Tabula Rasa : Artinya Apa?

Direview oleh dua media besar seperti Kompas dan Tempo, membuat saya kepingin – pingin untuk dapat menonton film tersebut di bioskop. Ya, setelah lama puasa nonton film Indonesia sejak yang terakhir kali adalah Laskar Pelangi, rasanya haus juga ya atas tayangan film Indonesia yang tak terlampau serius, terlampau berusaha supaya seram atau lucu.

image

Dari segi cerita, film ini unik karena tema sejenis belum pernah diangkat, yaitu tema kuliner. Lalu benturan budaya antar suku, juga membuat film ini begitu hidup. Pemainnya berasa orang daerah semua, bukan orang Jakarta yang dicemplungkan ke daerah.

image

Hal lain yang patut dipuji adalah detilnya. Situasi di dapur, pemilihan kata dalam dialog dan tentu saja proses memasak dengan kayu bakarnya. Selain itu dapat bonus pemandangan indah di Papua, yang asli deh bikin mupeng pingin kesana.

image

Kelemahannya, film ini membosankan dan ngga tau mau kemana. Mungkin karena fokus cerita pada kuliner tadi, sehingga banyak zoom yang memperlambat cerita. Untung aja belum seperti sinetron Indonesia. Karena konfliknya terbatas, akibatnya jadi tidak bisa memanfaatkan waktu yang ada. Padahal film lain, terutama film luar, sudah rebutan menitipkan adegan. Lalu di belakang enak aja gituh endingnya digantung, membuat penonton pulang dengan penasaran. Sama seperti judul film ini yang sampai saat ini saya belum tahu artinya apa.

Meski begitu, anak saya bisa ikutan ngikik dengan adegan-adegan yang muncul di layar. Lalu film ini sungguh suatu terobosan, menghadirkan gulai kepala ikan tepat di hadapan penonton. Memperlihatkan masakan Indonesia itu ngga main-main enaknya dan cara bikinnya. Biarlah film ini menjadi pengingat atas kekayaan kuliner Indonesia.

***
IndriHapsari

Advertisements