Antara Penerbit Mayor, Indie dan Self Publishing

image

The Deep Web, Girls Talk, Matahari Terbit di Barat

Ngga sedikit yang tanya, bagaimana cara menerbitkan buku sejak ‘menetasnya’ buku-buku saya. Sebenarnya kegalauan saya dulu yang lebih mendasar adalah: cara penerbitan apa yang akan saya gunakan.

Kalau dalam pemahaman saya, ada tiga tipe penerbitan, yang mayor, indie dan self publishing alias menerbitkan sendiri. Semua punya kelebihan dan kelemahan, semoga penjelasan ini bisa memberikan gambaran.

image

Melalui penerbit mayor, numpang tersohor 🙂

Penerbit mayor dimiliki oleh perusahaan penerbitan besar, punya nama dan modal cukup yang membuat para penulis berbondong-bondong mengirimkan naskahnya. Bukunya pasti berISBN.  Pegawainya saja punya spesialisasi sendiri-sendiri. Ada yang menata letak, desainer, editor, marketing, produksi, distribusi, promosi, semua saling mendukung untuk membuat sebuah buku layak terbit, layak tayang di toko buku, dan layak jual. Selain penulis cuma setor isi, mengenai pemolesan dan percetakan diserahkan semua ke penerbit mayor, faktor ‘mejeng di toko buku’ juga jadi daya tarik utama. Dicetak ribuan eksemplar, supaya bisa mengisi puluhan toko buku dalam jaringannya, boleh muncul di jaringan toko buku lain karena ada divisi distribusi yang dipercaya kehandalannya, plus tayang di website toko buku online. Belum lagi karena sekarang masanya buku digital, penerbit akan mendaftarkan versi digitalnya ke website buku digital. Heaven 🙂

image

Masuk website toko buku

Kelemahannya adalah, waktu tunggunya lama. Itupun kalau naskah yang kita kirim ditanggapi ya, biasanya sih karena disetujui. Kalau dicuekin biasanya ya memang ngga tertarik merekanya. Biasanya mereka janji dalam waktu 3 bulan akan menanggapi, tapi menurut saya itu buat naskah yang di persimpangan, entah disetujui entah ditolak. Karena kalau naskahnya benar-benar outstanding, langsung ada email mau menerbitkan kok, cuma dalam hitungan minggu. Bayangkan yang masuk ke redaksi ada puluhan naskah setiap hari, setiap naskah ratusan halaman, apa ngga pusing bagi waktunya?

image

Masuk ke toko buku online

Kalaupun lolos dari seleksi, maka waktu yang lebih lama lagi akan dihadapi. Tapi untuk kali ini rasanya rela ya, soalnya sudah ada kepastian diterima. Ada proses editing, bolak balik pengecekan, penataan layout plus dihias-hias gitu biar makin cantik, lalu penerbit juga harua berhadapan dengan timing, kapan waktu yang tepat untuk menerbitkan buku. Selain itu jadi penulis jaman sekarang ngga bisa duduk manis di belakang meja menanti bukunya laris terjual. Lihat aja kalau di toko buku, begitu banyak buku yang ingin menarik perhatian para pengunjung. Kalau mengandalkan pajangan di toko saja agak susah, kecuali kalau sudah dinanti seperti Harry Potter karena sudah terkenal, atau direview bagus di koran dan media popular. Penerbit juga berhadapan dengan minat membaca buku yang kecil di Indonesia, jadi harus menempuh berbagai cara supaya laris dagangannya.

image

Mengenai royalti, jangan dibanding-bandingin ya sama JK Rowling yang sekarang jadi kaya. Sudah menerbitkan tanpa modal, maka royaltinya tentu ngga besar. Penerbit juga harus berhadapan dengan kejadian: ngga semua buku laris. Nah gimana menjaga bisnis tetap jalan, tentu subsidi silang biar bisa terus mencetak buku-buku baru. Menerbitkan buku buat orang baru seperti saya akhirnya menjadi penghasilan tambahan, tapi terutama adalah memperkenalkan eksistensi karya dalam penerbitan nasional. Semoga bukunya bisa berguna bagi yang membutuhkan, menginspirasi rekan lain supaya ikutan nulis juga, meningkatkan minat baca, dan meramaikan perbukuan nasional.

image

Matahari Terbit di Barat

Kalau maunya cepat terbit, maka penerbit indie dan self publishing (SP) jadi pilihan. Naskah pasti diterima, karena ngga ada seleksi kecuali sudah dinyatakan sebelumnya, tidak boleh bahas SARA. Untuk penerbit indie ada jasa layouter, designer cover buku dan editor juga, namun mereka bekerjanya ada biayanya. Demikian pula mau cetak berapa juga tergantung modal yang kita punya. ISBNpun dikenai biaya, sebagai ongkos jasa.

