Lawang Sewu Semarang: Ngga Seram Kok

Awalnya malas ke tempat ini, gara-gara katanya masuk acara Dunia Lain. Trus komiknya Benny yang Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura juga cerita kunjungannya ke Lawang Sewu disambut sama ‘penghuni’ disana. Brrr..makanya pas dulu nginepnya deket banget sama Lawang Sewu, cuma beda ujung sama ujung, pas car free day di kawasan itu ya cuma berani foto di gerbang.

Tapi si kecil sudah ngajak-ngajak kesana. Biasalah dia suka yang vintage gitu, jadilah kami bayar retribusi 10 ribu untuk dewasa, 5 ribu untuk anak-anak, dan 30 ribu untuk pemandunya. Pemandunya pake baju khas Jawa, blangkon, trus menerangkan dengan tempo lambat, cocok buat si cerewet Rey 🙂 Penguasaan pengetahuannya OK juga, semua pertanyaan kami dijawab dengan baik.

Pintu pertama isinya toilet. Eh ini beneran, ternyata jaman dulu Lawang Sewu tuh buat kantor kereta api di Indonesia, jadi isinya orang Belanda dan Indonesia. Nah sebelum masuk disuruh pipis-pipis dulu kali 😀

image

Selanjutnya lapangan luas dengan pohon beringin di tengah. Sekelilingnya bangunan dan ngga semua boleh dimasuki. Sama mas guide diterangin asal muasal pembangunan Lawang Sewu. Haduh keren lo, belum ada semen tapi batu bata yang diimpor dari Belanda ini tersusun dengan baik. Trus mereka juga sudah nemu teknologi anti rayap. Kalau lihat bangunannya kayanya seribu tahun lagi juga ngga bakal roboh, kuat dan kekar.

image

Bangunan berikutnya katanya dulu kantor pegawai, ada tangga batu gede menuju ke atas, trus ada kaca hias macam di gereja. Kok jadi inget stasiun di New York ya, ini kantor yang megah banget pastinya. Lantai yang boleh kami masuki isinya sejarah kereta api Indonesia. Wow banyak yang sudah dibangun Belanda dengan mempekerjapaksakan rakyat kita, relnya malah lebih banyak berfungsi yang dulu daripada sekarang.

Nah lo, terus seremnya dimana? Kami ditunjukin gedung yang punya lantai basement, yang waktu penjajahan Jepang dipakai buat menahan orang-orang yang memberontak, ada yang meninggal ngga wajar, dan jadilah cerita itu beredar. Namun asalnya arsitektur gedung ini lantai satunya emang setinggi dua meter, dengan lantai basement untuk menampung air hujan. Gunanya untuk mendinginkan bangunan, selain plafon yang tinggi-tinggi dan jendela lebar supaya suhu di dalam bangunan ngga terlalu panas. Ckckck..sampe malu dengernya, kalau sekarang sih tinggal masang AC aja, ngga peduli dengan energi yang harua dihabiskan hanya demi kenyamanan. Konon semua material itu juga diangkut utuh dari Belanda, sampe sini tinggal pasang. Demikian juga dengan kereta api dan tram yang dipakai tahun 1900an.

Di luar ada lokomotif yang sibuk dinaiki pengunjung. Di situ saya baru sadar, emang ini kantor kereta api kok, bukan tempat angker. Oya sewu yang berarti 1000 itu, aslinya ngga sebanyak itu loh. Ternyata ‘hanya’ ada 940 pintu. Kalau sama jendela, bisa lebih dari sewu. Yang pasti sih destinasi ini memang harua dikunjungi, dan jangan pelit bayar guide 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements