Wisata Bromo: Para Pengejar Matahari

Entah kenapa ada orang yang bela-belain melihat proses matahari terbenam dan terbit, di berbagai tempat. Buat saya yang berpikir praktis ini, dimana-mana matahari ya sama. Terbit dan tenggelamnya ya sama, mungkin suasana kali ya yang dicari, sampai ditunggu dan dinanti.

Alkisah, rombongan kami gagal melihat matahari terbenam di Pantai Papuma, Jember. Hmm..saya sendiri pernah menikmati sunset di Pantai Jimbaran, Bali. Ya…biasa aja sih, langit jadi kemerahan, lalu orange, lalu dominan biru, kemudian gelap. Kalau horison luas emang jadi keliatan semua bias warnanya.

Karena itulah kami mesti move on ke acara selanjutnya, mengejar sunrise di Bromo. Nyampe Bromo bagian bawah, tempat villa dan hotel berada aja sudah jam 2 pagi, sempat cemas bisa ngga ya ngejer sunrise. Kata masnya yang bawa hardtop, satu-satunya kendaraan yang bisa membawa pengunjung ke Penanjakan, start mulai jam 4 masih ngejer kok. Cuma sempat ganti baju sebentar, langsung berangkat lagi.

image

Guesthouse Bromo

Oya guest house kami asalnya adalah rumah penduduk, tapi sudah direnov jadi mirip cottage. Ada perapian, tempat tidur yang nyaman, sofa bed, dapur bersih, perapian, dan kamar mandi yang luas.

Lalu mengenai ganti baju, ini beneran, suhu di Bromo pas subuh aduhai dinginnya. Awal pas mau turun dari bis, cek suhu dulu di apps. Katanya 20 C. Dengan pede keluar bis dan….brrr! Ini mah 5 C! Ambil sweter dari ransel aja bikin gemletukan, rangkap dengan jaket masih terasa menusuk. Kaki sudah kedinginan, tangan mau kaku. Akibatnya baju harus tiga lapis (kaos, sweater, jaket), leher pakai pashmina, topi dengan penutup telinga, gloves winter, kaos kaki, sepatu kets, jangan lupa masker. Katanya sih buat bau belerang, ternyata berguna untuk lainnya.

Jadi waktu tempuh dari desa ke Penanjakan untuk lihat sunrise itu butuh satu setengah jam. Jalannya kelok-kelok, trus paling seru lewat padang pasir. Konturnya bukit-bukit kecil, dan kabut tidurnya nyampur dengan debu. Nah disinilah masker mulai berfungsi. Masnya parkir jauuuh dari lokasi, karena memang tepi jalan penuh dengan hardtop dan sepeda motor yang parkir, ataupun yang ingin naik ke lokasi. Pengunjung harus berjalan jauh, menanjak, gelap, dan menghirup asap knalpot. Nah disini masker berfungsi lagi.

Ngos-ngosan sungguh deh sampai atas. Suasana gelap gulita, begitu banyak orang hendak menanti sunrise. Suasana itu makin syahdu ketika melihat pasangan saling berpelukan, menyicip bir dari botol yang sama, dan merokok. Hah, plis deh, udara lagi segar-segar gini malah merokok, doesn’t make sense, apalagi nyuruh orang lain ngisep juga. Ada beberapa tempat sajen karena penduduk memang kebanyakan beragama Hindu, yang sayang banget dicoret-coret pakai tip-ex. Ada juga yang bikin tenda atau gelimpangan tidur di lantai.

image

Wisata Bromo

Akhirnya yang dinanti tiba. Para pengunjung ribut menghadap timur. Saya? Anti mainstream dong. Saya menghadap barat, tempat gunung Batok terlihat. Ini baru juara, gunungnya seperti muncul pelan-pelan dari kabut yang makin lama ke bawah. Sibuk difotoin, terutama tentu jemaat pengguna tongsis. Wah heboh bener deh, sampe  naik-naik pagar. You see that’s why korban kaya mahasiswa yang jatuh di Merapi itu ada, sibuk selfie sampai ngga memperhatikan keselamatan diri sendiri.

