Observatorium Bosscha

Gara-gara membaca komik Tintin yang ‘Bintang Jatuh’, munculah ide untuk mengunjungi Observatorium Bosscha di Bandung. Bayangan kami adalah teropong besar yang bisa melihat benda langit. Observatorium sendiri berarti ‘gedung yang dilengkapi alat-alat (teleskop, teropong bintang) untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang bintang dsb (www.kamusbesar.com).

Sebenarnya kegunaan pengamatan tentang bintang langit bukan melulu urusan dosen dan mahasiswa astronomi saja. Namun dapat digunakan untuk keperluan kedirgantaraan, satelit, dan penentuan Hisab-Rukyat. Khusus untuk satelit dapat digunakan untuk penginderaan jauh, telekomunikasi, peramalan cuaca, dan penentuan posisi. Apalagi dengan adanya penipisan lapisan ozon dan peningkatan kadar CO2, dapat dipahami secara global dari luar angkasa.

Terdapat dua macam kunjungan, yaitu kunjungan siang dan malam, dengan harga tiket Rp 7.500,- dan Rp 10.000,- per orang. Hari Selasa hingga Jumat ditujukan untuk rombongan, sedangkan perseorangan atau keluarga dapat datang pada hari Sabtu. Jam buka siang sekitar pukul 09.00 – 13.00 (khusus Sabtu, hari lain lebih lama). Sedangkan kunjungan malam dilakukan hanya 3 malam dalam satu bulan, dan dilakukan pada musim kemarau sekitar bulan April hingga Oktober.

Sebenarnya ada 3 teleskop yang berada di komplek observatorium ini, yaitu teleskop Zeiss, Unitron dan Bamberg. Namun karena kami melakukan kunjungan siang, maka yang bisa dikunjungi hanya teleskop Zeiss. Mungkin namanya cukup familiar ya. Nama ini memang berasal dari pembuat instrument optik yang menghasilkan gambar yang sangat terang. Lensanya yang terkenal digunakan oleh Nokia, Sony dan Logitech.

Observatorium Bosscha didirikan atas prakarsa Karel Albert Rudolf Bosscha pada tahun 1920, untuk membangun sebuah observatorium untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Tidak hanya itu, Bosscha juga yang menyediakan dana untuk pembelian teropong besar. Dengan temannya, Dr. J. Voute, seorang astronom yang nantinya menjadi direktur observatorium pertama, mereka berkeliling Eropa untuk mencari teropong yang terbaik. Pada tahun 1928, sang teleskop double reflector itu datang. Pada saat itu teleskop tersebut menduduki nomor 3 terbesar di dunia. Teleskop ini terdiri dari 2 teleskop utama yaitu teleskop fotografis dan teleskop visual (diameter 60 cm) dan 1 teleskop pencari (diameter 40 cm). Total diameter teleskop Zeiss adalah 1,66 meter, panjangnya 11 meter dan beratnya 17 ton.

Bangunan tempat teleskop ini berada juga unik. Bentuknya kubah dengan sebuah jendela di atap yang bisa dibuka selebar 3 meter. Kubah ini beratnya 56 ton, diameter 14.5 meter dan bagian luarnya terbuat dari baja 2 mm. Sedang atap dalam terbuat dari asbes. Kubah dapat diputar ke segala penjuru arah, demikian juga dengan teleskopnya, sehingga seluruh obyek langit dengan ketinggian lebih dari 20 derajat dapat dijangkau oleh teleskop Zeiss. Lantai teleskop dapat dinaikturunkan dengan daya listrik 10.000 watt.

Jika astronomi terasa sebagai ilmu yang tak tersentuh, mungkin Anda pernah mendengar berita bahwa pendaratan manusia di bulan adalah hoax (bohong)? Seperti ini misalnya :

Poster di atas memaparkan 3 teori konspirasi yang membahas hal tersebut, disertai dengan alasan bantahannya. Yah, kalau saya sih sederhana, jika ingin membuktikan sesuatu itu benar atau bohong, haruslah kita memahami betul mengenai sesuatu tersebut, bukan ‘katanya’-cari di internet-masuk ke forum diskusi. Kalau perlu, jadilah orang yang masuk dalam sistem dan berkecimpung dalam hal tersebut. Kalau sudah menguasai, barulah diskusi bisa berjaan dengan lancar, fokus, dan tidak out of topic. Mengenai moon landing, saya percaya pada Herge si pengarang Tintin Pendaratan di Bulan 🙂

Referensi:

Observatorium Bosscha – ITB, 50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia dan World Space week 2001

Advertisements