Pro dan Kontra Bu Risma, Pengakuan Seorang Penduduk Surabaya

20140512-194027.jpg
Foto : Courtesy E100, Bu Risma meninjau Taman Bungkul, 11 Mei 2014

Baru saja Bu Risma yang walikota Surabaya itu dicerca karena penghargaan dari Inggris dianggap beli 62 juta, kena masalah lagi deh Ibu kita karena marah-marah di depan publik. Seorang wartawan menuliskan marah ngga akan menyelesaikan masalah. Ada juga yang nyolot bilang urusan taman aja diributin, begitu Persebaya ancur ngga diurusin.

Hmm…saya hanya bisa berkata jujur, jika…jika nih ya, apa yang dituduhkan itu benar semua, sulit bagi saya untuk tidak menyukai Bu Risma.

Sebagai penduduk pendatang di Surabaya, saya melihat kota ini berkembang ke arah yang lebih baik di bawah kepemimpinan Beliau. Tanpa mengecilkan arti walikota yang lain, Bu Risma memang fenomenal. Bukan hanya keputusannya, tapi totalitasnya terhadap tugasnya.

Siapa pemimpin yang hobi blusukan di pasar, hingga pernah patah tulang lengan karena kepleset? Siapa yang menyiramkan selang dari truk pemadam kebakaran ketika kebakaran melanda? Siapa yang berani jadi bemper, marah-marah di depan orang banyak, sementara yang lain duduk manis di belakang meja, kalau bisa menghindar deh dari resiko dikepruki massa? Mulai dari pejabat sampai satpol PP, pasti lebih memilih untuk duduk anteng deh, daripada menghadapi massa yang beringas.

Lalu kalau sudah begitu, saat Beliau misalnya memang membeli penghargaan, apa pengaruhnya buat saya? Ngga ada. Kenapa? Karena mau ada penghargaan atau tidak, cinta saya ke Bu Risma timbul karena Beliau lebih dahulu mencintai saya, dan masyarakat Surabaya lainnya.

Seandainyapun Bu Risma kelak berpartai merah biru kuning hijau, apa pengaruhnya buat saya? Mau apapun partainya, kalau kadernya brengsek ya jadi ya brengsek. Kalau baik ya baik, selalu ada mutiara di tengah-tengah lumpur. Jadi kalau mau dibentur-benturkan, apalagi jaman pilpres begini, ngga ngaruh. Masyarakat sudah lihat kok, semua tindakan Bu Risma terhadap kotanya. Dan itu bukan sesaat, tapi sejak dari dulu Beliau sudah melakukannya.

Pencitraan yang didengungkan selama ini, tidak apa jika sejalan dengan yang terjadi di lapangan. Percayalah, kami ngga ambil pusing dengan semua omongan ini itu yang terjadi di kalangan orang-orang pintar bicara, tapi belum tentu pintar melakukan. Show me the way kalau begitu, bagaimana menjadi pemimpin yang Anda idolakan, dan berlakulah seperti itu. Tidak perlu alasan posisi Anda belum mendapatkan kesempatan seperti Bu Risma. Kalau begitu, berusahalah. Bukankah Bu Risma juga melaluinya dari bawah? Kenapa Anda tidak?

Bergaul dengan masyarakat Surabaya selama puluhan tahun, membuat saya tahu karakter mereka. Lugas, blak-blakan, dan kasar. Kata-kata yang wajar saja diucapkan disini sebagai sarana keakraban, bisa dianggap hinaan di daerah lain. Tapi sifat ini dibarengi juga dengan sifat apa adanya, terbuka, dan tidak dendaman. Kalau sudah selesai tukaran, maki-maki, ya sudah, selesai. Karena sudah sama-sama tahu apa maunya, meski awalnya ngga setuju, akhirnya menjadi kesepakatan bersama.

Karakter Bu Rismapun seperti itu. Temperamennya meledak-ledak, cepat sekali emosinya meluap. Namun setelah itu, ya anteng lagi. Jadi keinginan Beliau adalah menyelesaikan secara cepat, karena ‘urusan saya masih banyak.’ Masyarakat Surabaya perlu pengarahan langsung, bukan diskusi ngga selesai-selesai, malah mandeg semua.

Soal Persebaya, saat menemui kami di gedung Kompas saat pertemuan Kompasiana, ada memang peserta yang meminta pertanggungjawaban Bu Risma atas pecahnya Persebaya. Dengan nantang, si peserta itu rinci menyebutkan tanggal dan nomor suratnya, lalu bilang dia sudah datang ingin menemui walikota, tapi tidak bisa.

Wah, kalau saya jadi walikotanya saya akan melakukan hal yang sama *grin*

Lah, ngapain saya menerima perwakilan Persebaya, yang entah dari kubu yang mana, yang petantang petenteng ingin menemui saya. Sudah beresiko dianggap berpihak, di dalam pastilah mereka maunya mendikte keinginannya agar dituruti. Sama teman sendiri saja berantem, lalu apa lagi yang bisa diambil hikmahnya dari itu?

Pada kenyataannya, Bu Risma malah pernah mengundang kedua kubu untuk bertemu, agar saling mengutarakan keinginannya, dan baikan. Pertemuan yang gagal, karena kedua pihak mementingkan ego, daripada menyatukan lagi Persebaya.

Nah, apa gitu salah walikotanya?

Sama ketika Bu Risma kemarin marah-marah, ada juga yang menyalahkan Bu Risma yang ngga bisa mendidik warganya, biar ngga bermental kere, menjaga keindahan taman, dan merawat kebersihan.

Sik ta la, yang salah itu pemimpinnya, penyelenggara, atau rakyatnya?

Kalau kita tarik kembali, Taman Bungkul rusak karena diinjak warga.
Warga merusak Taman Bungkul karena ada pembagian es krim gratis.
Pembagian es krim gratis dilakukan oeh penyelenggara.
Penyelenggara belum dapat ijin Pemkot Surabaya.

Jadi, kalau penyelenggara ngga nekat mengadakan di Taman Bungkul, semua sebab musabab itu hilang. Mau dicegat dimana? Semua mengarah ke akar masalah : acara yang belum mendapat ijin. Coba kalau ijin duluan, acara bisa diarahkan, misal ke Kodam. Jadi ada yang macam-macam tinggal didor! #eh

Apakah saya pro Risma? Bisa dibilang begitu. Bukan karena pencitraan, bukan karena jago planning ini itu, bukan karena sibuk dekatin sana sini. Tapi karena apa yang sudah ia lakukan untuk kami, masyarakat Surabaya.

Foto courtesy E100, Bu Risma ikut membereskan taman, 12 Mei 2014

20140512-194123.jpg

Foto courtesy E100, Bu Risma masih membereskan taman pagi ini, 13 Mei 2014

risma

“Tugasku sebenarnya lebih ringan, hanya sekadar mengusir penjajah. Namun tugasmu lebih berat, karena melawan bangsa sendiri.”
– Ir. Soekarno

***
IndriHapsari

Advertisements