Penulis Sukses atau Tidak Sukseskah Anda?

penulis
Bagaimana menilai kesuksesan seorang penulis?

Saat ini saya terkagum-kagum saja dengan para penulis traveler, yang bisa mendapatkan uang dari passionnya. Atau JK Rowling, yang bukunya terjual jutaan di seluruh dunia, dan dicintai dari anak-anak hingga dewasa. Kaya, terkenal, dan tetap menjalankan passionnya, bukankah itu mimpi semua orang?

Tapi ternyat saya lebih kagum pada mereka yang menghasilkan banyak karya, dengan tingkat kekonsistenan yang tinggi. Maksud saya, konsisten bagusnya ya. Saya percaya ada satu titik yang membuat para penulis itu nyaman, karena style atau tulisan ini ‘gw banget!’.

Jadi semata karena kuantitas?

Dengan terpaksa saya bilang ya, meski di atas saya sudah jelaskan panjang lebar tentang kekonsistenan kualitas. Penulis yang bisa produktif dengan style yang jadi trade marknya itu keren banget. Bukan hanya karena ia selalu punya ide untuk dituangkan, dia tidak jenuh dengan aktivitasnya, namun ia bisa mengalahkan waktu untuk masa depannya.

Emang di dalam waktu ada apanya sih?

Oh, banyak! Di dalam waktu ada probabilitas, dimana dunia ini begitu dinamisnya. Kali ini tulisan kita laku, kali lain ngga. Kali lain kita dihubungi penerbit, kali ini ngga. Dulu semua suka traveling, sekarang semua beralih ke kuliner. Belum lagi dalam waktu kita akan bertemu tiga macam orang, haters alias yang ngga suka, lovers alias pemuja, dan netral yang tau kita aja ngga. Banyak hal yang bisa terjadi akibat complicated relationship ini, dan jika ngga hati-hati bisa tergoda untuk tidak konsisten.

Apa saja sih yang membuat penulis tidak sukses?

Pertama, suka mengkritik. Dikira dengan kritik sana kritik sini itu orang bakal senang. Tipis bedanya antara perhatian sama kepo. Kalau mau membangun, ya sampaikan dengan sopan, ngga usah maksa. Lagian, bedakan yang tulus sama yang sirik juga susah. Tapi kalau yang dilihat jelek mulu, ya ke laut aja.

Kedua, suka menyimpan dendam. Idih, amit-amit dah. Kalaupun benar mereka salah, maafkan aja. Masalah ngga berteman lagi ya ga apa, emang berteman ngga bisa maksa kok. Udahlah, maafkan aja, trus unfriend atau unfollow, habis perkara. Tapi kalau sampai menjelek-jelekkan, kok jadi curiga ada yang merasa kalah sampai harus membela diri sedemikian rupa.

Ketiga, salahkan orang lain meski sebenarnya yang salah dia. Ckckck, ini yang ngga tahu diri. Mungkin mata hatinya sudah dibutakan gengsi, jadi berasa bener sendiri. Mmm…kalau biasa hidup di bonbin mungkin terbiasa bener sendiri ya…

Keempat, janji-janji mulu. Ngomongnya di tulisan future tense terus…I will…I will…udah gitu berubah jadi past bagian ‘I forgot’. Ngomong ini itu, tapi ngga nepatin sendiri. Trus belagak pilon waktu dibilangin.

Kelima, maha tahu. Sori ye huruf kecil aje, soalnya ini perasaan dia aja kalau tahu segala, macam omnivora saja. Begitu ditanyain, eh googling dulu. Ya iya lah, Google dilawan! Kerendahhatian untuk ngga show off yang tidak pada tempatnya itu loh yang ngga nguatin, sadar diri napa…

Keenam, minta imbal balik. Misal ni ye, kalau saya komen di tempat situ, situ mesti dong komen tempat saya. Atau kalau saya belain situ (dan konsep apa pula ini, bukannya nulis malah pada berantem) suatu saat nanti belain saya juga dong. Ngga usah liat masalahnya apa, apalagi sampe ngikutin kronologinya. Ngga perlu!

Ketujuh, diam-diam mengharap orang lain jatuh. Maunya cuma dia yang dapet A, yang lain D. Kalau semua dapat A, trus apa dong kebanggaan dirinya? Apalagi kalau dia dapet B, yang lain A. Gondok abis, pasti. So berdoa untuk kejatuhan temannya, atau menusuk dari belakang, lazim dia gunakan.

Kedelapan, nulis yang ngga ada tujuan. Oh yah, buat senang-senang aja kok. Oh yah, buat ngebelain si anu aja kok. Jadi mambyar kemana-mana alias blur tulisannya. Atau untuk menarik perhatian pembaca, kasih judul sensaional. Atau buat artikel keren, meskipun hasil copasan Google. Yang parah malah copas situs berita yang suka jadi acuan pembaca, karena isinya yang heboh dan pasti banyak diminati.

Kesembilan, menampakkan kemarahan. Dengan menunjukkan kita marah,maka akan ada pihak yang tersinggung, terbakar, dan ikutan marah juga. Entah teman atau kawan, kemarahan akan mnenyulut ke arah yang tidak baik. Bukannya jadi lilin penerang di kegelapan, malah jadi tabung gas 3 kilogram di warung makan (gampang meledak maksudnya…eh analoginya pas ngga sih? 😛 )

Kesepuluh, rajin mengumpulkan informasi dan data. Buat apa? Ya buat jatuh-jatuhin penulis lain. Serasa bangga aja gitu kalau dianggap kita tahu segala, padahal hal itu akan memacu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Belum lagi makin banyak orang yang menunggu-nunggu kejatuhan kita.

Kesebelas, kerjaannya nulis tentang orang lain. Mending kalau atas dasar kagum, ini sih karena mau mendatangkan bala bantuan saja. Lalu nyindir-nyindir macam ibu-ibu arisan, kaya ngga punya nyali aja untuk menghadapi ketidaksetujuan.

Keduabelas, menulisnya sesuai kemampuan otaknya, ngga ditambahi dengan cek ricek dulu. Jadinya ya njeplak sana sini, lalu ketahuan kalau ngga konsisten. Lah habis, semua mengalir apa adanya, karena ada apa-apanya.

Ketigabelas, takut perubahan. Takut teman-temannya meninggalkannya, takut pembacanya ngga suka lagi tulisannya, takut ngga dihargai karyanya. Jadilah dalam berkarya dia ngga tulus lagi, karena merasa takut tadi.

Keempatbelas, nonton TV setiap hari. Loh, emang salah? Yeah, tahu sendiri dong TV Indo isinya kalau ngga infotainment ya berita politik yang menyayat hati. Itu pengaruh ke tulisan loh, ada degradasi karena sekarang tulisannya macam ngegosip aja. Duile, mau saingan sama tipi? Baca buku aja, lebih mending.

Kelimabelas, GR tingkat tinggi. Seolah-olah matahari mengitarinya. Selain menggosongkan, penulisnya mikir semua pasti perhatiin tulisannya. Sehingga kecewa ketika ngga sesuai harapan, atau ketika ada yang bersebrangan.

Keenambelas, kaitannya sama nomor lima belas juga, pingin pengakuan. Alih-alih ngasih penghargaan bagi pembaca atau teman-temannya, eh balik lagi nih ngomongin marahnya, dendamnya, meluas kemana-mana karena ketidaksukaannya. Hey, it’s not all about you!

Nah, saya termasuk yang mana? Masih belum sukses juga, karena isi tulisan ini masih drama, berusaha menarik perhatian pembaca dengan kelebayannya 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements