Jika Aku Menjadi ..

– Dea –
Aku sudah siap.

Dengan hari-hari berat yang akan kuhadapi. Melihat Rio berduaan dengan Riska, dan mungkin hanya aku yang tertinggal sendiri. Konyol memang, karena aku selalu katakan pada Rio dulu, kala ia mengalami kegagalan, bahwa suasana galau itu ia yang ciptakan.

‘Mana bisa seperti itu!’ katanya kesal. Kalau kupikir-pikir lagi, memang tega sih aku, orang lagi sedih begitu malah disalah-salahkan. Tapi saat itu aku terlalu bersemangat untuk menghiburnya.

‘Bener Rio, gagal itu nasib. Tapi sedih atau tidak, itu pilihan. Jadi kalau kau bisa mengendalikan perasaanmu, kejadian seperti ini akan kau ingat sebagai satu episode kecil dalam hidupmu.’

Dan dengan gemas ia mengacak-acak rambutku, karena sebenarnya perkataanku benar sih, hanya tidak diucapkan pada saat yang tepat.

Aku tercenung. Rio lagi. Padahal aku sedang mempersiapkan nyaliku, agar tidak mengerut saat menyaksikan mereka berdua di hadapanku.

Hal itu bertambah berat, karena Riska teman sekosku.

Aku sampai berjanji, jika mbak kos memanggil Riska karena ada temannya, aku tidak akan keluar dari kamarku, karena siapa tahu yang datang adalah Rio, dan aku mesti menyaksikan kemesraan mereka berdua.

Namun kadang nasib sial melanda.

Misal saat aku hendak keluar kos, dan Rio menghentikan motornya tepat di depanku.

‘De! Lama nih ngga ketemu! Mau kemana?’ katanya sambil melepas helmnya. Kacamata hitamnya berkilau terkena sinar matahari. Senyumnya yang ramah menghiasi wajahnya yang tampan.

Dengan ragu aku menjawab hendak ke rumah teman. Saat dikejar siapa temanku, ku asal saja menyebut nama salah satu teman kelompokku.

‘Kuantar.’ katanya sambil bersiap memakai helm lagi.

‘Haa…jangan!’ cegahku panik. ‘Riska.’ kataku mengingatkan. Dan entah mengapa saat kuucapkan pedih rasanya. Membangunkanku dari lamunan, Rio datang untuk Riska.

‘Ngga apa,’ katanya sambil menggunakan helmnya. ‘Aku belum janjian mau kesini kok, iseng aja tadi mampir. Yuk!’ katanya sambil menstarter motornya.

‘De, ayo!’ katanya lagi saat melihatku masih mematung. Haduh…semoga temanku ada di rumah!

Di jalan tak banyak yang kami ceritakan. Hanya perbincangan kaku, yang kemudian berakhir dengan kesunyian. Saat terlihat kos temanku, aku bernafas lega. Sungguh bukan perjalanan yang menyenangkan.

‘De, ditungguin?’ kata Rio setelah aku turun dari motornya. Aku menggeleng cepat.

‘Ngga usah Rio. Aku bakal lama disini. Tinggal aja. Makasih ya…’ Ingin kubertanya, apakah ia akan kembali menemui Riska? Namun urung kutanyakan, nyaliku belum seberapa besar.

‘Anytime, De,’ katanya sambil tersenyum. Lalu ia berlalu dari hadapanku.

Aku tetap berdiri di depan rumah temanku. Tak berniat memeriksa apakah ia ada di situ.

*

‘De…boleh nanya?’ kata Riska waktu kami sedang berkumpul di ruang televisi. Televisi sedang menayangkan panggung gembira ulang tahunnya. Banyak artis terkenal dan lagu yang menarik. Semua penghuni kos menonton, sibuk berkomentar ini itu, kecuali aku yang lagi ngga mood tapi dipaksa nonton juga. Alhasil aku duduk di belakang, sendirian, sebelum Riska datang.

‘Kamu kan teman SMA Rio…’ katanya. Ah, akhirnya saat ini datang juga setelah lama kuhindari. ‘Dia tuh gimana sih sama cewek?’ tanyanya sambil duduk di sampingku.

‘Mmm…baik sih…kenapa?’ tanyaku ingin tahu.

‘Ya itu..dia baik kan sama semua orang…trus…gimana taunya dia suka apa ngga sama aku?’

Ingin kujawab, ‘tanyakan saja ke dia!’ tapi akupun pengecut yang sama, tidak akan pernah berani mengatakan itu pada Rio.

‘Ya…dia kan rajin jemput kamu kuliah…perhatian…rajin nungguin kamu pulang…ngga pernah marah…bukankah itu tanda suka?’ Rasanya aku perlu ditampar, bukankah itu yang dulu Rio lakukan padaku? Lalu kenapa cemburu begitu ia melakukan hal yang sama pada Riska?

‘Iya siih…tapi…orangnya emang baik gitu ya?’ tanya Riska ragu.

Aku menatapnya dengan kasihan. Riska, tahukah kamu, betapa beruntungnya dirimu?

***
Lanjutan dari Yang Ku Mau Hanya Kamu

Advertisements