambarnya sih kaya Lawang Sewu di Semarang.

image

Masuk Museum Bahari

Ternyata bangunannya misah dari tempat loket berada. Dewasa 5000 ongkos masuknya, anak-anak 2000. Kalau masuk museum gini mending nyewa guide deh, supaya bisa tau lebih detil dan tanya-tanya. Ongkos guidenya sendiri 35000, kita ditemani Pak Maruli.  Ternyata Beliau juga bisa arrange tour wisata kota tua Jakarta, Pulau Onrust dan museum-museum. Penjelasannya detil banget, sampe ke tahun-tahun apal.

Niatnya ngadem, malah kita keluar jalan dikit ke jalan Pasar Ikan. Ternyata kompleknya terbelah oleh jejeran toko-toko kecil jual alat-alat pancing, yang sudah ada sejak tahun 1950. Museumnya sendiri sudah berdiri sejak diresmikan tahun 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin. Kalau Belanda mendirikannya tahun 1625. Komplek bangunan yang ada sekarang kelihatannya hanya kurang dari 1/4 komplek bangunan sesungguhnya. Fungsinya untuk menampung rempah-rempah yang datang dari seluruh Indonesia (pedih mengingatnya…), dikeringkan, lalu dikirim ke Belanda. Butuh waktu 9 bulan untuk nyampe sana. Kayu-kayunya gede-gede dan terlihat kokoh. Lantainya sebagian masih asli, terbuat dari batu Kali Ciliwung. Wuah hebat ya pake tatahan manual aja bisa rata dan rapi gitu kerjanya. Jendela besar-besar nampak pendek, sampai si kecil bilang kok kaya penjara. Ternyata lantainya sudah dinaekin 1 meteran, sehingga jendela sepertu pintu dan plafon semakin pendek. Oya untung aja kami berkunjung pas ngga banjir, soalnya museum ini sudah sering kena banjir, maklum daerah Jakarta Utara, meski kata guidenya cuma 60 cm sementara daerah sekelilingnya sampai meteran.

image

Koleksi Museum Bahari

Sekarang tempat ini difungsikan sebagai tempat menyimpan kapal-kapal Indonesia dan manca negara yang tradisional, ada yang asli dan ada yang replika. Yang asli kebanyakan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kayunya.. wooow…kuat banget meski kena air laut, pun hanya dipajang seperti ini masih nampak kokoh. Yang perahu khas Irian didayung sendiri ke Jakarta sampe 3 bulan! Lalu ada areanya TNI AL dengan replika KRI Dewa Ruci dan kapal perang lainnya. Kebayang dong masukin kapal-kapal gede itu ke dalam museum, ternyata semua datangnya dari Pelabuhan Sunda Kelapa, yang ada di samping museum ini, tapi sekarang ketutup banyak toko itu.

Selain kapal, lantai dua berisi banyak manekin. Ada manekin Davy Jones dengan kapal terkutuknya. Oleh seniman dari Yogya dibikin film yang otomatis berputar, kalau kita berdiri di depannya. Nah lo, kalau ngga pake guide ngga tau tuh. Ada area legenda bahari, termasuk Malin Kundang ada di dalamnya. Lalu manekin pahlawan bahari Indonesia, pejabat yang keluar masuk ke Indonesia, pedagang lintas lautan, dokter dan penyebar agama.

image

Menara syahbandar

Kembali lagi ke parkiran, kami kemudian menaiki Menara Syahbandar. Tangganya dari kayu, masih kuat untuk dipijak, bangunannya juga terawat. Konon bangunan ini dulu jadi bangunan paling tinggi di Batavia, dan berada di titik nol. Sekarang titik nolnya ada di Monas. Pas nyampe di hampir ketinggian 18 meter, wow..pemandangannya keren! Dari jauh kelihatan Pelabuhan Sunda Kelapa begitu dekat ternyata dengan kompleks Museum Bahari, dengan banyak kapal besar sedang berjejer. Lalu di sisi yang lain ada Kali Ciliwung, yang dulu dipakai untuk mengantarkan batu dari Puncak. Ada gudang VOC di sisi sungai, entah sekarang difungsikan sebagai apa. 

Buat yang suja narsis, antar area bangunan pas banget buat foto-foto, terlihat oldies dan terawat 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements