Beda Trinity, The Naked Traveler, dan Saya

IMG_3859.JPG

Kadang, untuk mempermudah komunikasi, saya seenaknya saja mencomot profesi agar orang lain dapat lebih mudah memahami. Misal, waktu disebut penulis, saya ho-oh saja meski nulisnya lebih ke curhat, ngga rajin, dan moody. Hayah, mana ada penulis seperti itu. Atau saat berusaha menjadi traveler, kalau dibandingin mbak Trinity ini jauuh…

Trinity saya kenal sebagai penulis travel pertama yang berbentuk buku di Indonesia. Sebelumnya saya rajin ngikutin tulisannya HOK Tanzil di majalan Intisari, sekitar tahun 80an. Iya, saya masih SD tapi suka banget dengan tulisan Pak Tanzil, yang membuka mata saya terhadap keunikan negara-negara lain, yang kebanyakan ngga mainstream. Maksudnya boro-boro travel agent, wong public transportationnya saja sangat minim kala itu, sehingga pak Tanzil banyak mengendarai mobil sewaaan.

Tulisan-tulisan Trinity selalu enak dibaca, segar, dan ngga kaya panduan perjalanan. Dia lebih banyak cerita pengalamannya, kadang malah satu topik dijadikan satu meski yang dia ceritakan banyak negara. Sejak muncul dua buku barunya yang Trinity Round The World dalam 1 tahun, tambah kentara deh perbedaan saya sebagai traveler dengan mbaknya.

1. Trinity berani blusukan, saya ngga
Negara-negara yang dia kunjungi adalah yang ngga kepikir oleh saya. Maklum lah, jam tebang beda, jadi kalau saya masih berkutat dengan rencana perjalanan ke negara-negara mainstream, Trinity sudah menikmati negara-negara yang nyempil, bahkan yang mungkin belum diupdate di peta. Selain itu karena tinggalnya di hostel, pasti dong blusukan di gang-gang, mengamati kelakuan penduduk lokal, sampai belanja ke pasar karena dia juga masak sendiri. Hmm…beda sama saya yang meski ngga pake jasa tour, tapi jalan-jalannya sesuai yang bisa diakses public transportation aja, ngga minat jalan kaki sampai 4 jam misalnya.

2. Trinity berani nawar, saya ngga
Karena kelilingan setahun, dengan berpuluh negara yang ia kunjungi, pastilah bekal uang ya harus cukup, apalagi dengan kurs Indonesia yang kalah dimana-mana. Apalagi ini uang sendiri, sehingga ia harus berhemat benar. Maka semua ditawar, mulai hostel, beli makan, sama biaya ikut tour. Yang hebat, nawarnya ngga pake bahasa Inggris karena negara-negara yang ia kunjungi ada yang ngga ngerti blas! Jadilah ia mesti belajar bahasa lokal, kalau ngga gerakan khas tarzan harus dipertunjukkan.

3. Trinity berani tidur di dorm, saya ngga
Meskipun pernah tidur di hostel, ngga masalah kalau rame-rame sama teman sendiri. Kalau Trinity cuek aja tidur dengan 6 orang lainnya (dia bareng 1 temannya di dorm isi 8 orang) yang ngga saling kenal. Yah bayangin kamar hostel yang sempit dan pengap itu, mesti berbagi berbagai macam bau. Belum ngoroknya. Belum berisiknya. Belum kalau ada yang ML di bawah…hadoooh….

4. Trinity berani masak sendiri, saya ngga
Karena penghematan tadi, dia mesti masak sendiri sehari sekali pas dinner. Soalnya selain mahal, keluar malam hari juga kurang aman. Ditambah duit mepet, jadilah ia membeli bahan masakan apapun yang lagi dijual murah disana. Peralatan masak hostel jadi korbannya, sampe diliatin tamu lain saking hebohnya. Makanan yang berkesan adalah saat mereka merebus sesuatu yang ngga tau apa, tapi baunya pesing banget, ternyata itu adalah ginjal sapi, tempat pipis berada! Hiiiiy!

5. Trinity sangat fleksibel, saya ngga terlalu
Dalam perjalanan, apapun bisa terjadi. Sehingga wajar kalau ada penggantian jadwal, penundaan, bahkan ada yang berujung kesia-siaan. Karena itu jadi traveler jangan spaneng, ini bukan negara sendiri, dan dunia begitu dinamisnya. Trinity berani berangkat meski visa belum di tangan dari tanah air, sesuatu yang mungkin sudah bikin saya menggagalkan rencana mengunjungi negara tersebut. Tapi memang ada banyak negara yang ngga punya perwakilan di Indonesia, sehingga harus dicari di negara lain yang sedang kita kunjungi. Berkali-kali ia ditipu, sehingga perjalanannya terganggu. Karena tujuannya harus dicapai, akhirnya ganti-ganti moda transportasi termasuk dibelain jalan kaki juga jadi andalannya.

Emang sih untuk ini semua saya bisa ngeles, selalu bawa keluarga sehingga ngga mungkin terlalu sengsara. Kenyamanan yang memadai memang jadi andalan saya saat melakukan perjalanan. Soalnya kami sedang liburan, masak sih liburan malah ngga menikmati gini? Akhirnya memang jatuhnya lebih mahal daripada backpackeran, bahkan dengan paket dari travel agent. Tapi pengalaman emang priceless, jadi itu konsekwensi yang harus dijalani.

Meskipun begitu, tetap saja kami punya kesamaan, suka pantai yang putih bersih bak bedak bayi, meski Trinity bisa berenang-renang di laut, sementara saya paling banter di pantai. Ia juga menyoroti posisi Indonesia yang selalu kalah sehingga selalu harus membuat visa kala masuk suatu negara. Atau di Indonesia nyawa manusia murah harganya, setuju juga. Perlu perhatian yang lebih tinggi pada kondisi keselamatan dalam perjalanan untuk mencegah kehilangan orang yang dicintai.

Dengan jalan-jalan melihat negeri yang lain, bukan berarti kita jadi ngga cinta bangsa sendiri. Perjalanan membuka mata kita, tentang hal-hal baru yang dapat kita bawa ke negeri sendiri, serta membaginya pada yang lain, kalau setiap negara itu punya keunikan masing-masing. Ya alamnya, ya budayanya, ya orang-orangnya.

*
IndriHapsari

Advertisements