Cintaku Tertinggal Di New York (3)

pinterest.com

pinterest.com

Tanpa pikir panjang aku dan Pak Tejo ke lantai produksi. Biasanya aku berjalan pelan, karena kakiku pernah keseleo tidak hati-hati berjalan saat menggunakan hak tinggi. Namun kini tak sempat aku memikirkannya, yang kucemaskan adalah bagaimana nasib Setyo? Anak itu baru bekerja empat hari. Ia lebih baru dari aku.

‘Gimana ceritanya Pak?’ tanyaku dalam perjalanan ke lantai produksi.

‘Setyo sedang set up mesin Bu. Kepalanya berada di bawah mesin, sementara tangannya di atas mesin. Lalu si Sanip, tak sengaja menekan tombol mulai. Pisau pemotong plastik itu memotong jari Setyo.’

Aku ngeri membayangkannya. ‘Jari…yang mana?’ tanyaku berusaha kuat.

‘Empat-empatnya Bu,’ kata Pak Tejo sedih.

Aku menggigit bibirku. Bersiap menghadapi pemandangan yang mengerikan.

Setyo masih terduduk di lantai produksi, bersandar di dinding bangunan, dikelilingi oleh teman-temannya. Aku memandang sekilas mesin pemotong itu. Ada cipratan darah di atasnya. Jarinya…

Tangan Setyo sudah dibungkus kain. Warna kemerahan makin lama melebar. Wajahnya meringis menahan kesakitan. Kalau di posisinya, mungkin aku sudah menangis meraung-raung.

‘Bantu Setyo ke mobil saya Pak! Sama saya butuh satu orang untuk membantunya saat di rumah sakit!’ perintahku. Teman-temannya dan Pak Tejo berusaha membantu Setyo berdiri.

‘Saya ke depan dulu, ambil mobil. Kalian tunggu saja disini, mobil saya masukkan ke lantai produksi.’ Mestinya cukup, karena kulihat forklift bisa masuk tanpa kesulitan. Cukup lebar untuk mobilku parkir, agar Setyo tak perlu berjalan jauh.

Aku bersiap hendak kembali ke ruangan, ketika Pak Yudi, yang pendiam itu, menyerahkan kantung plastik hitam padaku. ‘Bu, mungkin nanti Ibu perlu ini,’ katanya. Aku memandangnya tak mengerti. ‘Jarinya Setyo,’ katanya menjelaskan.

Campur aduk perasaanku saat menerimanya.

(Bersambung)
*

Advertisements