Pekerjaan Yang Memalukan

Sebenarnya, lebih gampang bagi kita untuk mendefinisikan pekerjaan yang membanggakan. Pekerjaan yang membuat kagum banyak orang dan patut dipamerkan. Berbeda dengan pekerjaan yang memuaskan, hal itu adalah perasaan yang kita rasakan dan nikmati sendiri. Masalah mau pamer atau tidak, itu urusan belakang.

Contoh dari pekerjaan yang membanggakan adalah, bayangkan situasi ini. Di tengah kumpulan manusia, misal di kereta, busway, atau lift, tiba-tiba ada telepon masuk. Anda mengangkatnya, bicara, dan semua orang diam – diam mendengar perkataan Anda ‘…kita lihat dulu pergerakan harganya…ok, mau dilepas berapa…satu trilliun? Ndak masalah!’. Selain kuping mereka jadi siaga, otak mereka akan membayangkan seberapa panjang satu trilliun itu kalau dijejer, plus mata akan dengan kagum memandang Anda.

Atau saat orang lain dengan bangga memperkenalkan Anda di depan teman-temannya. ‘Perkenalkan, ini temanku, Direktur XXX’ atau ‘Pengusaha XXX’ atau ‘Pemilik XXX’. Dengan penyebutan posisi kita di suatu tempat, entah hal itu penting atau tidak bagi mereka, yag pasti mereka akan berebut berjabat tangan dengan Anda.

Atau teman lama Anda tidak sengaja melihat Anda keluar dari gedung megah, menenteng tas 8 juta, berbicara lewat handsfree dengan tetap memegang handphone lebar Anda, kelihatan sibuk sampai si teman tidak berani menyapa. Saat Anda akhirnya melihatnya, Anda hanya tersenyum sekilas, tidak menyudahi pembicaraan, dan berlalu memasuki mobil yang sudah menghampiri. Yang teman Anda akan pikirkan ‘Wah, jadi apa dia sekarang ya…sukses benar kelihatannya’.

Tuh kan, mudah untuk membayangkan hal yang indah-indah. Belum-belum saya sudah ngoceh sebanyak 3 paragraf. Sekarang, pekerjaan yang memalukan itu seperti apa? Meskipun tidak melanggar hukum, moral dan etika, tapi lebih sedikit orang yang tahu, atau bahkan tidak ada, lebih baik.

Contohnya saat di rapat penting di hadapan seluruh top management, tiba-tiba ibu direktur nyeletuk di tengah rapat ‘Indri, nanti sore datang ke rumah saya ya. Anak saya perlu diajari Matematika’. Hmm..rasanya ingin menyembunyikan diri di bawah meja, sambil menghindari lirikan peserta rapat ‘Kasihan ya, masih susah, sampai perlu kesana kemari memberi les’.

Ada tidak ya, yang mau memperkenalkan Anda disertai embel-embel pekerjaan, kalau hal tersebut dinilai tidak layak dibanggakan? Misal ‘Perkenalkan, Indri, tukang fotokopi yang baru’ saat diperkenalkan pada karyawan departemen administrasi. Saya sih yakin tidak ada yang berebut jabat tangan dengan Anda, mungkin demi kesopanan mereka akan say hi saja, tanpa beranjak dari kursinya.

Atau saat menghadiri perkumpulan ibu-ibu kantor, ada ibu-ibu yang tiba-tiba berseru sambil menunjuk Anda ‘Eh, jeng kan yang jualan di pasar itu ya?!’ Sambil menahan malu dilihat ibu-ibu yang kini melihat Anda dengan penuh minat, masih ditambah pula dengan ‘gimana bu, pergerakan harga jengkol?’. Oh bumi…telanlah saya!

OK , kalau yang terakhir mungkin berlebihan. Tapi saya rasa sudah cukup untuk memberi contoh rasa malu yang Anda akan hadapi dalam situasi tersebut.

Ada dua cara untuk melawannya, yaitu pedulikan, atau abaikan.

Jika peduli atas pendapat orang lain, misalnya nih Anda menginginkan calon mertua  melihat Anda sebagai calon mantu idaman. Ya berarti keluarlah dari pekerjaan yang memalukan itu, cari pekerjaan lain yang membanggakan, biar bisa pamer di depannya. Jika memang tidak ada pilihan pekerjaan lain, berarti sembunyikan. Misal berangkat kerja rapi pakai kemeja, celana panjang dan sepatu, begitu akan bekerja keluarkan t-shirt, celana pendek dan sandal yang sedari tadi Anda bawa dalam tas. Segera ngumpet kalau ada tetangga lewat, atau pura-pura ngga kenal. Bilang saja ‘orang yang mirip saya’.

Hidup kok ruwet tho ya….

Bagaimana jika abaikan saja, tidak peduli orang mau ngomong apa. Pertama, pekerjaan Anda halal. Anda tidak nyolong kok, atau merugikan orang lain. Malah Anda memberi manfaat dari pekerjaan yang Anda lakukan. Kedua, pekerjaan ini memuaskan. Anda senang melihat senyum anak-anak yang Anda bukakan pintu mobilnya. Anda senang mendapat ucapan terima kasih atas toilet yang Anda bersihkan. Anda senang saat diberi oleh-oleh pelanggan yang biasa Anda setrika baju-bajunya. Karena itu sejak awal saya pisahkan antara ‘membanggakan’ dan ‘memuaskan’. Ketiga, Anda mendapatkan rejeki dari pekerjaan tersebut. Dengan penghasilan yang Anda dapatkan, Anda dapat memberi uang jajan pada anak, membeli barang-barang dagangan, menyekolahkan, dan membantu orang tua.

Mau duitnya, kok ngga mau malunya.

Jangan malu lagi ya…:)

***

 

 

Advertisements