Air Terjun Madakaripura: Sisi Religius Mahapatih Gajah Mada

Bayangkan seperti ini.

Seorang panglima perang yang tinggi besar, kerjanya menaklukkan berbagai daerah supaya menjadi satu di bawah pemerintahan Majapahit datang ke area Air Terjun Madakaripura yang melosok, remote area, dan bersemedi di sana. Seorang pemberani dengan cita-cita yang tinggi, konseptor nusantara, mengucilkan diri. Loncatan aktivitas yang ngga biasa, dan memunculkan pertanyaan ada apa di balik itu semua. Apakah Gajah Mada sadar begitu banyak darah yang ditumpahkan sehingga ia ingin menebus dosa? Atau sebaliknya, meratapi kegagalan menyatukan nusantara sehingga menghindar dari perhatian dunia? Yang pasti, Madakaripura merupakan tempat terakhir Mahapatih Gajah Mada ini terlihat, sebelum akhirnya dia menghilang. Moksa, atau lenyap jiwa dan raganya, naik ke sorga.

image

Air Terjun Madakaripura

Madakaripura sebenarnya sudah populer sebagai tempat wisata bagi orang lokal sejak dulu kala, selain wisata Kawah Bromo. Sekarang dengan adanya internet, makin banyak yang datang, dan jembatan-jembatan yang memudahkan perjalanan juga dibangun. Kalau dulu harus menelusuri sungai menuju air terjun, kalau sekarang tinggal melintasi jalan setapak, sampai di ujung tinggal menyusuri bebatuan yang cukup handal dijadikan pijakan.

image

Air Terjun Madakaripura

Soal alam, potensi wisata, ngga perlu diragukan.

Yang bikin males adalah SDMnya. Baru pertama datang sudah dikerubungi pedagang yang menjual jas hujan, sandal jepit dan kantong plastik. Kalau ngga mau digetok dengan harga mahal, bawa saja dari rumah. Kalau menggunakan kendaraan pribadi, seorang teman dan beberapa.blog yang saya baca, mengeluhkan kendaraan mereka dicuci tanpa konfirmasi, yang ujungnya meminta uang nyuci. Sudah maksa, ngga jelas juga nyucinya gimana. Kalau kesana juga wajib menggunakan guide lokal, atau akan ada banyak ‘gangguan’ selama perjalanan. Menyewa payung digetok juga, menaruh barang di loker hati-hati periksa lagi, karena ada satu blog yang mengeluhkan barang yang dititipkan diacak-acak. Semua toilet berbayar. Yang pasti saya hadapi ya diserbu pedagang, melihat mobil yang diparkir wipernya diangkat sebagai tanda telah dicuci, menggunakan toilet apa adanya, banyak jasa ini itu di dalam, dan teman diminta lagi untuk bayar jasa guide lokal, padahal EO kami telah membayarnya.

Tapi di luar ganggun itu semua, yang semoga bisa membuat persiapan Anda lebih matang, atau mengetuk hati pengelolanya untuk memperbaiki, Madakaripura memang worth to try. Airnya bening banget dan segar. Jalanannya gampang ditelusuri dan terang. Pemandangan sih jangn ditanya. Diapit tebing tinggi kehijauan, air terjun muncul beberapa dari tebing tersebut. Gongnya tentu area sekitar Gajah Mada bertapa. Air terjun terbesar, jatuh di tebing. Lalu telaga yang dalam, memisahkan tempat pertapaan Gajah Mada dan gua yang tertutup tirai air terjun. Saat melihat ke atas, lokasinya mirip sumur yang dalam.

Guide lokalpun sangat membantu. Bantuin menyebrangi bebatuan sungai untuk pengunjung yang kikuk, plus menyemangati biar lihat sampai ujung. Menguasai medan dan wawasannya lumayan, cocok buat ditanyain. Kalau sudah selesai bisa nongkrong di warung yang banyak berjajar, ambil gorengan yang baru keluar dari wajan aja, karena makanan disini cepat dingin. Disambi minuman hangat, huah maknyus. Pulangnya bisa beli sebotol madu yang konon asli dari hutan.

Di balik keriuhan yang terjadi di jaman sekarang, ada satu spot di gua yang memperlihatkan cekungan tempat Gajah Mada duduk. Awalnya besar, lalu makin kecil karena Mahapatih ini puasa makan dan minum, sebelum akhirnya menghilang karena telah mencapai moksa…

***
IndriHapsari

Advertisements