The Imitation Game : Kisah Heroik Ahli Matematika

IMG_4479.JPG

Melihat film ini seperti melihat Benedict Cumberbatch dari sisi yang berbeda. Kalau di serial Sherlock Holmes dia PD banget dengan selalu bicara cepat, di film ini dia berperan jadi Alan Turing, ahli matematika yang gagap dan gay. Tapi ada pula kesamaannya, mereka adalah jenius aneh, asosial, sibuk sama dunianya sendiri, dan ‘dingin’ terhadap wanita.

Maka pada beberapa scenenya terus terang saya teringat dengan akting Ben di Sherlock. Untung saja dia aktor yng handal sehingga bisa mengingatkan saya lagi, saya sedang menonton film semi dokumenter tentang Perang Dunia II, Sekutu melawan Jerman. Bahkan saking meyakinkannya, saya percaya berkat kejeniusan Turing dan timnya, mereka bisa mengalahkan Jerman dalam waktu 2 tahun. Itupun karena mereka tidak mau melakukannya lebih cepat. Gila, apa ngga gregetan tuh orang Jermannya, dikadalin orang Inggris? 🙂

Kenapa saya bilang semi dokumenter, karena filmnya sendiri berdasarkn kisah hidup Alan Turing. Lalu beberap potongan video perang jaman baheula, juga mengingatkan kita sedang menonton sejarah. Tapi terus terang saya menginginkan lebih, misalnya pengadeganan kembali biar lebih greget 🙂

Penemuan Christoper, mesin komputer pertama, yang akhirnya berhasil memecahkan kode tersebut juga menarik karena digambarkan stepnya. Aslinya tu mesin muter terus, ngga tau apa yang dicari. Tapi berkat kejadian tak sengaja, akhirnya bisa juga Turing ngakalin mesin itu supaya keluar hasilnya. Terus terang pengennya sih jangan kebetulan, berilah pemirsa suatu alasan yang logis mengenai inspirasi tersebut. Kalau film drama bolehlah.

Hal lain adalah kadang saya merasa scene ini kok terlalu cepat ya. Memang sih mungkin itu gaya sutradaranya, biar ngga berlama-lama di suatu adegan. Tapi ada adegan yang kok cepet banget, misalnya kenapa kok timnya bisa balik lagi meski dipecat, atau kenapa Turing sampai jatuh cinta dengan teman sekolahnya.

Keira Knightley sendiri bermain standar, yah khas perempuan yang serba sempurna. Cantik, pintar, dan cuek. Satu temen timnya, diperankan Matthew Goode sukses jadi pria sempurna, tampan, pintar bergaul, dan bad boy. Mark Strong keren jadi intel yang juga ahli strategi, cocok untuk nipu orang-orang lugu macam Turing.

Turing remaja sering dibully karena dia ga bisa gaul dan pendiam tadi. Entah alasan Christoper apa kok sampe belain Turing demikian rupa sampai bikin temannya jatuh cinta. Satu adegan bagus pas kepala sekolah bilang Christoper meninggal, Turing remaja ini pinter memainkan mimiknya, karena di satu sisi ia berusaha meyakinkan kepseknya kalau ia dan Christoper ngga dekat, tapi di sisi lain ia harus meyakinkan penonton bahwa ia sedih banget dengan kematian sahabatnya.

Turing gede yang mempesona aktingnya justru bukan saat ia jenius, tapi saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Setelah timnya dibubarkan, konon ada ketakutan dari pemerintah bahwa kepandaian Turing akan dimanfaatkan musuh. Akhirnya ia diseret ke pengadilan atas tuduhan gaynya, dan disuruh milih, penjara atau terapi hormon untuk menghilangkan kegay-annya. Turing memilih yng kedua, karena ia ingin berdekatan dengan Christoper yang diabadikan dalam wujud mesin.

Terapi hormon itu aslinya pengebirian kimia. Gay-nya ngga sembuh, malah ia jadi tremor gitu (bergetar) dan hilang kepintarannya. Bahkan untuk mengisi teka teki silang yang sangat disukainya, ia tak mampu. Bayangin orang yang begitu pinternya jadi ngga bisa melakukan apa-apa…hiks… 😥

Penutup film itu adalah text bahwa Turing bunuh diri pada usia 41 tahun. Pastinya karena depresi, atas keadaan dirinya. Pengaruh obat juga bisa jadi. Scene yang sebenarnya menarik untuk dibuatkan, tapi lagi-lagi sutradara Morten Tyldum memilih untuk mempercepatnya.
image

***
IndriHapsari

Advertisements