Maka Aku Berjanji

– Rio –
Sebaiknya jangan aku ulangi lagi.

Dengan menyesal kupacu sepeda motorku menjauhi Dea yang sudah sampai di rumah temannya. Awalnya kedatanganku di kos untuk menemui Riska, namun begitu melihat Dea muncul dari balik gerbang..aku tak bisa lagi menahan…rinduku.

Kusapa ia, yang nampaknya kaku berbicara denganku. Bukannya mundur, hal itu malah membuatku penasaran…Dea…tidak bisakah kita seperti dulu? Namun sepanjang perjalanan dengan Dea di belakangku, membuatku berpikir mungkin aku sudah salah langkah.

Dengan begini, aku lagi-lagi tak bisa lepas darinya.

Memang tidak menemuinya adalah obat terbaik bagi rinduku. Pahit, tapi tetap harus ditelan, demi kesehatan jiwaku.

Senyum manis Riska saat menemuiku, mungkin jadi vitaminnya…

*
‘Fotomu banyak,’ kata Riska sambil melihat-lihat isi laptopku.

‘Ehm…iya…’ jawabku malas. Aku sedang menonton pertandingan bulutangkis di televisi, sementara Riska meminjam laptopku untuk mengerjakan tugasnya. Kami hanya berdua di ruang tamu kosnya Riska, batas seorang tamu laki-laki diperbolehkan masuk. Sebuah televisi menggantung di sudut ruangan, menemani para tamu yang menunggu penghuni kos keluar. Sementara itu Riska bersimpuh di lantai, sibuk melihat isi laptopku yang ditaruh di meja tamu.

‘Sering ikut kegiatan ya…narsis juga…’ kata Riska sambil tertawa. Aku hanya tersenyum tanpa melihatnya.

‘Wah, kayanya kamu dekat banget ya sama Dea,’ celetuk Riska.

Aku membeku. Aku lupa! Pada setiap kegiatanku, ada Dea. Seandainyapun tidak, ada foto-foto yang sengaja kuambil saat kulihat ia dari jauh. Foto di ponsel memang sudah kuhilangkan, tapi aku lupa sebagian sudah kupindah ke laptop.

‘Teman,’ jawabku singkat. Kali ini pandanganku kuarahkan pada Riska.

‘Oooh..habis..dimana-mana ada Dea sepertinya…’ kata Riska pelan.

‘Ngga boleh?’ tanyaku sambil menghampiri Riska. Aku ikut duduk bersimpuh di belakangnya. Tanganku sudah bergerak menyentuh mouse yang sedang ia pegang. Tangan kami beradu. Daguku bertumpu di bahunya.

‘Ah…eh…ngga apa…’ jawab Riska salah tingkah.

‘Mestinya memang ngga apa,’ kataku sambil mengecup bibirnya lembut.

Wajahnya memerah. Ia sibuk menenangkan degup jantungnya, sementara dengan sigap aku memilih menu shut down.

Layar laptop menghitam.

*

– Dea –

Mungkin kalau sang waktu bisa diputar kembali, aku memilih menghilangkan satu detik dalam hidupku. Saat jam empat lebih tujuh belas menit dan lima puluh detik. Karena pada detik berikutnya, saat aku melewati ruang tamu hendak menuju kamar kos, aku melihatnya.

Rio mengecup bibir Riska.

Bukan aku.

*

Lanjutan dari Jika Aku Menjadi

Advertisements