Jika Benar, Katakan Benar

riversingverses.com

riversingverses.com

Berada di antara para penulis, dengan berbagai pendapat yang tumpang tindih di dalamnya, membuat banyak sekali pertentangan pendapat. Semua diseret ke ranah abu-abu, sehingga semua boleh, semua wajar, sepakat untuk tidak sepakat, dan pendapat pribadi kita, sudah tidak murni lagi. Pendapat pribadi akhirnya terpengaruh dengan pendapat teman atau kelompok, gengsi untuk mengakui kebenaran pendapat orang lain, dan ada dendam pribadi.

Sebaiknya memang urusan kepenulisan, tidak menyertakan emosi. Apalagi saat mengetengahkan pendapat. Tulisan menjadi garing tak ada isi, karena isinya macam curhat. Ada memang curhat yang enak dibaca, karena jujur dari hati. Tapi ada juga yang sudah tersaput benci, jadinya malah menurunkan kualitasnya.

Awalnya saya berpikir, sebelum masuk ke kebenaran yang hakiki, paling tidak kita masuk ke ranah pantas tidak pantas dulu. Baju yang kita pakai silakan saja bebas pakai warna apa saja, selama kita bisa menyesuaikan kondisi. Kalau maesong dilarang pakai warna merah, kalau acara lamaran jangan pakai warna hitam, apalagi kalau ke pantai laut selatan, dilarang pakai baju warna hijau. Dua contoh pertama, berakibat pada sanksi social, yah paling ada bisik-bisik kok seperti baru mendarat di bumi. Ngga pantes dan ngga etis. Sementara kasus ketiga, lebih ekstrim lagi, ditelan ombak untuk menemani Sang Ratu Nyi Roro Kidul. Saking bebalnya manusia, sampai saya berpikir, mungkin sanksi contoh ketiga ini malah lebih ampuh. Kalau tidak menuruti norma, langsung dilenyapkan dari bumi.

Norma sudah dipelajari oleh anak-anak sekolah dasar. Kitapun sebagai orang dewasa tahu, mana yang benar, dan mana yang salah. Sayangnya, orang dewasa itu banyak excuse. Hobinya melebar kemana-mana, hilang fokus-atau justru sengaja menyamarkan, dan membuat norma menjadi taka da artinya. Helooo? Mau ngulang pelajaran? Tanpa norma, kembali saja ke jaman purba. Tentu, tinggalkan semua gadget dan semua kenikmatan yang kita dapatkan di jaman modern.

Kolot?

Bahkan kalau dikatakan seperti itu, saya akan mengakuinya. Hidup di tengah masyarakat, apalagi sudah berkeluarga, mengharuskan saya menjadi pribadi  yang dapat menjadi contoh bagi anak-anak dan sekitar. Kalau karena keinginan pribadi terkekang karena posisi tersebut, sehingga secara pengecut menyembunyikan diri, it’s not me. Jadi manusia diciptakan untuk bertanggungjawab dengan tindakannya, untuk memperjuangkan apa yang dia yakini benar.

Sekarang, bagaimana kita tahu tindakan yang kita ambil sudah benar atau belum?

Kali ini ukurannya bukan pantas dan tidak pantas lagi, tapi kembali ke Pencipta. Tuhan selain menciptakan kita, juga telah menurunkan kitab suci sebagai panduan kita hidup di dunia. Meski dikatakan kitab suci itu buatan manusia, yang desperate melihat perilaku manusia yang ngga beradab pada jamannya – like all atheist said – tapi beneran loh, tanpa kitab suci, hidup kita tuh ngga ada apa-apanya. Putus asa sedikit, bunuh diri. Susah sedikit, jadi criminal. Salah sedikit, menghujat Tuhan. Menyedihkan deh.

Akan halnya saya, perilaku yang seharusnya akan saya dasarkan pada Alkitab. Saat berada dalam keraguan, Alkitab akan memberi jawaban pada saya, apa dasar yang melandasi semua. Saya yakin pada kitab suci manapun, akan bisa memberikan jawaban yang dapat dijadikan dasar saat  berperilaku.

Misal, golput itu boleh atau tidak sih? Jawaban yang saya dapat :

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya,  sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (Roma 13:1)

Maka jika pemerintah telah menetapkan suatu system, ya harus diikuti. Oh tentu, dalam kondisi system yang penerapannya ngga jelas, bobrok dan banyak oknum, kita akan merasa apatis, ngga guna juga mengikuti system yang ada. Tapi kepedulian untuk membuat system lebih baik, dengan partisipasi aktif warga negara sangat diperlukan. Bukan tidur saja di rumah dan tidak menggunakan haknya.

Lalu, merokok boleh atau tidak?

Jawaban yang saya dapat adalah:

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Korintus 6:19)

Merokok akan merusak tubuh, dan no doubt about it. Lalu buat apa merusak tubuh yang sudah diiptakan Tuhan bagi kita. Apalagi jika dikaitkan tubuh adalah bait Roh Kudus atau sesuatu yang suci. Sama saja menyakiti hati Tuhan dengan kelakuan mengotori baitNya. Hal yang sama berlaku untuk narkoba, alcohol maupun seks bebas.

Dalam perjalanannya, akan ada pertentangan, dan itu sudah terlihat dengan banyaknya pendapat yang bersliweran di depan kita. Pemutusan hubungan pertemanan juga bisa kita alami karena perbedaan pendapat yang kita punyai. Lalu mulai ada serangan-serangan, baik langsung maupun tidak langsung, karena kebenaran yang kita yakini.

Satu renungan yang saya dapat dari Our Daily Bread hari ini, berasal dari kitab Matius 5:37.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Jadi ketika sudah mendapatkan jawabannya di kitab suci, maka kewajiban kita adalah menyiarkannya, apa yang benar dan apa yang salah. Resiko dijauhi teman harus diterima, karena lebih takut siapa, ke Pencipta atau teman? Bagi mereka yang bebal, Tuhan juga telah menetapkan ketegasannya. Dari Amsal 12:13-14 dikatakan :

Orang jahat terjerat oleh kata-kata buruk yang diucapkannya; orang baik luput dari kesukaran. Setiap orang mendapat ganjaran sesuai dengan kata-kata dan perbuatannya; masing-masing diberi upah yang setimpal.

Kata – kata buruk. Sudah banyak sepertinya kata – kata buruk yang pernah saya ucapkan, atau pernah saya dengar dan baca. Apapun konteksnya. Mau politik, menghujat orang lain, melanggar norma-norma yang ada, pokoknya apapun yang membuat kening orang berkerut karena melencengnya kita dari norma agama dan etika. Caranya gampang. Utarakan pendapat kita, atau bacakan tulisan kita, pada mereka. Lihat reaksinya. That’s simple, dan cobalah jujur terhadap diri sendiri.

Oh, saya lebih takut hukuman Tuhan, daripada cercaan manusia.

Karena itu, katakanlah benar jika benar, salah jika salah.

 

***

IndriHapsari

Advertisements