image

The Deep Web

Kualitas jilid yang sering menjadi masalah di penerbitan indie dan self publishing, entah apa karena belum tahu teknologinya, atau demi menawarkan harga murah. Editingnya juga tidak seketat penerbit mayor, dan yang jadi masalah utama adalah distribusi. Mereka mempromosikan buku yang mereka cetak di websitenya, Twitternya, dan akun media sosial lain. Jadi buku belum berwujud nyata, karena yang cetak tadi sudah dikirim ke penulis. Padahal yang masuk ke websitenya adalah orang-orang yang ingin mencetak juga karena mereka adalah penulis, dan bukan mereka yang ingin mencari buku untuk dibaca. Demikian juga dengan yang follow akun media sosialnya, kebanyakan ya penulis juga. Di Indonesia memang masih buku fisik yang utama penjualannya, kalau digital berharapnya dapat gratisan 🙂

Masalah kedua adalah soal royalti. Ada yang royaltinya sama dengan penerbit mayor, ada yang lebih besar. Apapun itu, proporsi untuk penerbitnya lebih besar. Jadi penerbit indie baru mencetak jika sudah ada modal dari pembeli, lalu dia sendiri dapat untung, dan sebagian lainnya diserahkan ke penulis. Dalam hal ini penulis hanya mengeluarkan uang saat mencetak, atau saat ambil paket penerbitan. Buku yang didapatkan kemudian dijual langsung oleh penulis, ngga usah mikir royalti karena modal cetak dan keuntungan semua untuk penulis. Kalau mau dapat banyak, ya cara pemasaran mesti kreatif dan tahan malu 🙂 Kadang penulis kan maunya nulis aja di belakang..eh, atas meja dan gengsi untuk memasarkan. Nah penerbit mayor yang distribusinya kemana-mana saja mendorong penulisnya untuk memasarkan, apalagi yang diterbitkan indie begini, yang hanya mengandalkan internet.

Meski harus keluar uang, royalti sedikit dan promo terbatas, penerbit indie tetap jadi incaran. Kalau melihat website penerbit indie yang terkenal, mereka memajang buku-buku yang diterbitkan mereka yang kemudian dilirik penerbit mayor atau malah jadi film. Jadi dengan penerbit indie semua beres, dan membantu penulis agar bukunya bisa dan layak terbit.

image

The Deep Web

Alternatif lainnya adalah self publishing (SP). Sama seperti indie, naskahnya tidak diseleksi, mau pakai jasa layouter, editor atau designer juga boleh, dengan biaya tertentu. Kalau mau paket hemat, ya lakukan saja semua sendiri. Editingnya mesti sabar, karena memeriksa tulisan sendiri itu penulis cenderung seenaknya. Layout ya download aja template dari website penerbit indie, meski hasilnya ngga sesempurna hasil cetakan penerbit mayor. Cover buku bisa dibuat di banyak website khusus desain, tinggal mengumpulkan gambar atau foto yang cocok, sekaligus memperhatikan biasanya cover buku-buku itu layoutnya gimana sih.

image

Matahari Terbit di Barat

Penerbit SP ini intinya adalah mencetakkan buku, bukan menerbitkan. Meski ada juga yang ngurusin ISBN, tapi bentuknya hanya jasa, bukan ikatan. Jadi setelah itu mau cetak di percetakan lain juga bisa. Semua buku dikirim ke kita, silakan dipasarkan sendiri dan ambil semua pemasukan sendiri. Cara yang sama jika penerbitan dilakukan oleh penerbitan indie.

image

My youngest reader 🙂 Dongengnya modern sekali dek 😀

Singkatnya kalau kirim karya ke penerbit mayor, pilih yang punya jaringan distribusi ke toko buku karena disanalah sumber pendapatan utama. Caranya cek aja di toko buku yang berbeda, yang dipajang dari penerbit apa. Kalau mau pakai penerbit indie, pilih yang kualitasnya bagus, serius menjalani bisnis, dan usaha pemasarannya sudah menunjukkan hasil. Misal ‘alumni’nya jadi terkenal, atau websitenya banyak dikunjungi. Untuk penerbit SP faktor kuncinya adalah profesionalitas dan biaya.

Semoga wawasan saya soal penerbit ini bisa menjawab pertanyaan teman-teman soal menerbitkan buku. Artikel selanjutnya akan membahas pemasaran buku digital, tunggu ya 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements