Naik Kereta Api Yuk!

Aduh kesannya lebay gitu yah, ngapain juga nyeritain pengalaman berkereta api, apa uniknya? Secara bisa jadi separuh rakyat Indonesia sudah pernah mencicipi naik kereta. Tapi pernah ngga naik kereta akhir-akhir ini? Karena tiket pesawat sekarang murah, mahal dikit dari kereta, banyak orang memutuskan naik pesawat aja. Lebih cepat, ngga pake nginep di jalan, lebih bersih, beli tiket ngga mesti ke bandara, dan…gengsinya dong!

Naik kereta api sudah makanan saya sejak kecil, secara ortu jadi dokter di PJKA (nama PT. KAI jaman dulu). Karena naik kereta api jadi satu fasilitas, alias gratis dan diskon buat keluarga pegawai, moda satu-satunya yang nyaman dan murah ya kereta. Mana ortu termasuk perantauan, jadilah tiap tahun pasti naik kereta dari ujung ke ujung. Karena itu, saya tahu bingit gimana keadaan naik kereta jaman dulu.

Sekarang udah tahunan ngga naik kereta, terutama sejak tiket pesawat murah, bertepatan dengan Ignasius Jonan menjadi dirut. Saya dengar banyak perubahan yang dilakukan, tapi ngga ngikutin benar dan ngga merasakan juga. Nah, ternyata saat yang ditungu-tunggu tiba. Saya akan naik kereta!

Sekarang, pesan tiket kereta bisa dari website. Bagus lah, daripada mondar mandir ke stasiun, dan kalau di kota besar malas yoo..menempuh kemacetan untuk bisa dapat tiket. Itupun kalau masih ada kursi kosongnya. Sekarang, tinggal buka dari kompie masing-masing, pilih kelas dan kursi, lalu ada konfirmasi pemesanan, kita tinggal ke atm untuk bayar. Ada email konfirmasi pembayaran, dan ada kodenya. Kode ini yang kita pakai untuk print tiket sendiri di stasiun. Modelnya kaya web check-in, tapi yang keluar tiket. Nah kalau yang ini mesti ke stasiun, tapi sampai satu jam sebelum berangkat masih bisa kok, jadi ngga perlu kesana duluan. Oya, selain web, pesan tiket juga bisa dilakukan di minimarket, lewat telepon, atau agen tiket yang makin banyak.

Untuk jaga-jaga, saya ngeprint duluan, beberapa hari sebelum berangkat. Jadi tahu deh, untuk penjualan tiket sudah pakai nomor urut dan dipanggilin, kaya di bank. Ada kursi-kursi buat nunggu. Gitu juga dengan customer service, ada 2 petugas yang siap membantu. Parkirnya juga sudah pakai mesin, stasiun bersih dan penuh dengan toko dan outlet makanan, atm, dan toilet yang bersih dan gratis.

Akhirnya datang hari yang ditunggu. Ruang tunggunya dibuat jadi gate, jadi yang bisa masuk yang pegang tiket untuk kereta berikutnya yang akan berangkat. Bersih dan banyak petugas. Penumpang juga dijamin ngga usah naik-turun kereta sampai terjengkang, karena semua platform sudah ditinggikan. Kalaupun ngga, ada petugas yang akan mencarikan tangga supaya penumpang bisa menaiki atau menuruni dengan mudah.
image

image

Di dalam keretanya bersih, yang mencolok ya running text yang menjelaskan letak urutan kursi. Kalau kursi sih sama yah, cuma karena biasanya naik pesawat, berasa lebar banget jarak antar kursi. Ada kantong di baliknya, lengkap dengan plastik buat buat sampah. Ada dua colokan di bawah jendela. Jendelanya lebih kecil, mungkin untuk meminimumkan resiko dilempar batu, yang untunglah selama perjalanan ngga ada. Bagasi kini tak terdiri dari besi yang disusun berongga, tapi platform dengan kemiringan khusus. Sepertinya untuk mencegah barang terjatuh karena guncangan di kereta. Di tiap kursi ada bantal kecil, dan waktu jalan dibagikan selimut yang masih terbungkus plastik laundry.

Tapi kereta perjalanannya relatif stabil dan nyaman kok. Ada kalimat sambutan, diwakili oleh pramugara yang bertugas, fotonya terpampang di televisi. Kata sambutannya kaya di pesawat, menyebutkan nama-nama yang bertugas, lalu disambung dengan bahasa Inggris. Pada setiap kota yang akan disinggahi, pramugaranya juga memberitahu. Sepanjang perjalanan televisi itu menayangkan film, yang kayanya cuma mereka-mereka yang duduknya depan aja yang bisa lihat.

Sepanjang perjalanan juga, on trip cleaning alias petugas kebersihan mondar mandir. Setiap lepas stasiun, dia keliling untuk ngepel. Kemudian beredar sambil nanya ada yang mau dibuang ngga. Yang paling beda, tentu aja toilet. Dulu sih di tengah perjalanan udah pesing, akibat pada pipis di lantai toilet, ngga mau di bolongan toilet yang tersedia. Sekarang sih tetep toilet jongkok, tapi pake flush dan selang air. Lalu tersedia tisu dan tempat sampah. Lantai toilet bersih karena rajin dibersihkàn.

Krunya masih muda-muda, rajin mondar mandir untuk mengedarkan makanan, minuman dan snack. Ada dua kru yang bertugas tiap kali pengantaran, menawarkan bistik, nasi goreng, nasi rames, mie rebus dan bakso. Gitu terus tuh, tiap setengah jam pasti ada yang lewat. Kalau dulu minum pakai gelas kaca, sekarang pakai gelas plastik yang tertutup. Harganya sama aja deh dari tahunan yang lalu, mie rebus 20 ribu ^_^’

Kereta masih diminati, karena bisa menjangkau kota-kota yang belum ada bandaranya, lebih murah dan stasiunnya berada di dalam kota. Mudah akses kemana-mana. Kalau ngga mepet waktunya sih, boleh juga tuh diulang lagi pengalamannya 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements