Alasan Mem-Blacklist Restoran

Untuk makan siang ataupun hari libur, biasanya saya pergi bersama teman atau keluarga ke tempat makan. Tidak melulu restoran, kadang warung, depot, pujasera, kantin atau apapun namanya, yang penting tempat makan. Terdapat beberapa hal yang kami pertimbangkan sebelum memilihnya, antara lain rasa, harga, pelayanan dan kebersihan. Terdapat beberapa pertimbangan juga yang menyebabkan kami tidak akan kembali, meskipun rasanya luar biasa enaknya. Pertimbangan itu adalah :

1. Tidak bersih
Meja masih kotor dan tidak segera dibersihkan. Kami memaklumi kalau tempat tersebut sedang penuh, namun kalau pelanggan dibiarkan berlama-lama dengan meja kotor, apalagi disuruh makan di meja yang kotor maka hal tersebut cukup untuk membuat kami menghindari tempat tersebut. Biasanya hal ini terjadi di pujasera, dimana sekumpulan stand menawarkan berbagai jenis makanan, dan petugas yang dimiliki adalah milik bersama. Sehingga pengawasan terhadap meja kotor kurang diperhatikan. Saya pernah juga makan di warung bebek pinggir jalan yang dipenuhi oleh tawon, karena mereka tertarik ke pemanis yang digunakan untuk minuman. Buat saya tidak masalah asal yang berterbangan bukan lalat, si pembawa penyakit. Pegawai warung juga sigap membersihkan, dan tidak ada tulang-tulang bebek dan tissue yang bertebaran di bawah. Saya pernah makan di restoran Jepang yang cabangnya sudah dimana-mana. Minuman saya adalah ocha (teh hijau), dan saat saya hendak meminumnya, tercium bau amis dari gelas keramik tersebut. Ini ndak bersih nyucinya atau gimana?

2. Panjang sedotan tidak sama
Karena saya sering makan bersama teman atau keluarga, kadang sambil menunggu makanan keluar kami membandingkan minuman masing-masing. Dan biasanya yang menjadi perhatian kami adalah panjang sedotan. Aneh saja kalau ada yang panjangnya tidak sama. Kami curiga sedotan tersebut bekas pakai, dan karena ada bekas gigitannya, maka dipotong sedikit. Tentu saja kami menolak menggunakan sedotan ini, dan minta ganti ke pramusaji. Sedangkan sedotan yang berbeda panjang tadi kami tekuk-tekuk agar tidak dipergunakan lagi.

3. Ada rambut
Sepele sih, dan jarang kelihatan. Beda misalnya kalau ada lalat, ulat, atau kecoak kecil yang masuk. Ini sih tidak bisa ditolerir. Tapi terus terang kami jadi ilfil (ilang filling) kalau melihat ada sehelai rambut masuk ke makanan kami. Bayangan kami adalah rambut yang belum dikeramasi, berminyak, dan kotor. Namun ini tidak seberapa. Seorang teman pernah menemukan rambut PENDEK di meja kedai yoghurt langganannya. Tidak perlu dijelaskan cukup imajinasi saja yang bicara, kok bisa-bisanya rambut itu sampai di meja.

4. Pramusaji judes
Kami makan di suatu tempat salah satu tujuannya adalah merasakan atmosfir yang berbeda. Namun berbeda itu bukanlah ‘dikasari, dicuekin, diintimidasi’. Ada seorang pramusaji yang berdecak kesal saat saya meminta tambahan minuman. Ada yang mengatakan ’sebentar ya, saya lagi sibuk’ sambil berlalu begitu saja. Sebenarnya cukup ’sebentar ya’ saja dan kami pasti mau menunggu. Tapi kalau ditambah ’saya lagi sibuk’ artinya permintaan kami cukup mengganggunya, meskipun itu adalah resiko pekerjaannya untuk disibukkan pelanggan.

5. Tidak jujur
Hal ini terjadi biasanya saat makan beramai-ramai, pesanannya sangat beragam, sehingga jarang dilakukan pemeriksaan terhadap tagihan. Apalagi kalau makannya dengan klien, malu dong kalau periksa tagihan dengan detail dan lama. Paling pulang ngamuk-ngamuk karena yang ditagih tidak sesuai dengan yang dimakan, dan berjanji untuk tidak kesana lagi.

6. Tidak aman
Keamanan terhadap barang bawaan memang menjadi tanggung jawab pengunjung. Banyak kejadian yang saya dengar, syukurlah belum pernah saya alami. Misal ada yang menaruh handphonenya di meja, kemudian disaut (diambil dengan cepat) oleh orang yang melewati meja tersebut. Ada juga yang menaruh tasnya di belakang, kemudian ditarik oleh orang yang berada di belakangnya. Entah pengunjung lain atau orang lain yang melakukannya. Teman saya parkir mobil untuk makan soto di warung pinggir jalan, kaca mobilnya dihancurkan untuk mengambil handphone yang ada di dalam mobil. Hal ini dilakukan pada siang hari, dan area parkir dijaga oleh tukang parkir.

7. Banyak pengamen
Hal ini terjadi kalau kita makan di pinggir jalan, baik warung maupun depot. Sangat mengganggu karena pengamennya tidak hanya satu, dan semua dengan agak memaksa minta untuk diberi uang. Baru mau menyuap, sudah harus buka dompet lagi untuk mengambil uang.

8. Smoking room
Ruangan untuk perokok seharusnya dipisahkan dengan sekat, atau berada di luar. Kalau tempat makannya terbuka, sebenarnya tidak ada masalah. Kami yang tidak merokok ini akan memilih tempat yang agak jauh, bila sudah ada meja yang ditempati perokok. Yang jadi masalah jika hal ini terjadi di ruangan tertutup dan berAC, orang masih bebas merokok di ruangan tanpa sekat. Kalau istilah teman saya ‘one big smoking room’.

Saya cerewet ya? Dan rasanya bukan hanya saya saja. Maraknya bisnis kuliner membuat kami gampang berpindah ke tempat lain. Semoga yang saya tuliskan ini bisa menjadi masukan bagi para pelaku usahanya.

Advertisements