Kejutan Hiburan Bukit Tinggi

Selama saya mengikuti seminar di beberapa daerah, jarang acara pembukaan diisi dengan tari tradisional. Mungkin kalau di Bali pakai ya, tapi sekali ini saya baru tahu nih dari seminar kemarin di Bukittinggi. Musiknya dari alat musik talempong seperti kenong/gamelan yang dipukul seperti kolintang, lalu ada juga suling pendek dengan bunyi melengking, dan gendang. Hasilnya adalah irama menghentak yang bikin orang semangat dan bergerak cepat.

Biasanya tarian di Minang ini dibawakan oleh laki-laki dan perempuan, sama-sama dengan gerakan yang lebih cepat dari tarian yang biasa kita saksikan di Jawa. Yang laki-laki terutama, meski menari tapi gerakannya ngga gemulai, lebih mirip pencak silat.

Tari piring pasti di antara kita sudah pernah menyaksikan ya. Pokoknya begitu penarinya keluar membawa piring di kedua tangannya, siap-suap kagum deh. Soalnya gerakannya cepat dan itu piring bagai melekat di telapak tangan penari. Anggaplah piringnya punya cekungan di bagian pantatnya, tetap saja membalik-balik piring dalam waktu yang lama membuat tangan basah berkeringat dan potensi jatuh besar.

image

Tarian yang saya saksikanpun begitu. Setelah penari wanita dan pria ini membalik-balikkan kedua piring di tangannya, berikut muncul satu penari tambahan, wanita yang ambil posisi di tengah. Sempat heran juga kenapa kok baru muncul sekarang. Ternyata..hampir di akhir tarian uni (jawa : mbak) ini lompat-lompat di atas pecahan piring yang sudah ditaruh di atas panggung. Arrrgh!! Horoooor! Saya sampai bengong melihat itu. Haduuh…nginjek pecahan kaca aja kalau bisa jangan sampai, ini malah nginjek pecahan piring!

Acara hiburan yang lain, entah apa namanya, tapi saya namai ceki saja ya. Awalnya sih ada hiburan ortung alias organ tunggal di awal. Seorang pria memainkan keyboardnya, lalu uni yang manis ini menyanyikan lagu-lagu nostalgia. Ok, itu biasa.

Eh udah gitu kita dibagiin kartu macam begini..jadi ada beberapa lembar kartu yang tidak sama warnanya, lalu terdapat enam baris dengan kotak-kotak kecil di dalamnya. Di antara kotak-kotak tersebut ada angka random, dan ada juga otak yang kosong.

Uni penyanyi membawa tabung yang dia kocok-kocok, katanya ia akan mengambil nomor dari tabung tersebut, lalu kita disuruh mencoret angka yang tercantum dalam kotak itu. Kalau sudah sebaris ada 5 angka dicoret, kita bisa mengacungkan lembaran kertas supaya uni penyanyi menghentikan permainannya dan kita bisa mengambil hadiahnya. Itu namanya sudah ceki.

Saya jadi teringat permainan Bingo. Meski ngga pernah mainin langsung, di iPad doang, tapi pernah liat filmnya Mr. BEAN yang main Bingo sampe tertelan ikan mas yang dia simpan dalam mulutnya. Ini mestinya mirip nih…dan sebagai pengganti papan ada layar LCD yang menayangkan angka 1 sampai 100, untuk menandakan angka mana yang telah keluar.

Ternyata permainan ini lebih heboh lagi.

Uni penyanyi ngga sekadar mengambil nomor dari tabung, tapi dia juga menyanyikannya. Lagunya sih iramanya seperti lagu biasa, tapi liriknya dia ganti dengan pantun yang haish… susah bana! Bayangin nomornya muncul random, trus dia mesti mikir cepat angka ini berpadan dengan kata apa, dibarengi sama ambil nomor lainnya. Belum ngawasi pemain yang siapa tahu ada yang mengangkat tangannya. Pantas saja para pujangga lahir dari tanah ini, lah abis kreatif abis.

Soal itu terasa juga waktu pemandu kami banyak cerita soal pepatah -pepatah Minang di sepanjang perjalanan. Ais, susah saya menirukannya, tapi bahasa Melayu yang menghiasi banyak kosakata bahasa Indonesia memang indah. Terus memadupadankan ujung pengucapannya juga susah kan, seperti rima dalam pantun. Namun semoga video ini bisa menggambarkan bagaimana permainan ini dilakukan.

Sayang sekali di permainan ceki ini (kata teman saya yang orang Padang namanya KIM) saya ngga menang blas. Habis uninya makin cepat membawakan lagunya plus menyebut nomornya. Meleng dikit terlewat sudah. Tapi mengikuti permainan ini sungguh pengalaman tak terlupakan.

***
IndriHapsari

Advertisements