Taman Nasional Bantimurung: Penuh Kupu-kupu

Akhirnya datang juga kesempatan mengunjungi kota terbesar di Indonesia Timur ini. Penerbangan cukup banyak dari Surabaya, kali ini saya dan teman-teman menggunakan Sriwijaya Air. Selain dapat bagasi 20 kg, dapat roti dan minum. Lumayan deh, ngga nganggur dalam penerbangan lebih dari sejam ini.

image

Begitu mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kami sempat cari-carian dengan driver yang menjemput. Baru tahu, bandara yang megah ini terdiri dari dua lantai, dia nungguin di bawah, saya di atas. Pantes aja ngga ketemu 🙂

image

Perjalanan ke daerah Maros cukup padat, satu jam kemudian kami sampai di Taman Nasional Bantimurung (TMB). Dari jauh kelihatan megah dengan tulisan di tebing, kemudian disambut kupu-kupu dan monyet raksasa. Mulai terlihat kurang terawat karena sayap kupu-kupunya terteku sedikit. Usai membayar 25 ribu per orang untuk turia lokal, kami memasuki kawasan ini.

image

Di depan sudah ditawari mau guide atau tidak. Kami pilih untuk jalan sendiri saja. Namun tukang foto dan jual souvenir mengikuti kami, memotret tanpa diminta dan terakhir ya menawarkan untuk dibeli. Ngga maksa sih, tapi agak mengganggu yah. Demikian juga toilet yang mestinya gratis malah berbayar, ngga terlalu bagus pula. Turis asing juga kasihan karena mereka dilepas begitu saja, padahal sudah bayar 225 ribu.

Indonesia sungguh beruntung dianugrahi alam yang spektakuler. TMB ini isinya tebing yang cocok buat syuting film, sungai tanpa batu yang airnya deras, trus dicegat di ujung dengan kolam renang. Airnya kecoklatan bukan karena kotor, tapi tanah yang terbawa. Di ujung setelah kami menaiki 115 anak tangga, ada gua dan danau yang menarik untuk diexplore. Banyak fasilitas untuk acara piknik, banyak warung dan ada gedung pertemuan serta museum kupu-kupu.

Kalau melihat kupu-kupu yang diawetkan plus yang dijual sebagai cendera mata gantungan kunci dan hiasan lain, jenisnya banyak banget. Cakep-cakep. Berani juga kupu-kupunya mendekati orang atau cuek nemplok di batu.

Namun TMB memang perlu beberapa perbaikan. Sepanjang jalan yang kami lalui ada bagian yang tidak stroller friendly dan kids friendly. Ada jalan yang jebol, jalan yang tertutupi tanah sehingga licin, dan jalan yang tertutup pohon tumbang. Menyusuri sisi sungai juga mesti hati-hati karena tanpa pelindung. Bahkan untuk duduk di kursi bambu kami juga ngga berani, takut ngga kuat dan nyebur. Gua sangat gelap dan mungkin licin karena kami cuma sampai mulut gua yang penuh tetesan air. Bangunan sebagian tidak terawat dan ngga diapa-apain, baik gedung maupun halamannya.

Semoga TMB bisa terus berbenah, karena beberapa kali kami temui turis asing yang niat banget datang ke TMB untuk melihat kupu-kupu. Senang dong kalau tambah terkenal sedunia 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements