Poligami, Kenapa Tidak?

Poligami sampai kapanpun akan menjadi perdebatan yang abadi, antara pria dan wanita, antara yang pro dan kontra, antara dalil agama dan kepercayaan yang ada. Tertarik dengan satu artikelnya mbak Raisa mengenai keuntungan berpoligami bagi wanita, ingin juga sih membahasnya kenapa alasan-alasan logis yang pro itu juga bisa dikontra. Tentu ngga ada maksud tertentu karena kami sama-sama awam, cuma boleh dong menyuarakan opini? Karena saya bukan penganut agama dan kepercayaan yang memperbolehkan poligami, maka semua ayat, dalil atau apapun yang mendukung monggo disampaikan ke yang lebih kompeten saja 🙂

Screen Shot 2014-12-23 at 1.53.06 PM

reason.com

Apakah poligami berhubungan dengan kinerja?

Ada beberapa pejabat yang baik-baik saja karirnya meski beristri dua. Ada pengusaha yang baik-baik saja usahanya meski istrinya ada di setiap cabang. Ada yang masih mampu membiayai artis yang jetset yang ternyata adalah istri ke-entah-berapanya. Semua baik-baik saja, nampaknya, sehingga bagi pria yang jagoan begini poligami itu ngga ada pengaruhnya.

Namun kalau kita lihat lagi ke dalam, atas kerukunan para istri itu jarang yang bisa bertahan saat bapak yang super hebat itu meninggal. Mulai ada kasak kusuk siapa yang lebih berhak, kebanyakan berkutat masalah harta. Harta itu seberapapun banyaknya ngga akan pernah ada puasnya. Kalaupun para istri rukun-rukun saja, gimana dengan anak-anak? Ada yang merasa anak kesayangan bapaknya, ada yang menjadi anak emas bagi ibunya (ya jelas aja ya :D), ada yang digadang-gadang menjadi penerus keluarga. Perseteruan memang bisa saja terjadi di keluarga yang monogami, tetapi potensinya lebih besar pada mereka yang memasukkan banyak ‘orang luar’ dalam kehidupannya.

Saya sendiri beranggapan poligami bisa sukses pada mereka yang bisa mengatur dengan baik manajemen waktu, keuangan, atau manajemen cintanya. Membagi cinta kemana-mana sebenarnya beda tipis dengan mengharap cinta dari mana-mana. Ada kebutuhan untuk itu, karena sebagai manusia langka bahkan hampir tidak ada yang bisa memberikan unconditional love, cinta tanpa mengharapkan apa-apa.

Ada apa dengan cinta?

Terkait dengan cinta, ceritanya ada yang mau membagi-bagi cinta, ada yang cintanya hanya untuk satu orang saja. Poligami melawan monogami. Multi melawan single. Banyak melawan tunggal. Sounds fair? Pastinya ngga dong yah, dan itu juga yang menyebabkan banyak wanita yang teriris hatinya saat sang suami mendua. Situ enak-enakan tebar pesona, sementara istri mesti setia dengan satu suami yang ngga tahu dimana juntrungannya, dan harus bertanggungjawab penuh sama urusan keluarga. Si bapak mah jangan diarepin deh waktunya, sibuk sama bini barunya yang saat ini terlihat lebih dari yang lama. Masih untung kalau kewajiban lahiriah dan batiniah berjalan lancar (ya dari si bapak super hebat itu), kalau tersendat ya ditanggung istrinya sendiri.

damascusias.wordpress.com

damascusias.wordpress.com

Tentang ikhlas

Keikhlasan merelakan suami beristri lagi juga suatu hal yang langka, menurut saya sudah masuk ke ranah unconditional love. Tetap memberi cinta meski yang dicintai cinta orang lain, itu susah kan. Makanya kalau ada yang ikhlas salut saya. Kebanyakan sih terpaksa menerima, karena anak-anak, keluarga besar, penghidupan, martabat (mau tetap jadi istri pejabat atau mantan istri pejabat?) dan mengeraskan hati melihat suami pulang pergi. Mau lancar atau ngga bulanannya, tetap saja bikin empet dan harus style tangguh demi penampakan di luar.

Alasan poligami

Alasan berpoligami dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu istri dan suami. Dari sisi istri alasan yang diajukan seperti meringankan beban sehingga istri akan punya me time yang lebih banyak, agar istri memahami hakikat cinta yang sesungguhnya, dan tolong menolong sesama wanita.

Soal meringankan beban istri, sebenarnya kalau ngga diam-diam dan ditanyakan ke pihak istri, ‘Bune, aku boleh nikah lagi ndak supaya kamu ada yang bantuin?’ pasti jawabannya tidak. Mending repot dan jungkir balik sendiri daripada ongkang-ongkang tapi suami ngga pulang-pulang. Saat menikah seorang wanita sudah menyadari, kelak ia harus membantu suami, kan namanya saja tulang rusuknya, bagian dari pria. Sehingga kalaupun luar biasa sibuk, kenapa bukan suaminya saja yang bantuin? Atau kalau cukup mampu, rekrutlah pegawai atau pembantu, supaya istrinya bisa agak santai tanpa perlu stress mikirin permintaan si bapak. Me time otomatis akan muncul jika semua pekerjaan itu sudah ada yang handle atau bisa ditangani dengan baik.

Kalaupun alasannya karena untuk menolong sesama wanita, misal nih karena alasan ekonomi, kenapa menolong itu sambil meminta balasan menjadi istri? Katanya kalau tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh menikahi, eh, maksudnya melihat. Jadi kalau ngasih itu ya ngasih saja. Beri beasiswa kek, bikin yayasan biar lebih banyak yang dapat bantuan, atau cukup jadi orang tua asuh. Jika terkait dengan jodoh, wah sebenarnya jodoh itu cuma ada satu loh. Jadi entah istri sekarang atau istri masa depan. Jadi kalau mau diambil barengan, itu bukan jodoh namanya tapi kemaruk. Lagian, dari sekian banyak para jomblo pria, kenapa yang diminati hanya pria beristri? Semoga bukan hanya karena mapannya ya…

Soal memahami hakikat cinta yang sesungguhnya, kenapa ya ini jadi ranah kaum perempuan saja? Dari cerita-cerita mengharukan yang disebarkan di media sosial, pesan dibawahnya biasanya ‘Cintailah suamimu sebelum ia dicintai orang lain.’ Ah, please deh. Cinta itu kan general, imbang, jadi kalau mau memahami hakikat cinta, kenapa harus wanita yang harus melakukannya? Kenapa bukan kesadaran dari kedua belah pihak, bahwa diduakan cintanya itu sungguh ngga enak?

Sudut pandang kedua adalah dari pihak suami

Ini saya kasihan benar deh. Yang dibahas adalah daripada suami berzinah, lebih mending poligami. Kesannya para pria ini ngga bisa menjaga nafsunya sehingga libido ditebar kemana-mana. Padahal yakin deh, meski para bapak ini berjenis kelamin laki-laki (soalnya ada yang laki-laki tapi dia jadi ‘perempuannya’ 😀 ) mereka juga punya rem yang kuat untuk mencegah nafsunya. Ada yang karena cinta, kasihan sama istri dan anak-anak, malu sama keluarga besar, takut dipecat perusahaan, berpikir malah nambah masalah, atau mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Bisa kok kalau berusaha.

Tapi ada juga yang ngga bisa, karena sejak awal membiarkan pintu terbuka. Saya juga ngga bisa bilang, bahwa semua wanita itu tahu diri dengan tidak berhubungan dengan suami orang. Ada juga yang tidak peduli yang penting bisa mendampingi, baik dengan cara kasar maupun cara halus, yang kelihatan maupun yang tidak terlihat. Itulah yang membuat penolakan terhadap poligami itu berasal. Darimana bapak kenal sama si X? Kenapa kok bapak dekat sama si Y? Sudah berapa lama berhubungan kok minta nikah sama Z? Jadi sebelum acara minta ijin istri pertama itu, sebelumnya sudah ada celah di pintu, yang membiarkan si kucing masuk dan minta dielus-elus. Berarti kan ada yang dilakukan tersembunyi, meski mungkin hanya pandangan mata atau ucapan kata *jarang banget sih yang cuma begini langsung minta kawin 😛

Alasan berikutnya adalah daripada punya anak haram. Sebenarnya jangan begitulah, itu sama juga dengan menyamakan nafsu para pria dengan (maaf) binatang kalau sampai punya anak di luar hubungan pernikahan. Sebenarnya alasan yang kuat memang karena istri tidak bisa memiliki anak, sehingga mereka tidak bisa punya keturunan. Bagi orang modern hal ini disikapi dengan menerima keadaan tersebut, dan mengadopsi anak. Banyak anak yang kurang beruntung di dunia ini, tengok saja panti asuhan kita, pasti penuh terisi. Daripada bersepakat untuk menambah penduduk dunia, gimana kalau mengasuh mereka? Ada juga yang mendapat tekanan dari keluarga, harus punya keturunan langsung. Yah ini sih kuat-kuatan cinta istri apa cinta adatnya.

Alasan lain yang diungkapkan adalah lintas gender

Jadi si suami nyalahin istri yang adaaa aja kurangnya, bisa memang kenyataan, bisa juga karena harus punya alasan. Ada yang melakukannya terang-terangan, ada yang mempengaruhi istrinya bahwa daftar kekurangan istri itu ada, makanya perlu punya dua, atau tiga, atau…

Kalau kata saya sih, itu kan persoalan berdua ya, kenapa ngga diberesin berdua? Misal kalau si istri beneran jelek adatnya, suka ngelawan, dingin ke suami, ngedrugs, minum, ngga mau punya anak atau ngga mau ngurus keluarga, sebenarnya tugas suami membuktikan hakekat cinta dengan masih mencintai istrinya, dan berusaha membuat istrinya kembali ke jalan yang benar. Bukannya lari dari kenyataan dengan memperistri tambahan. Itu sih memecahkan masalah dengan masalah, ngga cocok kerja di pegadaian 😀 Kalau bisa membujuk istri supaya nerima ‘adik baru’, kenapa kemampuan negosiasinya ngga dipake buat membujuk istri supaya mau punya anak, berubah sikap dan sayang suami?

Ada juga yang mengajukan alasan karena istrinya pernah selingkuh, sehingga pantas dipoligami. Waduh, jadi poligami ini untuk balas dendam begitu? Dari motivasinya aja sudah ngga benar. Mending dijaga benar istrinya sekarang, bisa ngga kemana-mana lagi. Yang pasti sih si suami bakal sibuk melupakan sakit hatinya, karena sudah dikhianati kesetiaannya. Kalau istrinya sedang selingkuh? Itu antara ngga pantes jadi istri, atau supaya 1-1 ya poligami 😛

Lagian, kalau sudah tahu adatnya jelek, kok diperistri? Memang sih ada yang baru ketahuan setelah menikah, ada yang sudah tahu tapi tetap maju, dan sekaranglah menanggung akibatnya. Nikah itu ngga main-main loh, makanya kenali calon dengan baik biar ngga kecewa. Sudah baik bibit bebet bobotnya pun ada aja godaan yang mampir, perlu cinta yang besar supaya ngga berubah jadi prahara.

Yang pasti, pernikahan itu persatuan dua manusia untuk saling membahagiakan. Jika poligami membuat salah satunya tersiksa, maka itu bukanlah pernikahan yang bahagia.

*

IndriHapsari

Advertisements