Jangan Ludahi Sumur Tempat Kau Mengambil Air Minum

Paling mudah memang mengomentari ini itu, mengkritik ini itu, menyarankan ini itu. Yang menjalankan orang lain ini. Yang penting kita kan sudah memberikan ide, dan ide itu mahal harganya. Mau mumet melaksanakannya, maaf ya, itu bukan urusan saya!

Kalau kecewa, saya bisa koar-koar kemana-mana. Berbicara keras-keras dan pada siapa saja, untuk memberikan kesan PINTAR pada setiap ucapan saya. Jangan lupa selipkan kata yang sulit dicerna dan mbulet artinya, supaya orang makin bingung kita ngomong apa.

Masalahnya adalah kalau saya mulai membicarakan orang-orang di sekitar saya, keluarga saya, teman saya dan tempat saya bekerja dalam konteks yang negatif, dan mengatakannya pada orang-orang di luar mereka yang membuat saya kecewa. Kenapa? Karena saya terlalu pengecut untuk langsung mengatakannya.

Dengan orang lan, saya bebas berbicara apapun, tanpa menyebabkan potensi konflik. Namun hal ini saya lakukan, terutama karena orang yang saya beritahu ini tidak tahu yang SEBENARNYA. Bahwa mungkin saja saya yang brengsek sehingga menyebabkan semua hal buruk ini terjadi. Tapi gengsi dong mengakui kesalahan diri sendiri. Lempar saja ke orang lain, dia ngga akan tahu ini siapa yang menyebarkan.

Tujuannya jelas, pembunuhan karakter, penciptaan stigma negatif dan yang paling penting, pandangan sinis orang lain. Saat itu terjadi, saya akan tertawa-tawa dalam hati. Berhasil dong saya mengerjai!

Namun yang saya tidak sadari, orang-orang yang saya rugikan adalah teman-teman saya. Saya tidak sadar bahwa orang lain akan memandang saya sebagai sekutu dari orang-orang brengsek itu. Mereka keluarga saya. Sehingga kalau saya menjelekkannya, baru sadar bahwa saya sedarah dengan mereka! Mereka rekan kerja saya. Pencitraan yang buruk akan berpengaruh ke seretnya semua usaha yang dilakukan perusahaan, dan itu terjadi karena saya menyebarkan hal buruk ke orang lain.

Bagaimana dengan Kompasiana? Kita tiap hari berinteraksi di sini, berbagai macam kepala dengan berbagai macam pendapat. Ingat yang menyaksikan bukan hanya anggota, namun semua pembaca dari seluruh dunia, alien bila ada. Dan masih saja menjelek-jelekkan teman sendiri karena tidak sependapat? Kesannya Kompasiana adalah sekumpulan orang-orang (sok) pintar yang kerjanya memaksakan kehendak, dengan tulisan yang berbau provokasi tidak hormat.

Jika berbeda pendapat, utarakan dengan cara yang elegan. Hingga siapapun yang melihat, dapat mengambil manfaat meski mereka tidak tahu apa maksud tersembunyi dari penulisnya. Lakukan dengan cara yang halus, buktikan bahwa kita cukup terpelajar dan terhormat untuk tidak menghancurkan sendiri komunitas yang kita bangun bersama.
Ya, saat kau meludah di sumurmu, sumur itu menjadi terlalu kotor untuk kau gunakan. Dan apalah kau tanpa sumurmu?

6 comments

  1. karena sumurnya kotor & gak mudah menjernihkan airnya, kayaknya mbak Indri skrg sementara waktu pindah ke “sumur” lainnya yg airnya bening & menyegarkan…. 🙂

  2. Di tempat kerja yang lama ada orang yang tiap harinya ngeluuuuuuuuh mulu dan jelek-jelekin manajemen padahal dia dipromote dan dapet segala fasilitas. Akhirnya saya yang keluar karena daripada jelekjelekin sumur tempat saya nimba air.

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s