Ambrosia dan Malaikat Penjaga

image

Dominus, sang malaikat penjaga sedang memeriksa berkasnya, ketika panggilan dari Kamp, Kepala Malaikat Penjaga, datang. Diletakkannya gulungan perkamen itu, dan ia melayang ke atas dimana ruangan Kamp berada. Terletak di langit keenam, dibalik kumpulan awan Cirrus.

Jenggot Kamp yang putih keperakan nampak menjuntai di meja kerjanya. Kacamatanya nampak turun ke puncak hidungnya. Gurat kelelahan nampak di wajahnya. Maklum, sudah ratusan tahun dia mengepalai semua malaikat penjaga yang disebarkan ke permukaan bumi.

Berbeda dengan Dominus yang wajahnya bersinar dan halus, kemudaannya demikian terasa. Sepasang sayap nampak kuyup di punggungnya, ketika ia dengan ragu memasuki ruangan Kamp. Tak biasanya Kamp memanggil anak buahnya seperti ini. Biasanya mereka berkumpul di ampitheater besar, di langit ketiga dan di balik awan Nimbus, tempat semua malaikat penjaga biasa berkumpul. Suara Kamp dapat didengarkan di seluruh penjuru ampitheater, meski tanpa pengeras suara.

Kamp melirik Dominus yang mematung. ‘Dominus, duduk di depanku.’ Dominus berusaha duduk dengan tenang, sambil mengamati pena bulu milik Kamp yang bergerak-gerak saat Kamp menulis.

‘Dominus, bagaimana perkembangan klien yang kau jaga?’ tanyanya sambil meletakkan penanya.

Dominus menegakkan badannya. Ia siap bercerita. ‘Ambrosia nampaknya mulai dapat mengendalikan dirinya. Sejak ia mengetahui kekasihnya berkhianat, ia sempat putus asa dan hampir bunuh diri. Pasalnya, semua telah ia serahkan pada kekasihnya, termasuk keperawanannya. Ia memang masih terlalu lugu untuk memahami permainan si playboy jahanam itu.’

Kamp menatap tajam anak buahnya. ‘Opini, Dominus, opini. Sebagai malaikat penjaga, kita dilarang untuk beropini. Tugasmu hanya menjaganya, atas kondisi buruk yang mungkin terjadi. Kau tahu kan apa peraturan utama kita?’

Dominus menelan ludah. ‘Tak boleh terlihat. Tak boleh terasa,’ jawabnya pelan.

Kamp mengangguk. ‘Dalam melaksanakan tugasmu, kau tak boleh membuat klienmu menyadari atas keberadaanmu. Lalu aku harus jelaskan bagaimana ke Raja, ketika kau menangkis gerakan menampar kekasih klienmu, di depan mata klien, hingga kekasihnya mengalami retak pergelangan tangan?’

Dominus menunduk. Ia sangat emosi saat itu…

‘Lalu aku harus jelaskan apa lagi, ketika klienmu akan bunuh diri loncat dari lantai tujuh, kemudian tak jadi karena terasa seperti ada yang memberatkan kaki? Bagaimana aku harus jelaskan pula, semua lilin yang menyala saat klienmu pulang, untuk menghibur hatinya? Lilin manusia tak bisa menyala sendiri, Dominus!’ tegur Kamp tajam.

Dominus makin menunduk. Tubuhnya kini ikut kuyup.

‘Yang keterlaluan Dominus, tak baik mencium kening klien, meskipun ia sedang tertidur! Apa yang kau mau, Dominus? Kau ingin membongkar keberadaan semua rekan kerjamu?’ Kamp kini melepas kacamatanya. Keningnya berkerut menghadapi pelanggaran anak buahnya.

Dominus merasa, ia tak bisa menghindar lagi dari interogasi Kamp. ‘Saya..hanya tak tega dengan apa yang terjadi pada Ambrosia. Dia sungguh gadis yang apa adanya, baik dan tulus dalam mencintai kekasihnya. Tak tega rasanya ia mendapat perlakuan buruk dari kekasihnya. Hati saya selalu menangis ketika ia dilecehkan dan diintimidasi kekasihnya. Saya geram ketika ia berhasil termakan bujuk rayu si keparat itu. Saya sedih ketika ia layu. Ia layak untuk mekar, dan si tengik itu telah merampasnya!’ Dominus mengepalkan kedua tangannya. Nampak pancaran kemarahan muncul dari wajahnya yang tampan.

Kamp menggeleng-gelengkan kepalanya. Dipakainya kacamatanya kembali. ‘Dominus, kau seharusnya ingat, apa yang ditekankan saat pelatihan pertama bagi malaikat penjaga? Jangan libatkan hati! Karena kau jadi lupa atas semua peraturan itu, dan bisa mengacaukan semua sistem kita. Kudengar, kau telah berulang kali menerima peringatan dari Smap, tapi kau abaikan.’

Dominus mengangguk. Ia hapal benar, Smap atau Supervisor Malaikat Penjaga telah memperingatkannya berulang kali atas semua kenekatannya. Semua demi Ambrosia…

‘Dominus..dengan berat hati, aku harus memutuskan ini,’ Kamp menghela nafas panjang, ‘kau diberhentikan dari tugasmu sebagai malaikat penjaga.’

Dominus terbelalak. Jantungnya berdetak cepat.

