Avengers – Age of Ultron : Memanusiakan Superhero

Avengers_Age_of_Ultron

‘Ini namanya Iron Man, Ma,’ kata kakak sepintas waktu saya tanya, itu siapa sih robot yang bisa terbang dan nembak.

‘Oooh…senjatanya apa? Setrika?’ tanya saya polos.

‘Iiih…Mama ini!’ seru kakak gemas.

‘Lo, bener kan…iron itu kan..setrika. Trus kemampuan dia apa? Melicinkan pakaian?’ goda saya.

See? Jadi begitu kakak ribut ngajakin kita nonton Avengers yang kedua, Age of Ultron, malas banget rasanya. Bukan apa-apa, satu karakter aja sudah bikin saya bosen gitu, apalagi ini ada banyak. Hulk sudah kenal lah, dari dulu juga ada. Itu manusia yang kalau marah jadi mahluk hijau beringas. Trus ada Captain America, yang selain ganteng wajahnya kok bisa kaya pria baik-baik aja ya. Oya, dia suka bawa tameng. Lalu yang suka bawa palu namanya Thor. Muncul tokoh lain Black Widow, yang saya tahunya dari artikel yang ada, ceritanya dia naksir Hulk (jarang-jarang kan :P). Ada lagi yang suka manah, ah ini boro-boro saya mengingat namanya.

Saya dengar sih, animo masyarakat yang menyambut Avengers dengan gegap gempita, sama seperti Avengers pertama yang tahun 2012. Belum bergerak juga untuk nonton. Tapi karena hari ini long weekend, dan kita stay di dalam kota, maka mau ngapain lagi coba selain nonton? Dan di antara film Escobar, Mad Max, Tekken dan The Lazarus Effect yang posternya aja bikin saya ngga minat, maka masuklah kita ke studio tempat Avengers diputar.

Dan seperti biasa artikel review film saya ini menyebalkan (yes, I admit it.). Soalnya kalau cerita isi filmnya, rasanya ingatan saya ngga setajam itu deh, wong nonton untuk hiburan bukan untuk dicatat kejadian-kejadiannya. Lagian, siapa yang bisa melawan Wikipedia yang disunting oleh banyak kepala? So kalau mau cari jalan cerita lengkapnya, ke Wiki aja deh 🙂

Yang bisa saya tuliskan disini adalah kesan menonton film tersebut. Tetap ramai, sebagian anak-anak, padahal film ini untuk 13 tahun ke atas. Ah ya, saya juga melanggarnya, karena kata kakak semua temannya sudah nonton. Tapi emang sih, adegan kekerasannya banyak, malah ada yang kepotong tangannya segala. Dan ngga yakin deh apa mereka ngga keingat-ingat tampang kejamnya robot Ultron yang mirip Voldemort itu, tanpa hidung. Wong saya nonton film StarWars pas kecil masih inget bener tampangnya Darth Vader. Hiiy!

Lalu ceritanya memang agak berat ya, tapi terus terang saya apresiasi skenarionya. Maksudnya dia nulis scenario ngga cuma adegan berantem untuk membela keadilan, tapi ada filosofi di baliknya, sekaligus menunjukkan bahwa para Avengers itu ngga sempurna. Mereka tetap bisa dipecah, mereka punya ketakutan, mereka punya sisi lain yang abu-abu. Para pahlawan super kali ini benar-benar manusiawi. Bahkan seperti ngga mau kehilangan momen, robot Ultron yang jahat itu pengen jadi manusia juga.

Kalau soal karakter sih jangan diragukan, tokoh Marvell Comic ini memang sudah kuat di deskripsi detailnya, tinggal ngembangin aja ceritanya. Kalau castingnya ngga terlalu khas ya, maksudnya si aktornya ngga bisa menanamkan bahwa karakter itu yang meranin adalah dirinya. Siapapun bisa menjadi karakter tersebut, asal penampilan fisiknya sesuai. Yang agak dalam adalah Robert Downey, Jr yang jadi Iron Man. Kesan slengean, gaul, seenaknya berhasil ia tanamkan pada tokoh Tony Stark pas ngga pake perisai robot. Tapi dibanding film-film dia lainnya, Avengers ini yang paling ngga mengoptimalkan kemampuan aktingnya.
image

Apa lagi ya…kemunculan si kembar yang punya kekuatan super ini juga menarik, orang biasa yang membantu Avengers berjuang. Yah ada aja orang yang peduli atas keselamatan orang lain, meskipun kesannya mereka adalah orang biasa. Tinggal dibangkitkan rasa ingin berjuangnya, jadi deh mereka jadi salah satu yang bisa diandalkan. Lainnya sih ngga heran kalau hebat, wong superhero! Overall, untk hiburan oklah film ini, Disney pasti senang karena balik modalnya cepet banget 🙂
image

*

IndriHapsari

Sumber gambar : Wikipedia dan pribadi

Advertisements