Hermes Temptation

Cerita 1: seorang sosialita, anak mantan gubernur Jakarta, mendatangi sebuah toko yang sedang menjual tas Hermes. Karena pegawai toko tidak mengenalinya, pulanglah dia dengan sebal tanpa membeli satupun. Kemudian sekretarisnya datang kembali ke toko tersebut, membeli dan membayar tas yang seharga mobil itu, tunai.

Cerita 2: seorang artis yang tidak ketahuan kegiatannya apa, muncul di acara My Collection di televisi. Dia memiliki lemari khusus yang memuat koleksi tas Hermesnya, dan sepatu warna senada dengan merk Loubotin. Pertanyaan: dapat duit darimana ya bisa beli koleksi seharga milyaran?
Berdasarkan dua cerita di atas, saya penasaran dengan sepak terjang tas yang digilai para sosialita Indonesia. Kenapa ya kok bisa semahal itu? Apa yang dilakukan orang untuk mendapatkannya? Dan bagaimana membedakan yang asli dan palsu, karena di Indonesia banyak beredar tiruannya.

Terbitnya buku Hermes Temptation yang ditulis Fitria Yusuf (Fifi) dan Alexandra Dewi (Dewi) ini membangkitkan keinginantahuan saya. Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris ini mudah dimengerti, dan saya suka ilustrasi yang memisahkan setiap bab. Unik dan berwarna.
Buku ini terdiri dari 16 bab, ditambah 4 bab tambahan. Secara bergantian Fifi dan Dewi menceritakan pengalaman, perasaan dan perjuangan sebagai reseller tas Hermes untuk melayani pesanan dari sosialita ibukota.

Pertanyaan pertama tentang kenapa sih para sosialita itu rela ’sold their soul’ (pinjam istilahnya Samuel Mulia) untuk tas Hermes? Sebagai informasi, harga tasnya berkisar antara USD 5.000 hingga USD 15.000. Alasannya adalah:
– Prestige, karena dapat masuk dalam pergaulan sosialita dan kesulitan yang dihadapi untuk mendapatkannya. Pembelian harus dilakukan di Paris, bersaing dengan antrian panjang turis dari Jepang. Padahal tidak selalu model dan warna yang diinginkan ada. Waiting list bisa sampai tahun depan atau musim berikutnya.
– Kualitas, karena menggunakan material kulit, terdapat sertifikat Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) untuk menjamin bahwa kulit binatang yang dipakai bukan hasil perburuan ilegal. Bentuknya simpel, tahan lama dan modelnya tidak lekang oleh waktu.
– Investasi, karena harga secondnya juga tetap mahal jika tas terawat dengan baik.

Fifi dan Dewi mengumumkan tas apa yang dijual melalui grup Blackberry Messenger (BBM), dan berusaha menjawab semua pertanyaan meskipun dengan hal itu mereka terpaksa mengecewakan orang di sekitar dan keluarga karena kecanduan dengan BBM.
‘Heyyy…you are FUN when you’re not using your Blackberry!’ sindir seorang teman.

Ada satu bab khusus yang menceritakan betapa paniknya Dewi ketika Blackberrynya (BB) harus diformat ulang sehingga hilanglah semua kontaknya. Lebih gawat lagi, ternyata kontak di BB milik Fifi juga ikut hilang! Jadilah mereka harus mengundang 7 grup kali 30 orang lagi satu persatu.

Kesulitan yang dihadapi antara lain Fifi lupa meminta sertikat CITES sehingga ia harus ke Singapura untuk mengurusnya. Pembelian tas harus dilakukan di toko Hermes di Paris, kemudian toko akan mengirimkannya ke Singapura atau Hongkong, untuk kemudian ‘dijemput’ oleh kedua Ibu ini dan dibawa masuk Indonesia. Ada pembeli yang meminta cicilan pembayaran. Ada juga pembeli yang membatalkan pesanan, padahal tas sudah berada di Jakarta dan siap untuk diserahkan.

Dewi mengatakan bahwa margin di luar harga tas tidaklah besar. Apalagi setelah dikurangi dengan biaya perjalanan dan akomodasi, dia menyumbangkan sisanya pada yayasan sosial yang menangani penderita shizophrenia dan autisme pada keluarga miskin. Namun yang dia dapatkan adalah kesenangan karena bisa ‘window-shopping everyday’.
Karena hanya mereka berdua yang mengerjakan semua proses, jadilah mereka merangkap pekerjaan sebagai ‘founder, CEO,secretary, accountant, debt collector, administrator, billing, buyer, telemarketing, information technology, and QCG = quality control girls’. Fifi dan Dewi menjadi sahabat karib, bukan hanya karena aktivitas yang padat, namun mereka saling mengerti kondisi masing-masing. Tidak saling menyalahkan, atau menghitung jasa apa yang masing-masing sudah lakukan. Oleh karena itu mereka dapat tetap bertahan dalam bisnis dan pertemanan. Kemudian suami juga mendukung bisnis mereka meski untuk modal pembelian tas mereka harus mempergunakan dana masa depan untuk sekolah anak.

Di akhir buku, Fifi dan Dewi menyertakan model tas Hermes beserta gambarnya, jenis kulit yang digunakan, dan cara membedakan yang asli dan yang palsu.
Hal lain yang saya suka dari buku ini, mereka mengatakan penulisan buku ini dilakukan karena hobi, dan :

‘A good hobby should nourish your mind, not consume your soul’

Like it!

Judul : Hermes Temptation

Penulis : Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman : 351 halaman

Cetakan: pertama, 2011

Advertisements