‘Kamp! Tolong pertimbangkan lagi! Ambrosia belum benar-benar pulih! Ia kini sendiri! Siapa yang akan menjaganya, dan mencegahnya bunuh diri lagi? Siapa yang akan menghiburnya di saat sedang down begini? Tolong Kamp! Saya mohon!’ Dominus berusaha menjaga nada suaranya, agar tak terdengar seperti memerintah pimpinannya.

Kamp menggeleng sedih. ‘Peraturan, tetap peraturan. Dan kalau kudengarkan semua, jika kuteruskan ijin kerjamu, kau akan berlaku lebih membahayakan. Menyelamatkan klienmu, dengan berbagai cara, entah legal atau ilegal. Selain itu, sepertinya, kau tak begitu peduli atas pekerjaanmu. Semua alasan keberatanmu, adalah karena kau tak bisa menjaga lagi klienmu.’

Dominus memandang Kamp dengan kalut. Mata Kamp yang tajam mulai meredup.

‘Kau…jatuh cinta padanya?’

Dominus terdiam. Sesungguhnya, ia tak tahu apa itu jatuh cinta. Ia seorang malaikat penjaga, dengan tugas suci, tanpa boleh melibatkan emosi. Namun menghadapi Ambrosia, ia bergulat dengan rasa-rasa aneh dalam hatinya. Ada perasaan tak suka saat melihat Ambrosia dengan kekasihnya, ada perasaan hancur saat Ambrosia menyerahkan diri pada bajingan itu, ada perasaan cemas luar biasa mengetahui niat Ambrosia untuk mengakhiri hidupnya. Ia marah ketika si keparat itu hendak menampar Ambrosia yang menuntut pertanggungjawabannya.

Namun semua perasaan negatif itu seolah hilang, saat wajah sendu Ambrosia menatap lilin yang dipasangnya. Hatinya seolah dialiri sesuatu yang aneh, ketika mata Ambrosia seolah menatapnya, meski ia tahu Ambrosia tak bisa melihatnya. Hingga ia tak tahan, untuk mencium kening Ambrosia saat ia sedang terlelap. Dan untuk semua rasa itu…apakah ini yang namanya jatuh cinta?

Kamp memandangnya dengan penuh minat. Ia bisa membaca pikiran anak buahnya.

‘Ya. Kau jatuh cinta.’ Kamp menyimpulkan dengan tegas. Ia selalu berhati-hati atas hubungan emosional anak buah dan para klien mereka. Namun untuk pertama kalinya, kasus ini akhirnya harus terjadi.

‘Kamp, mohon, pikirkanlah kembali. Siapa yang akan menjaga Ambrosia?’ Dominus memohon.

Kamp menghela nafasnya. ‘Kenapa kau pikirkan terus nasib klienmu? Kenapa tak kau pikirkan nasibmu yang sudah aku pecat dari korps malaikat penjaga?’

Dominus memejamkan matanya. ‘Kamp, tak ada lagi yang bisa aku pikirkan, daripada keselamatan Ambrosia.’ Akhirnya ia harus mengakuinya. Semua usahanya agar bisa terus mendampingi Ambrosia. Semua usahanya yang tak mempedulikan aturan, menentang perintah dan semaunya sendiri. Semua demi Ambrosia..hingga bahkan takdirnyapun ia kalahkan…

‘Kau sudah bukan malaikat penjaga lagi, Dominus. Semua kekuatan dan kuasamu akan dimusnahkan.’ Kamp berkata tegas. Dominus menggeretakkan giginya. Ambrosia…bagaimana dengan Ambrosia…

‘Kau terpaksa kutugaskan ke tempat lain.’

Dominus menatap Kamp dengan cemas.

*

Ambrosia bangkit dari tempat tidurnya. Kehamilannya telah masuk bulan keenam, dan punggungnya terasa sakit setelah semalam tidur miring. Ia mengelus perutnya dengan sayang. Biarlah kelak bayi ini lahir tanpa bapak, yang penting mereka akan saling menyayangi.

Terdengar bel pintu untuk kedua kalinya. Ambrosia mengenakan sandal tidurnya, dan melangkah terseok melewati flatnya yang sempit. Diputarnya kunci pintu depan, dan seorang pria yang nampak kebingungan berada di depannya. Ia mengenakan topi dengan nama toko bakery.

‘Euh, Anda..tadi menelepon hendak memesan roti ini?’ tanyanya.

Ambrosia melirik sebungkus roti yang disodorkan padanya. Ia menggeleng.

‘Euh…oke…’ kata si pengantar roti salah tingkah. ‘Kalau begitu…ini untuk Anda.’

Ambrosia menatap si pengantar roti dengan wajah tak mengerti. ‘Tapi saya tak memesannya. Dan, saya tak punya uang untuk membayarnya,’ kata Ambrosia sedih. Ia masih punya selapis roti untuk sarapan nanti. Entah bagaimana untuk siangnya.

‘Tak apa.’ Si pengantar roti tersenyum lebar. ‘Esok, saya akan kesini untuk mengantarkan roti lagi.’

Ambrosia tertegun dan menurut saja ketika tangannya dipegang dan menerima sebungkus roti tadi. Si pengantar roti itu akan pamit pergi, ketika Ambrosia ingat sesuatu.

‘Hei! Ah…maaf…terima kasih…dan…namamu?’ katanya ingin tahu.

Si pengantar roti tertawa sambil membalik lidah topinya.

‘Dominus,’ katanya gembira. Sang malaikat penjaga telah menjadi manusia.

***

IndriHapsari

Gambar : expressyrself77.wordpress.com

Advertisements