Cintaku Tertinggal Di New York (1)

NY Bridge

pinterest.com

‘Gimana minggu pertamamu?’ seseorang di ujung sana nyengir menyapaku. Kaos warna abu-abu, mug yang kutinggalkan untuknya, dan pantry bernuansa kecoklatan sebagai latar belakangnya. Uh, aku rindu suasana itu.

‘Baik,’ kataku sambil merengut. Ia pasti sudah tahu jawabannya, hanya saja suka sekali ia menggoda. Aku sudah bersungut-sungut saat mengemas barang-barangku, demi memenuhi janji pada Papa untuk segera pulang begitu kuliahku selesai.

‘Ngga ada yang aneh kan?’ katanya sambil tertawa. Dihirupnya pelan isi mug itu. Tidak ada teko air panas di atas kompor. Ah, susu rupanya.

‘Ngga. Cuma kau tahu kan, pegawai di sini kebanyakan sudah tua. Hanya beberapa yang baru, anak-anak muda yang ngga punya pengalaman. Yang tua susah dibilangin, yang muda masih bego,’ kataku cemberut.

Ia tersenyum. ‘Yang tua mesti pakai cara lain kalau ngebilanginnya. Gimanapun, mereka jauh lebih pengalaman dari anak bos yang baru pulang,’ katanya sambil tertawa. ‘Yang muda, pasangkan dengan yang tua, supaya bisa alih kemampuan. On the job training gitu.’

Aku memandangnya sebal. ‘Udah tau. Kamu ngomong gitu kaya aku anak kecil aja,’ kataku bersungut-sungut. Ia tertawa lagi. ‘Habis, tampangmu jutek gitu,’ elaknya, ‘coba, aku baru pulang kuliah, masa tampang nona manis ini kecut saja saat kusapa. Tak kangen?’ katanya sambil tertawa.

Mau tak mau aku nyengir juga. Di Jakarta kini pagi hari, dan suatu tanda di layar tabletku membuatku teringat, sudah seminggu sejak Evan melepasku di bandara JFK. Suatu hal yang berat, karena Evan dan aku sudah setahun menjalin hubungan, dan terpaksa ia kutinggalkan, demi sesuatu yang tak kuinginkan. Memegang tampuk pimpinan di salah satu perusahaan Papa, yang bidangnya bagai bumi dan langit dengan bidangku. Seorang pianis yang kini bergulat dengan mesin-mesin plastik. Membayangkan jari-jari lentikku harus bersentuhan dengan cairan oli yang kental, waktu itu cukup membuatku merinding. Namun hingga satu minggu ini, rupanya kekhawatiranku tak pernah terbukti. Aku cukup adakan rapat setiap pagi, dan pabrik dapat berjalan sendiri. Semua berjalan apa adanya, dengan dan tanpa aku sebagai pimpinannya.

‘Sebenarnya tanpa aku juga tak apa. Papa bisa memantau pabrik ini dari laporan orang kepercayaannya. Dan aku bisa meneruskan sekolahku bersamamu,’ gerutuku lagi.

Evan tertawa. ‘Kau tahu, berapa banyak orang di luar sana yang ingin seberuntung dirimu? Orang tuamu rela melepaskan kau sekolah di sini, meski mereka mungkin inginnya kau sekolah bisnis, agar ilmumu dapat berguna saat kembali ke Indonesia. Tapi tidak, orang tuamu lebih memilih untuk mendukung hobimu, dan mengembangkan bakatmu. Setelah itu, mereka tetap menyerahkan kuasa ini padamu, karena tahu, pabrik ini telah begitu berpengalaman, bahkan untuk pimpinan yang newbie sekalipun,’ katanya panjang lebar.

Aku tertegun. Hei…aku tak pernah berpikir, aku seberuntung itu…

‘Kau masih bisa melakukan hobimu. Kau bisa berlatih terus, mengambil kelas online mungkin, dan membagi bakatmu. Sementara itu, fokuslah pada pabrik yang Papa titipkan padamu. Seandainya kau belum cinta, lakukanlah itu demi cinta ke orang tua,’ Evan tersenyum sambil menatapku. Oh Evan, meski umurnya lebih muda, nampaknya ia lebih dewasa…

‘Kapan kau kembali ke Jakarta?’ tanyaku ingin tahu. Kalau omongan ini dilakukan di sofa apartemennya, dengan aku dan Evan yang saling berhadapan, mungkin aku sudah menghambur ke pelukannya.

‘Euh…’ ia mengacak-acak rambutnya. ‘Risetku belum selesai. Bisa setahun lagi….kalau lancar…’ ia nyengir. Otakku langsung berpikir, biasanya kapan Papa meliburkan pabrik agak lama, agar aku bisa mengunjungi Evan segera.

‘Dew, sudah dulu ya. Aku ngantuk, ‘ katanya sambil menguap, ‘dan di sana sudah waktunya memulai rapat dengan anak buahmu kan? Semoga lancar, dan sorry kalau ngga sempat ketemuan macam gini, aku usahakan membalas pesanmu. Kau tahu, aku paling malas mencurahkan rasaku lewat media. Rasanya seperti ada yang mengawasi,’ katanya sambil tertawa.

Aku juga tertawa. Untung saja minggu ini aku cukup sibuk menyesuaikan diri dengan duniaku yang baru, daripada bersesi curhat dengan Evanku.

(Bersambung)
***
IndriHapsari

Advertisements