Adil

adil

Aku menatapmu yang sedang terlelap dalam mimpi.

Suara hembusan nafasmu masih saja terdengar, teratur dan lembut, selalu menenangkan. Kali ini nampak rona kelelahan dari wajahmu. Padahal ini baru malam pertama kau datang, dari tiap minggu yang kau janjikan.

Aku sudah tanyakan ini dari dulu, di dalam hati. Mampukah kau menjalani dua kehidupan seperti ini? Namun seperti keangkuhan yang dimiliki kaummu, kau begitu lupa untuk mengakui, kaupun manusia yang punya keterbatasan. Seperti aku yang sulit mengira-ngira, sampai dimana batas ikhlas itu berada.

Pada janji-janjimu untuk membagi diri, aku hanya bisa mengamini, semoga kau cukup ingat untuk melakukannya. Satu yang kulupa pintakan, semoga kau juga mampu untuk melakukannya.

Ah, apa saja yang dilakukan para pasangan baru ini? Mereka menganggap waktu haruslah dinikmati, sementara aku menganggapnya sebagai musuh. Sesuatu yang harus aku taklukan. Bergulat dengan persoalan kehidupan. Namun lihat sekarang, siapa yang terkapar kelelahan.

Kau tak muda lagi, sayang, keluhku dalam hati. Wajahmu tetap sama, namun satu dua kerutan mulai membayang. Rambutmu memang hitam, dengan warna keperakan melintas beberapa. Kau tetap pria yang gagah, namun entah untuk tenaga…

Masihkah kau memamerkan kuasamu di ranjang? Atau kau ajarkan ia untuk melayanimu? Kau tentu lebih ahli sayang, hasil pengalaman kita berdua. Berbeda dengan ia yang baru saja melepas masa lajangnya. Dan itukah yang membuat dirimu terhuyung kelelahan, ketika tiba saatnya aku menuai giliran?

Mungkin juga tidak hanya malam kau setengah mati berusaha, kau masihlah pria yang perkasa. Mungkin, pada siang hari kau juga memperlihatkan pada rekan kerjamu, betapa kau adalah suami yang berbahagia, dengan berhasil menikahi yang kedua. Atau mengambil hati mertua sebelum berangkat kerja, yang awalnya ragu mengijinkan anaknya menikahi suami orang. Kau yang berusaha menjaga citra, namun seharusnya aku yang layak mendapatkan penghargaan.

Karena tak ada pelakon yang dapat melakukannya, ketika tahu yang ia hadapi adalah hal yang nyata. Mereka bisa berperan dengan cemerlang karena tahu, filmnya hanya pura-pura. Ada skenario yang sudah mereka baca, ada akhir yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Namun aku harus mengatasi kekhawatiranku, ketakutanku, dan terutama –keegoisanku-, untuk menegarkan diri di hadapan calon mertuamu. Aku mengijinkan pernikahan itu.

Aku tak tahu bagaimana nasib anak-anakku. Aku tak tahu bagaimana penghidupanku. Aku tak tahu bagaimana dengan…aku. Bukan soal perasaan ditinggalkan, aku sudah buang jauh-jauh perasaan menuntut seperti itu. Tapi apakah aku sudah cukup sempurna untuk menjadi istrimu? Apa yang kulakukan sudahkah cukup, atau…ini hanya permulaan dari kisah panjang yang …melelahkan? Atau justru… membahagiakan?

Melihatmu terlelap seperti ini, pada hari pertama kau kembali padaku, membuatku berulang kali mengingatkan diri sendiri. Aku bersyukur kau masih ingat jalan pulang, meski tak kau lakukan setiap malam. Aku menjaga lidahku agar tak menuntut macam-macam, karena aku berusaha memahami usaha yang kau lakukan, untuk membahagiakan kami berdua.

Dan seolah tak habisnya kau berusaha berlaku adil, keinginanmu yang berikutnya adalah ‘ia kubawa kesini, supaya tak perlu kau cemaskan diriku saat jauh, ia pun dapat menjadi adikmu. Ia akan belajar padamu, dan membantumu mengurus rumah tangga.’

Apa dayaku untuk mengatakan, bahwa sebelumnya semua bisa kulakukan sendirian? Aku telah berlatih tegar tanpa kehadiranmu disini, dalam perkataan dan perbuatan. Tak lagi mudah meminta kebutuhan, tak gampang pula menjawab pertanyaan, ‘Papa kemana?’. Namun kini nampaknya aku harus berusaha seperti yang-membutuhkan-bantuan, agar ia yang kau sebut ‘adik’ itu dapat berlatih dari yang sudah berpengalaman.

Jadi benar, ikhlas itu tanpa batasan. Bahkan pengorbananpun tak pantas lagi diucapkan…

***

IndriHapsari

Gambar : redbubble.com

Inspirasi : Menikah  by Jasmine

Advertisements