Legacy Seorang Pemimpin

20140323-213115.jpg

Seorang pembicara yang hadir di rapat kami, menekankan besarnya tanggung jawab seorang pemimpin pada apapun yang dipimpinnya. Mau organisasi, dengan atau tanpa bentuk, perusahaan, atau negara, jika ada masalah, itu adalah masalah pemimpin. Jika ada ketidakberesan anak buah, itu salah pemimpin. Jika ada ketidaksesuaian kinerja, itu akibat pemimpin.

Pembicara yang dulu pernah menjadi CEO IBM ini, dan sekarang menjadi komisaris beberapa perusahaan besar di Indonesia, telah mengalami bahwa tanpa pemimpin yang berintegritas tinggi dan revolusioner, organisasi tidak akan berjalan dengan baik. Motivasi menjadi seorang pemimpin bisa macam-macam, tapi Beliau menekankan masalah legacy (warisan).

Bukan harta, bukan capaian jabatan, dan bukan nama. Namun apa yang ditinggalkan seorang pemimpin, yang akan membuat kita teringat padanya. Paling mudah pasti yang kelihatan, misalnya gedung, monumen ataupun jalan layang.

Namun legacy yang sebenarnya, adalah manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat atau bawahannya. Perwujudannya bisa tak terlihat, misal pemimpin yang perhatian pada rakyat, pemimpin yang menciptakan sistem, atau pemimpin yang membereskan semua kekacauan yang terjadi.

Dan terus terang, saya melihat contoh ini pada Ibu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya.

Sebagai warga kota, yang saya rasakan bukanlah berdasarkan dari dengar-dengaran, katanya-katanya, atau baca dari suatu sumber. Namun perbedaan yang saya rasakan selama hampir 20 tahun berada di kota Surabaya, cukup membuktikan legacy apa yang Beliau berikan pada kami, warga kotanya.

Surabaya jadi lebih tertata. Trotoar, taman, jalan-jalan, bahkan lebih rapi dari pengembang perumahan. Semua bukan hanya masalah perintah Surabaya harus lebih bersih, namun juga kerelaan pimpinan untuk turba alias turun ke bawah. Memeriksa secara langsung kinerja bawahan maupun outsourcing, dan tentu tidak begitu saja menerima alasan ini dan itu jika tidak ada ketidaksesuaian, dengan alasan pemakluman apalagi rekanan.

Sebagai seorang pimpinan, Bu Risma dengan tegas memimpin kotanya. Yang susah mungkin rekanan yang masih berharap uang adalah jawabannya, atau bawahan yang mau enaknya saja, atau pengusaha yang tidak memperhatikan aturan yang ada. Galak, kesan yang saya tangkap saat bertemu langsung dengan Beliau. Namun juga berintegritas tinggi, dengan karakter yang kuat, tidak mudah digoyahkan.

Sistem yang ada Beliau tata. Mulai dari transportasi, pendidikan, sosial, kesehatan, dan yang paling menonjol adalah penggunaan teknologi informasi. Demi memperpendek rantai birokrasi, meningkatkan transparansi dan efisiensi sumber daya, Bu Risma menuntut adanya sistem informasi yang bisa mendukung itu semua. Tercatat mulai dari e-procurement, e-performance, e-payment, e-control membuat Bu Risma sebagai pimpinan dapat mengetahui secara langsung bagaimana kinerja operasional bawahannya.

Pengawasan menjadi titik utama suatu sistem dapat berjalan. Sering kita dengar sistemnya sudah baik, sayang pelaksanaannya buruk, atau ada oknum yang menyalahgunakan jabatan atau kesempatan. Sesuatu yang Bu Risma ingin hindari. Dengan menunjukkan integritasnya, dan tak segan-segan melabrak mereka yang bersalah, terbukti sistem yang Beliau buat dapat berjalan dengan baik. Bawahan juga akan melihat, teladan yang diberikan pimpinannya seperti apa. Itu yang membuat mereka tak berkutik, ketika Bu Risma dengan gamblang menegur dan menjelaskan, apa saja kesalahan mereka. Mau menentang bagaimana? Bu Risma sangat detail dan ngga modal ngomong saja. Beliau bisa masuk ke pasar becek, ikut memadamkan kebakaran, mengatur lalu lintas, dan berada di tengah kepungan suporter sepak bola yang marah.

Hal lain yang saya pelajari, sikapnya untuk tidak menunda solusi. Dengan segera Beliau menindaklanjuti, bukan sekadar bilang ‘nanti akan kami bereskan.’ Pembawaannya yang meledak-ledak, membuat mereka yang mencoba mempermainkan kebenaran, menjadi keder duluan. Bukan cuma bawahan yang tidak becus, namun juga pihak lain yang hendak menjadikan bawahan Bu Risma sebagai kambing hitam, terpaksa menelan ludah karena Bu Risma akan langsung melakukan cross check terkait pelaporan tersebut.

Herannya, Bu Risma tidak bisa segalak itu pada rakyat kecil.

Ia merasa trenyuh melihat anak kecil yang sedang mengumpulkan sampah. Suaranya yang biasa keras melembut penuh perhatian, untuk mengetahui apa masalah yang menyebabkan anak ini harus bekerja dan tidak sekolah. Cerita Beliau dengan wanita tuna susila berumur 60 tahun yang terkenal seantero YouTube juga berhasil menyentuh hatinya, untuk segera menyelesaikan masalah prostitusi. Bu Risma justru bisa tertawa, di tengah para pasien gangguan jiwa, yang ditampung oleh Liponsos Kota Surabaya. ‘Aku anaknya Bu Wali,’ kata salah satu dari mereka, yang direspon Bu Risma dengan senyuman lebar.

‘Jika saya melakukan sesuatu, saya tidak ingin rakyat saya tertinggal,’ begitu kata Beliau saat menghadiri diskusi bulanan yang diadakan Kompasiana tanggal 22 Maret 2014. Kita sering mendapati, pembangunan yang begitu megah dan hebat, namun kesenjangan sangat tinggi sehingga menyebabkan kriminalitas dan kemiskinan tinggi juga. Itulah sebabnya yang Beliau fokuskan adalah pengembangan fasilitas untuk rakyat. Pembebasan biaya untuk pasien kelas 3, pendidikan gratis dari SD hingga SMA, subsidi untuk siswa sekolah-sekolah siap kerja, lapangan futsal gratis, pemberdayaan pertanian dan perikanan, semua dilakukan dengan harapan masyarakat menjadi lebih mandiri dan dapat mengusahakan nasib yang lebih baik bagi dirinya sendiri.

Maka kembali saya teringat kata kunci dari pembicara tadi, legacy. Saya bisa menjawab banyak hal yang akan ditinggalkan oleh Bu Risma kelak. Sementara yang Beliau lakukan bukan untuk nama, gelar, sanjungan atau hal keduniawian lainnya. ‘Kalau saya harus menghadap Tuhan, apa yang saya jawab padaNya tentang apa yang sudah saya lakukan di dunia?’ That’s simple. That’s …honourable, to leave a legacy.

***
IndriHapsari

Advertisements