Masakan Indonesia, Jadikan Raja di Negeri Sendiri

Sebagai penggemar makanan tapi tidak pandai memasak, andalan saya adalah buku-buku resep dan tontonan program memasak. Untunglah Asian Food Channel tayang 24 jam, sehingga jika tidak ada acara TV yang menarik, ujung-ujungnya pasti AFC.

Saluran ini dikuasai oleh kuliner Singapura, Eropa dan Malaysia. Indonesia hanya satu program, dulu acaranya Pak Bondan dan Gwen anaknya, dan kini entah siapa. Sempat ada Farah Quinn di program lomba masak di Singapura, dan chef Haryo di program memasak Malaysia. Tapi setelah itu menghilang. Bahkan dengan Filipina dan Thailand kita kalah jumlah program.

Karena itu saya agak tahulah bagaimana makanan-makanan asing itu tercipta. Masakan barat biasanya dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan aneh yang begitu saja dipetik dari pot dan dicemplungin ke masakan. Mereka juga jamak menggunakan panggangan, menggoreng dengan minyak zaitun (tentu seicrit saja, beda dengan masakan kita yang minyaknya buanyak), dan serius benar di penataan.

Masakan Asia hampir sama dengan Indonesia, jadi menggunakan rempah-rempah yang kita sudah biasa pakai, banyak menggunakan wajan (dan juga minyak) serta penataannya ngga ribet. Dari wajan, tuang langsung ke piring atau mangkuk, beres.

Saya tahu untuk beberapa masakan khas Indonesia, buatnya itu ribet. Sudah bumbunya banyak, harus ditumbuk di cobek batu, dimasaknya jam-jaman, bahkan ada yang harian. Cuma sebagai orang pulauan, saya kurang tahu masakan khas daerah lainnya. Pulauan itu temannya rumahan, kerjanya diem terus dalam rumahnya 😀

20140331-213041.jpg

Buku Pak Bondan, pakar kuliner Indonesia ini sungguh membuka mata saya akan kekayaan masakan kita. Sebenarnya soal ribet dan susahnya dulu pernah lihat di program masak di TPI, dimana yang masak lebih ribet lagi mesti pakai baju daerah dan ngulek sambal 😀 Tapi membaca buku 100 Mak Nyus Bondan Winarno membuat saya makin mantap, saya bagian mencicip saja, jangan sampai deh bagian masak 🙂 Perlu keahlian, ketelatenan, dan cara saya mendukung kuliner nusantara ya dengan membeli dagangannya. Biar kuliner lokal ngga kalah dengan burger, pizza dan salad.

20140331-213120.jpg

Sungguh beruntung pembaca, karena yang menulis adalah seorang yang hobi makan dan masak, sehingga makanan tidak hanya disampaikan ‘rasanya mak nyus!’ tapi juga bisa dijelaskan alasannya. Rujak cingur ternyata enak karena dicampur cingur (mulut sapi) yang kaya kolagen. Atau nomenklatur garang asem yang harus dilakukan karena ternyata di Indonesia ada 5 jenis garang asem di berbagai daerah, dan beda-beda semua. Soto juga muncul dalam berbagai tipe dan penamaan, mulai coto hingga tauto. Dan yang menyenangkan, buku ini ada indeksnya! Yippieee! Dari berbagai buku kumpulan resep yang ada di toko buku, jarang yang mencantumkan indeks di belakang. Padahal penting banget lo supaya nyari resepnya bisa cepat. Buku resep yang memuat indeks yang saya punya adalah Dapur Pintar. Syukurlah Pak Bondan menyusul.

20140331-213207.jpg

Pak Bondan memberikan opininya terkait masakan nusantara yang dicicipinya. Yang menarik, Beliau juga memberikan resep pembuatan, foto contoh makanan, dan tempat makan favoritnya. Bisa jadi rujukan nih kalau berkunjung ke daerah tersebut. Jangankan daerah lain, ternyata Pak Bondan malah sudah mengunjungi tempat makanan favorit di Jawa Timur, yang ternyata belum semua saya kunjungi *malu*.

Yang menarik, ternyata untuk luar pulau Jawa kecuali Bali, mereka banyak memanfaatkan ikan dan hasil laut lainnya dalam masakan mereka. Sedang di Jawa lebih banyak menggunakan sapi atau ayam. Berdasarkan jaman penjajahan dahulu, saat daging hanya bisa dinikmati oleh para meneer, orang Indonesia memanfaatkan bagian-bagian sapi yang tidak digunakan oleh para penjajah. Berkat kepiawaiannya mengolah bumbu, jadilah masakan-masakan khas Indonesia yang berisi potongan-potongan tubuh sapi. Dagingnya sih hanya sedikit yang menempel di tulang, tapi bagian jeroan, buntut, sampai moncongnya bisa dimanfaatkan.

Yang menonjol lainnya adalah penggunaan santan yang jamak digunakan di masakan khas Indonesia. Jika masakan barat menggunakan susu atau krim, masakan Indonesia pesta pora dengan santan. Agak cemas sih sama kesehatannya, karena ketika santan dimasak lama, ia menjadi lemak jahat. Belum lagi tipe masakan yang mewajibkan merasuknya santan dalam makanan, pasti lebih enak sekaligus lebih jahat lemaknya. Yah, tapi sekali-sekali boleh kali ya 🙂

Masaknya beneran njlimet. Dan kini makin sedikit masakan khas yang mampu bertahan. Karena itu, membeli hasil karya para anak bangsa perlu kita lakukan, agar mereka dapat terus bertahan dan dapat menjadi kebanggaan bangsa. Darimana datangnya cinta? Dari perut lalu ke hati. Semoga makin banyak yang cinta Indonesia, karena makanannya yang lezatnya sampai ke hati 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements