Orang Tua Bekerja, Anak Dititipkan Kemana?

 

Jadi, Anda telah melewati masa mempertanyakan haruskah ibu dan ayah bekerja di luar rumah. Selanjutnya Anda akan memasuki tahap dimana anak-anak akan dititipkan. Berikut saya coba berikan alternatifnya, berdasarkan pengalaman pribadi, orang lain, atau sekedar membaca berita.

Paling aman dan nyaman memang anak-anak berada di dalam rumah. Sehingga yang kita lakukan adalah memasukkan orang lain di luar keluarga inti untuk menjaga anak selama orang tua bekerja. Meminta kakek dan nenek untuk mengurus cucunya adalah alternatif terbaik. Karena kita sudah tahu pola didikannya, pasti aman dan sangat fleksibel. Maksudnya kalau kedua orang tua terpaksa harus lembur kakek nenek tetap menjaga anak kita dengan senang hati. Soal biaya, relatif. Mungkin orang tua harus menyisihkan biaya transportasi untuk menjemput kakek nenek ke rumah, dan menyediakan fasilitas yang mereka butuhkan selama di rumah. Kelemahannya, kasihan kalau sejak muda sudah susah payah mengurus kita, kemudian sudah tua masih harus mengejar cucu yang baru bisa berjalan. Jadi sebaiknya fungsi kakek nenek hanya untuk mengawasi. Untuk mengurusnya perlu bantuan dari pekerja rumah tangga (PRT) atau suster (nanny).

Jika kakek nenek bertempat tinggal di lain kota atau negara, atau sudah tidak ada, maka alternatif lainnya adalah merekrut PRT atau suster. Bedanya PRT selain mengurus anak juga dapat diandalkan untuk mengurus rumah, sedangkan suster memang dididik khusus untuk mengurus anak. Untuk gaji lebih tinggi suster, dan biasanya proses administrasi di yayasan lebih rumit dan mahal. Sedangkan PRT bisa lebih murah bila melalui makelar perseorangan, atau mungkin titip teman. Resikonya, karena menitipkan anak ke orang lain, kita tidak tahu saat ditinggal anak-anak diurus dengan cara bagaimana. Karena itu banyak orang tua yang kini melengkapi rumahnya dengan CCTV, untuk memantau kerja mereka. Pemilihan yayasan, ketrampilan, dan kepribadian PRT atau suster perlu diperhatikan benar-benar, agar tidak mengecewakan di kemudian hari, dan pekerja juga bisa bertahan lama.

Alternatif lain, dititipkan ke tetangga. Kalau ini bisa dua kemungkinan, tetangga yang datang ke rumah, atau anak yang ikut ke tetangga. Untuk masyarakat kota, hal ini sulit untuk dilakukan karena hubungan antar tetangga kurang dekat. Namun di perkampungan, hal ini gampang ditemukan.

Sedangkan untuk di luar rumah, sekarang bermunculan tempat penitipan anak. Ada yang berbasis keagamaan, didirikan oleh perusahaan tempat orang tua bekerja, swasta atau perseorangan. Anak dititipkan mulai pagi hingga sore, ada agenda kegiatan yang berbeda setiap hari, makan siang, tidur siang dan mandi sore di TPA. Soal biaya relatif. Umur biasanya mulai dua tahun, namun ada beberapa TPA yang menerima bayi usia 6 bulan dengan penanganan satu suster untuk satu bayi. Resikonya karena banyak anak yang berkumpul, anak harus benar-benar sehat agar tidak tertular penyakit yang dibawa temannya. Namun biasanya TPA sudah bersikap tegas dengan melarang anak yang sakit untuk masuk atau memisahkannya di ruangan yang lain. Sebelum memasukkan anak ke TPA, periksa dulu fasilitas, jumlah yang menjaga, daftar kegiatan, menu, dan jam kerjanya. Secara berkala TPA juga melakukan pemeriksaan kesehatan, dan melaporkan perkembangan anak di waktu tertentu.

Jika anak sudah memasuki usia sekolah, sekolah full day bisa dijadikan alternatif. Anak akan memiliki kegiatan ekstra seusai sekolah, dan pulang menjelang sore hari, bertepatan dengan pulangnya orang tua. Sejak dini anak dibiasakan untuk beraktivitas di siang hari, meskipun yang dilakukan adalah hal-hal menyenangkan yang mereka bisa pilih sendiri.

Semua pilihan ada resikonya, segera lakukan tindakan pencegahan dan koreksi jika hal buruk terjadi, jangan dibiarkan berlarut-larut. Biasakan anak untuk mandiri, sehingga kelak di saat mereka mulai memasuki usia yang lebih besar, anak-anak dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain selama orang tuanya bekerja.

***

Advertisements