Dunia Maya, Playground Orang Dewasa

20140331-144155.jpg

Sebuah video dari seorang teman, menyadarkan saya bahwa suatu saat orang dewasa akan bertingkah seperti anak kecil. Karena kemampuan mengingat mereka makin menurun, demikian pula dengan kemampuan motorik, menurunnya kondisi kesehatan dan lain sebagainya yang menyebalkan bagi orang-orang di sekelilingnya. Semua terjadi tanpa kita sengaja, karena tak ada yang bisa memperlambat usia.

Namun rupanya, tak perlu menunggu lama hingga saat itu terjadi.

Ceburkanlah diri ke dunia maya. Berinteraksi mendalam di dalamnya, dan kita akan ketahui orang-orang dewasa yang berlagak bagai anak kecil, dan jangan-jangan kitapun jadi menganggap, di dunia itulah sisi anak kecil kita bisa terungkap.

Kenapa bisa begitu?

Tak lain karena dunia maya menimbulkan rasa aman bagi para pelaku karena kita dapat menjadi anonim. Sembunyikan saja jati diri dan penampakan kita, ganti dengan apapun yang kita angankan. Karena tujuannya main-main, maka identitas seperti IP Address tidak masalah jika diketahui, toh yang punya kemampuan itu, yaitu orang-orang yang terhubung dengan kita, hanya sedikit. Beda misalnya jika kita mengusung anonimitas untuk melakukan kejahatan, IP Addres harus disembunyikan, kalau perlu bertransaksilah dengan orang yang sama ahlinya, dengan menggunakan dunia maya terkelam, The Deep Web.

Kalaupun tidak menjadi anonim, dengan menampilkan identitas asli, kita yang di nyata bisa sangat berbeda dengan kita yang di maya. Menjadi online persona, membuat kita dapat menjadi apa saja. Seseorang yang perlu dikasihani? Atau dipuja? Atau mungkin ditakuti? Hal yang biasanya tidak terjadi di nyata bisa kita capai di maya. Di nyata mungkin perlu usaha lebih besar bukan hanya kata-kata, lingkungan juga mungkin sudah tahu kita yang kinerjanya yaaah…gitu-gitu aja. Sehingga banyak ‘rumah’ di dunia maya, bisa mengakomodasi potensi tersembunyi, atau mungkin kamuflase diri yang ngga berjalan mulus di nyata.

Tidak semua memang orang dewasa yang berlaku macam kanak-kanak dari sisi negatifnya. Ada yang dapat mengendalikan dengan baik situasi dan konflik (jika ada) yang ia hadapi. Biasanya orang-orang ini menganggap dunia maya sebagai ajang mendapatkan dan menyebarkan manfaat, dengan mengindahkan interaksi terlampau mendalam, karena pergaulan utamanya adalah di nyata.

Perilaku macam anak apa yang dapat muncul?

Pertama adalah soal kurangnya tanggungjawab. Anak-anak terbiasa bermain, lalu meninggalkan mainannya begitu saja. Jika di dunia maya, orang-orang ini akan mudah berkata-kata tanpa mau mempertanggungjawabkannya. Tujuannya tentu agar dianggap yang paling, selanjutnya silakan diisi dengan kata sifat. Data disajikan secara serampangan, memaki atau mengucapkan kata-kata kasar, yang di nyata sudah pasti ia akan dilempar sandal kalau berani bicara begitu di depan orang lain. Gertakan bertebaran dimana-mana, ancam mengancam, dan jarang yang berbuntut penyelesaian. Buku Psychology of The Internet mengungkapkan, ketidaksetujuan lebih banyak terjadi di dunia maya daripada nyata. Kalau dilandasi oleh bukti dan alasan yang masuk akal, serta disampaikan dengan baik, mungkin semua bisa sama-sama mengamini. Yang sulit, jika ketidaksepakatan itu disampaikan dengan serampangan, pokoknya-pokoknya, manipulasi data, apalagi sampai menyerang persona.

20140331-143520.jpg

Kedua adalah soal bluffing. Anak kecil suka sekali melakukannya, untuk menjadi yang ter-ter di antara teman-temannya. Di dunia maya, karena bisa menjadi apa saja, persona bisa melebihkan sesuatu karena toh tidak ketahuan. Itulah sebabnya kita merasa lebih nyaman berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal di nyata, daripada orang yang ada di lingkungan kita, jika pada dunia nyata pencapaian tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Janji-janji bertebaran, untuk memikat yang lain. Karena toh pembuktian sulit dilakukan, mereka hanya mengenal kita lewat kata dan gambar. Masalah katanya sudah dipermanis, atau gambarnya sudah diatur angle dan mengalami pengeditan berkali-kali, bukan masalah. Teman-teman kita hanya tahu hasil akhirnya.

Ketiga adalah mudah percaya. Sodorkan permen pada anak kecil, dan ia akan menganggap kita sebagai orang yang menyenangkan, sekaligus mau mengikuti apa yang kita perintahkan. Pujian-pujian yang bertebaran di antara teman-teman maya, hati-hati dapat menjerumuskan. Ada yang memang tulus, namun ada yang berlebihan sampai kita tak tahu mana yang psikopat, mana yang setengah waras. Sebaliknya, ada pergosipan yang ternyata tidak dilakukan kaum wanita saja, untuk mendiskreditkan seseorang sehingga muncul kelompok-kelompok, yang entah berantem untuk apa. Persoalan jadi demikian melebarnya, karena pengaruh teman-teman tadi, dan jauh panggang dari api.

Ternyata tak perlu menunggu lama untuk jadi anak kecil lagi, dan itu kita lakukan dengan sengaja!

Dunia maya yang penuh dengan permainan orang dewasa inilah yang seharusnya kita hindari. Bukan ajang pertempuran yang layak kita jalani, apalagi dibelain sampai mengganggu mata pencaharian, atau keluarga, atau teman-teman nyata. Ambil sisi poistif dunia maya, dan pilih teman yang tulus bersahabat, bukan merendahkan, tapi juga tidak menyanjung berlebihan, sampai kita tak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah.

Akan halnya anak-anak kita, mereka memang perlu pendampingan saat berselancar di dunia maya. Mereka adalah manusia beneran, yang dalam masa pertumbuhannya harus dilindungi dari permainan orang dewasa. Ada umur-umur tertentu mental mereka sudah siap untuk menghadapi dunia yang luas. Ikuti aturan umur yang berlaku, dan arahkan dia untuk tidak menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan.

***
IndriHapsari

Advertisements