Sabar

Di supermarket. ‘Ayo dong, cepetan!’ bentak seorang ibu pada anaknya yang berusia 3 tahun. Anak ini baru berjingkat mengambil snack kesukaannya dari rak pajangan, membawa snack di kedua tangannya, dan dengan kaki-kakinya yang kecil dia berusaha mengejar ibunya, yang sudah balik kanan meninggalkannya.

Di rumah. ‘Oma kemana saja sih? Cepet cari mbak, kita sudah mau berangkat nih!’. Dengan tergopoh-gopoh mbak di rumah menuju kamar Oma, mengetuk kamarnya dengan hati-hati sambil menyampaikan pesan majikannya. Oma di dalam kamar sedang terduduk di tepi tempat tidur. Tangan-tangan keriputnya berusaha memasukkan kancing baju ke lubangnya, tapi sulit nian. Rasa sakit mulai menjalar ke telapak tangannya.

Di area parkir yang padat. Seorang pengendara mobil menunggu dengan tidak sabar untuk lewat, karena di depannya ada seorang ibu sedang berusaha parkir mundur di area yang kosong. Belum pas juga, hingga untuk kesekian kali dia maju menghalangi pengendara yang menunggu itu. Kesal, si pengendara membunyikan klaksonnya dengan keras, lama, dan berulang. Menambah kepanikan ibu yang berusaha parkir dengan benar.

########

Kita, mudah sekali untuk merasa tidak sabaran terhadap orang lain, dan mengekspresikannya dalam kemarahan. Keadaan ini makin diperparah dengan kemajuan jaman, dimana waktu seakan terlalu cepat berputar dan kita selalu dikejar kesibukan. Lihat saja dari kebiasaan membaca yang berubah. Kalau dulu cukup mudah untuk membaca habis satu buku, kini sulit sekali untuk fokus membacanya sampai selesai. Selain terlalu panjang, banyak informasi lain yang datang belakangan menarik untuk dibaca. Pola membaca lewat media online pun sekarang seperti membentuk huruf F. Baca beberapa kalimat paling atas, turun ke tengah, baca beberapa baris lagi di tengah, dan lewati semua baris sampai bawah.

Tidak heran jika untuk hal yang sederhana seperti membaca saja kita sudah terburu-buru, apalagi untuk hal-hal lain. Begitu mudahnya untuk tidak sabar, begitu mudahnya untuk marah. Padahal kita tahu niat baik jika disampaikan dengan tidak baik, tidak akan merubah apapun.

Bagaimana caranya bersabar? Bayangkan saja kita berada pada posisi mereka. Seorang anak kecil yang gerakannya masih lambat. Seorang oma yang kesehatannya makin menurun. Seorang ibu yang tidak piawai berkendara, tapi harus berkendara untuk anak-anak dan keluarganya. Kalau kita di posisi mereka, apa yang kita harapkan? Perlakukan orang lain seperti kita ingin mereka memperlakukan kita. Sabar, karena bayangkan kita di posisi tidak BISA.

Cara lainnya adalah, lihat diri kita sendiri. Apakah kita sesempurna itu sebagai manusia? Sangat suci, tidak pernah berdosa, dalam tindakan dan pemikiran? Jika jawabannya ‘ya, saya sempurna’ maka Anda tidak perlu membaca habis artikel ini, karena Anda bukan manusia. Tapi jika Anda mengakuinya, bayangkan betapa sabarnya Tuhan selama ini menahan diri untuk tidak memukul kita karena kebandelan yang kita lakukan selama di dunia. Bandel, karena sudah dibilangi beberapa kali tetap saja mengulang dosa yang sama. Padahal kita MAMPU untuk menghindarinya. Seharusnya hukuman sudah menimpa kita. Tapi lihat apa yang Tuhan lakukan? Bahkan Tuhan tidak membunyikan klaksonnya! Kita bisa bangun tiap pagi, menghirup udara segar dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan tenang. Kalau Tuhan sudah memberi contoh tentang kesabaran, kenapa kita tidak mengikuti Sang Maha Sabar?

Dan, apakah hasil ketidaksabaran itu?

Di suatu radio pemberi informasi keadaan jalan, seorang penyiar mengingatkan pendengarnya untuk hati-hati selama berkendara. Mereka membuka kesempatan bagi pendengar untuk menginformasikan keadaan jalan. Seorang pendengar menelepon, dan menceritakan perjalanannya.

‘Saya berangkat pagi mas. Sudah ngebut sejak berangkat. Di jalan tol saya nyalip kanan nyalip kiri. Kadang saya lewat bahu jalan. Lepas dari tol saya masuk jalan besar. Kalau di perempatan sepi, saya langgar lampu merah. Becak-becak juga saya klaksoni mas supaya minggir’.

Si penyiar terdiam. Maksudnya apa nih cerita segala kebuasannya di jalan, seakan menantang nasehat hati-hati tadi. Si pendengar melanjutkan,

’sekarang saya sudah sampai kantor mas. Dan ternyata dengan kebiasaan saya mengemudi sehari-hari, yang tidak ngebut, nyalipnya aturan, menunggu di traffict light dan menanti becaknya minggir, bedanya cuma 5 menit mas.’

Cuma 5 menit! Dan untuk itu semua Anda tega mengorbankan keselamatan diri sendiri dan orang lain, dan meninggalkan perasaan yang terluka

***

Advertisements