Pengunjung cepat sekali hilang. Cukup banyak turis bule berkeliaran, kalau Asia ngga lah, sama aja kali di negaranya. Turis domestik banyak nongkrong di warung yang jual cup noodle sama gorengan. Harga gorengan sama satu kali pipis sama, tiga ribu rupiah. Disana saya jadi pelanggan setia toilet 🙂

Habis itu semua ke Kawah Gunung Bromo. Matahari mulai garang menunjukkan sinarnya, tapi tetap dingin. Cuma sekarang pashmina dan gloves ngga dipakai. Hardtop kami berhenti jauuuh dari tangga pertama Kawah Bromo, untuk kemudian disambut para penunggang kuda yang menawarkan jasanya. Dari kejauhan ada pura Bromo.yang cukup besar.

Saya ngga ikut ke kawahnya, karena mikir modelnya kaya wisata lumpur Tanggulangin gitu. Tapi tetap menuju kawah. Tujuannya? Toilet dong 😀 Sudah dibilangin hawanya memang bikin beser 😛 Toiletnya terletak jauuuh di dekat tangga naik ke kawah. Airnya dingin dan lagi-lagi berbayar. Sepanjang perjalanan kami diikuti pemilik kuda dan kudanya tentu, menawarkan jasa untuk menggunakan kudanya sampai bawah tangga. Medannya pasir, bercampur kotoran kuda. Selain mesti melangkah dengan hati-hati, terkadang aroma kotoran kuda juga menerpa, tak perlu dijelaskan juga soal debu.

Memilih nongkrong di warung (tentu harus membeli dagangannya) akhirnya malah lihat kejadian kuda ngamuk dan menjatuhkan penunggangnya hingga terduduk cukup lama di pasir. Pemiliknya bingung antara nolongin orangnya atau menenangkan kudanya. Lalu pedagang yang datang dan menawarkan dagangan, makin siang makin ramai. Padahal makin siang makin panas. Area sekitar benar-benar gersang, vegetasi tidak dapat tumbuh karena kawah masih aktif dan membuat tanaman ogah tumbuh karena panas.

Teman-teman yang naik ke kawah menceritakan kemegahan kawah, plus kejorokan orang Indonesia melempar sampah ke kawah. Sudah diplototi para bule yang teriak ‘Rubbish! Rubbish!’ malah ketawa-ketawa. Sungguh mental yang buruk, pecinta alam yang ngga cinta alam.

image

Pasir Berbisik, Bromo

Perjalanan dilanjutkan ke area Bukit Teletubies. Terlihat dari kejauhan perbukitan hijau yang punya gundukan-gundukan kecil, di sekeliling lautan pasir. Area berikutnya bisa ditebak adalah Pasir Berbisik, yang backgroundnya adalah Gunung Batok dan Kawah Bromo. Background? Iya, disana memang spot yang bagus untuk narsis supaya eksis sambil memanfaatkan tongsis 🙂 Panas sudah menyengat, dan kami pulang ke guesthouse.

Singkat cerita, wisata Bromo ini buat siapa?

Kalau kata saya sih mumpung masih muda, sempatkan ke sana karena medannya memang bukan buat turis yang menye-menye. Mau manja gimana wong ngga ada fasilitasnya, plus ngga ada petugas yang mengatur ini itu. Pas jadi turis tentu watch your behaviour demi kelestarian lingkungan dan menjaga martabat bangsa. Malu ah kalo justru bangsa lain yang lebih peduli.  Persiapkan perlengkapan menahan dingin dan senter. Pilih tempat penginapan bisa di cottage, hotel atau guesthouse, sekalian minta cariin hardtop sebagai syarat mutlak wisata Bromo. Waktunya cukup semalam kok, jadi hari ini check in, trus acara di hotel, atau tidur saja karena praktis ngga ada apa-apa di sekitar. Jam 3 gitu bangun untuk siap-siap ke Penanjakan 1 atau 2, sampai jam 9 atau 10. Lalu mandi dan siap-siap checkout. Benernya simple sih, yang penting persiapannya.
***
IndriHapsari

Advertisements