Selingkuh di Segala Lini

Apa sih arti selingkuh?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; suka menggelapkan uang; korup; dan suka menyeleweng. Hmm…ternyata bukan hanya hubungan pria dan wanita saja ya.

Let’s see. Berselingkuh dari pasangan resmi, pasti bukan hanya kesalahan atau kekurangan dari pasangan saja, atau begitu menariknya calon selingkuhan. Semua itu bakal terjadi kalau ada niat, ya, sekali lagi, NIAT. Silakan salahkan pasangan resmi kurang ini dan kurang itu, suasana begitu romantisnya hingga lupa sudah menjalani pernikahan, dia begitu seksinya sehingga terjadilah yang selalu dikhayalkan. Memangnya kita anak kecil, bisa dibohongi begitu rupa? Kalau sudah NIAT, mulailah kita menyalahkan hal-hal sepele. Suami saya kurang ganteng, istri saya kurang langsing, pacar saya kurang perhatian. Helloooo..dulu waktu milih gimana sih? Bukannya sudah ketahuan bahwa si dia memang kurang sekseeh, terus kenapa sekarang jadi masalah?

Kalau urusan syahwat sudah beres, bagaimana dengan urusan pekerjaan? Seorang pegawai juga bisa selingkuh lo. Tiap hari berangkat kerja, absen di finger print, tapi kemudian menghilang seharian. Nanti waktu mau pulang, balik deh ke kantor, absen lagi. Atau seharian ada di kantor, tapi jadwalnya : jam 8-9 baca koran, jam 9-12 browsing, jam 12-2 makan siang, jam 2-4 agak ngantuk nungguin jam pulang. Apa tidak termasuk curang tuh, makan gaji buta? Apalagi kalau dibiayai oleh Negara.
Dalam area yang lebih besar, seorang pejabat pemerintah bisa juga melakukan perselingkuhan. Wuih enaknya ya, saya main tuduh saja. Jangan salah, ingat tidak sumpah yang telah diucapkan waktu diangkat menjadi pejabat? Sudah dilaksanakan belum dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya? Korupsi ngga? Atau waktu diangkat jadi wakil rakyat, apa benar sudah memperjuangkan suara rakyat. Belum lagi yang janji-janji waktu kampanye. Janji ini itu supaya dipilih, setelah itu selingkuh dengan apa yang telah dijanjikannya. Maaf ya, kepentingan partai lebih mendesak daripada kepentingan konstituen.

Lalu apa efeknya? Kalau tidak ketahuan, ya sama-sama senang. Pasangan tetap happy mengira si dia masih sayang, boss senang mengira pegawainya rajin, dan rakyat senang ada yang memperjuangkan keluhan mereka. Lama-lama efeknya mulai terasa, lama-lama kebusukan ya tercium juga. Kok si dia jadi jarang pulang ya…kok kinerja perusahaan begini-begini saja ya, banyak urusan yang tidak beres. Rakyat? Mulai muak dan kecewa terhadap janji-janji yang diucapkan, tapi mana hasilnya? Yang dipertontokan hanya pejabat yang asal ngecap menyelamatkan posisinya. Tidak ada yang berani bilang ‘ya, saya yang salah’ lalu mundur atau harakiri sekalian.
Jika selingkuh ini telah mendarah daging, akan bermunculan banyak manusia busuk, yang menghasilkan negara yang busuk pula. Ayo, mulai dari diri sendiri, berantas selingkuh di segala lini!

Advertisements