Mabok Neil Gaiman

Yang namanya jodoh itu ngga akan kemana. Ada aja cara Tuhan mempertemukan, trus jadi kesengsem, trus jadi kecanduan deh. Iya…kecanduan kamu… *kedip*

Screen Shot 2015-03-01 at 5.05.26 AM

Awalnya gara-gara buku ini, Fortunately, The Milk. Diterjemahkan ke Indonesia jadi Untunglah, Susunya. Aaak…judul macam apa itu. Di Gramedia tinggal satu, diletakkan di barisan novel remaja. Ngga biasanya saya ngambil di bagian situ, tapi karena tertarik sama isinya, saya coba deh. Rencana mau kasih ke anak saya yang paling gede, tentu lebih dulu lewat sensor mamanya. Yah, gimanapun buku ini mengandung susu.

Baru buka halaman pertama, udah tertarik liat ilustrasinya yang unik. Gede-gede, dengan ukuran huruf yang juga gede. Dari halaman pertama juga saya tahu, kalau buku ini malah untuk anak-anak. Akhirnya saya bacain ke anak saya yang paling kecil. Dan kayanya emang sengaja ya, tulisan di buku ini dirangkai dalam kalimat yang pendek-pendek, khas kalau kita lagi cerita ke orang lain.

Lembar demi lembar kami habiskan berdua, dan ngga terasa ceritanya makin seru. Saya yang biasanya ngejatah satu malam cuma berapa lembar bacain buku, sekarang malah penasaran dengan lanjutannya apa sih. Bukunya kocak banget, bahkan untuk anak kecilpun, bahkan ketika ia sudah diterjemahkanpun. Isinya petualangan seorang Ayah dalam mempertahankan susu yang dibelinya, supaya anak-anaknya bisa makan cereal dengan susu. Mereka enggan mencampurnya dengan jus jeruk atau memakannya begitu saja *ya iyalah, siapa juga yang mau…* Lalu Ayahnya pulang lamaaa banget…sampe kata anak-anaknya ‘Ayah pergi berabad-abad’.

Kenapa Ayah pulangnya lama? Tentu kita mengira paling Ayahnya ketemu siapa di jalan, trus lama dah ngobrolnya. Ternyata tidak! Si Ayah ini disedot ke pesawat luar angkasa, ketemu alien yang lebih mirip segerombolan ingus. Trus terjatuh di laut dan ditangkap bajak laut perempuan. Hampir disuruh loncat lagi ke laut, ketika seekor stegosaurus *yah kaya dinosaurus gitu deh* menyelamatkannya dengan balon udara. Trus dialog dengan sterofagus yang maju ratusan tahun ini, dengan Ayah yang mundur ratusan tahun ini, lucu banget sampe anak saya ngga jadi tidur.

Kisahnya seru, dengan banyak tokoh aneh-aneh di dalamnya, dengan loncat waktu maju dan mundur, dengan konsep mesin waktu dimana nanti ada dua Ayah dan kejadian yang menghubungkannya. Hueee….ngocol abis, ngayal abis, tapi asyik banget!

Akhirnya penasaran dong, dengan Neil  Gaiman yang jadi penulisnya. Se-fun apa sih dia. Akhirnya ketemu profil pengarang yang penampilannya kaya Mick Jagger *IYKWIM – karena mungkin era kita beda 😛 * Bapak-bapak tua dengan rambut acak-acakan dan bibir lebar. Kayanya aktif di internet, ada blognya, dan banyak Youtubenya. Cek di Youtube, wah dia berbaik hati bacain karya-karyanya. Banyak audiobook yang dibacakan dia sendiri, dan ternyata benar dugaan saya. Bukunya ini memang ditulis untuk dibacakan, dan menurut saya tingkat kesulitannya lebih besar. Kita mesti mengikat pembaca untuk mau ngikutin terus, sehingga setiap kalimat mesti berarti dan ngga boleh bertele-tele.

Neil Gaiman penulis dari Inggris, dan pindah ke Amerika. Bukunya ternyata ada banyaaak, dan hampir semua best seller. Jadi penasaran dong dengan lainnya, maka mulailah saya cari lagi yang lain. Ujicoba, satu buku tentang kuburan, The Graveyard Book. Wah, ada apa ya dengan para penulis Inggris ini? Yang satu nulis dunia penyihir (J.K Rowling) yang satu mbahas kuburan 😀 Sungguh imajinasi yang liar!

Screen Shot 2015-03-01 at 5.05.02 AM

Ceritanya tentang seorang anak yatim piatu, Nobody Owens, yang diselamatkan para hantu karena orang tua dan kakaknya dibunuh *seems familiar, uh?* Si bayi ini ngumpet di kuburan, dan mendapat kasih sayang dari para hantu. Walinya sendiri ngga manusia dan ngga hantu juga. Cerita berkisar dari penyesuaian Bod *panggilannya* dengan kehidupan di kuburan, ditambah kejar-kejaran dengan pembunuh keluarganya. Seru abis, dan sama seperti baca Harry Potter, maunya sekali baca langsung selesai gara-gara penasaran.

Dan ketagihan dimulai. Cari di tiga toko buku yang berbeda, bukunya Neil Gaiman ngga ada stoknya. Mungkin karena saya yang telat tahu dia penulis yang keren. Akhirnya cari online, ada, tapi nunggu agak lama karena stok di gudang penerbit. Trus kumat nyari di internet, dapat deh e-booknya. Dan seperti kebiasaan saya baca e-book, e-booknya mesti diprint dan dijilid. Iya, saya emang orang lama, yang menganggap lebih baik ketimpa buku yang dibaca daripada ketimpa iPad. Iya, saya bacanya sambil tidur *malu*.

Begitu kumpul semua, kaya gini nih…

Screen Shot 2015-03-01 at 5.04.45 AMTrus sekarang bingung…ini bacanya kapan…? 😀 American Godsnya dobel, dan baru sadar tebalnya tuh waktu ngambil buku di fotokopian, kata tukang fotokopinya *yang merangkap ngeprint itu* untuk e-book yang ini isinya 2000 halaman *di situ saya merasa kaget* dan sama dia dikecilin biar bisa satu halaman A4 bisa isi 4 halaman e-book.

But the show must go on…

Saya ambil yang tertipis, Coraline, karena liat di Youtube, ternyata karya yang ini sudah difilmkan. Menolak liat filmnya duluan, saya baca dulu novelnya. Novel tertipis yang pernah saya baca, selain Fortunately, The Milk. Dan ceritanya…

…creepy abis!

Waduh, saya sampe balik-balik tu buku. Ini beneran buat young reader? Karena di Goodreads dia mendapat bintang 4 dari 5, trus tulisannya ya gitu, young reader. Yang jadi tokoh emang Coraline sih, masih kecil, dan dia dengan jiwa petualangnya, berani menghadapi her other mother dan her other father, yang berusaha mengikat Coraline ke dunia mereka. Awalnya menyenangkan bersama mereka, lama-lama spooky karena si Mama lain ini menjaga Coraline seperti naga menjaga telurnya, posesif banget. Akhirnya malah orang tua Coraline diculik *isitilah dia grown-up-napping* dan Coraline harus berjuang untuk menyelamatkan mereka. Dengerin audiobooknya lebih serem, karena Neil Gaiman sekalian bikin nyanyian tikus yang …brrrr….mungkin kalau disini setingkat lingsir wengi…

Yeah, itulah curhatan saya tentang buku-buku Neil Gaiman. Genre dia fantasi, mungkin lebih banyak juga ke horor, tapi horor yang asyik, yang punya pesan tapi ngga berasa, dan mengikat pembacanya *tua dan muda* sampai ke ujung cerita 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements