Hari Pensiunan Kali Ini

sumutpos.com

sumutpos.com

Hari ini hari pensiunan.

Sehabis mandi dan sholat subuh, aku menyibukkan diri di dapur. Lastri masih tertidur, tubuhnya yang kurus menghadap dinding. Mungkin ia tidur larut malam, karena saat kumasuk kamar, ia sedang menjahit kemejaku. Ada lubang di dekat siku. Aku tinggalkan ranjang pelan-pelan, karena di rumah ini, semua benda berderit. Ranjang, pintu kamar, dan lemari.

Tadi sudah kukeluarkan, seragam kebanggaan dari lemari tua kami. Berwarna hijau tua, dengan berbagai lambang tanda jasa di samping kiri kanannya. Namaku di bagian depannya. Lastri yang menjahitkan. Seragam ini sudah berpuluh tahun menemaniku, meski hanya sekali sebulan ia kukenakan, yaitu pada hari pensiunan. Dua kali sebulan jika di bulan kemerdekaan.

Kutatap seragam yang kini kugantungkan di dinding. Kesan gagah sebagai seorang veteran, selalu menjadi kebanggaanku. Meski ia harus membalut tubuh tua nan ringkih ini, tapi semangatnya selalu membuatku berseri. Bertemu dengan para veteran, yang akan kutemui di kantor kecamatan.

Kukenakan peci oranye yang kusimpan di saku seragam. Kupandang diriku di cermin. Seorang pejuang yang membela negeri. Meninggalkan Lastri demi suatu misi. Meski mereka bilang mungkin itu sebabnya kami tak dikaruniai keturunan, namun cukup Lastri selalu menantikanku pulang.

Aku memikirkan itu, saat menjerang air untuk tehku. Gelas kosong sudah kusiapkan. Nampaknya nanti aku harus membeli gula. Botol bekas selai ini sudah kosong. Daun teh kumasukkan dalam gelas besar kecoklatan. Berulang kali dipakai untuk menyeduh teh, telah menodai warna putihnya. Sebuah saringan kecil telah kutaruh di atas gelasku, bersiap menyaring air panas kecoklatan yang akan kutuangkan.

Lastri terbatuk-batuk. Ah, ia sudah bangun. Kuhampiri ia yang masih terbaring di ranjang, dengan mata yang telah membuka.

‘Nanti aku ambil pensiunan,’ kataku mengingatkan. ‘Aku akan ke sana pagi, supaya tak mengantri. Tolong siapkan tehku ya, airnya sudah kujerang.’

Lastri hanya diam.

‘Kau nanti mau dibelikan apa? Gado-gado? Soto? Atau…apa?’ tanyaku padanya. Sudah kebiasaanku, pulang dari kantor kecamatan, aku membelikan Lastri sesuatu. Biasanya makanan kesukaannya. Sebulan sekali saja. Karena uang pensiun seorang veteran tidaklah banyak.

Lastri menggeleng. Ia kembali memejamkan mata.

Mungkin ia masih mengantuk. Maka aku tinggalkan ia dan menuju teras depan. Tempat si kumbang berada. Sepeda yang telah menemaniku dengan setia. Kulap stang dan sadelnya, kuperiksa rantai dan remnya. Jalanan makin ramai saja. Aku dan sepedaku, kami sudah sama-sama tua. Maka saling menjaga menjadi ikatan kami berdua.

‘Arrrrghh!!’

Terdengar teriakan dari dalam. Lastri! Dengan agak sulit aku berusaha berdiri. Berusaha berjalan cepat mencari Lastri. Di kamar ia tak ada. Di dapur, ia kudapati sedang berdiri  bersandar di meja, sambil agak mengangkat kakinya. Teko air telah terjatuh ke lantai. Gelas pecah. Air menggenang di lantai dan meja.

Kuhampiri Lastri segera. Punggung kaki kirinya berwarna kemerahan. Melepuh. Kubimbing ia agar duduk di kursi tamu, kursi satu-satunya yang kami miliki. Aku berlutut melihat keadaannya. Ia masih meringis kesakitan, tapi tak keluar suara.

Bergegas aku ke kamar mandi. Mengisi ember dengan air dari bak, dan membawanya ke ruang tamu beserta gayungnya. Dengan hati-hati kupegang telapak kakinya, dan kusiram perlahan-lahan dengan air dingin. Matanya semula masih terpejam setiap punggung kakinya terkena air, namun lama-lama ia mulai bisa memandangku.

‘Maaf,’ katanya bergetar.

Aku menghentikan siramanku. Nampaknya sudah mulai reda sakitnya. Kusingkirkan ember dan gayungnya. Kudekati ia yang masih duduk di kursi.

‘Sudah tak apa kan? Nanti minta mentimun ke mbok Tari, dikompres pakai irisannya,’ kataku menyarankan.

Lastri mengangguk. Sekilas kutatap wajahnya. Nampak kesedihan terlihat dari wajahnya.

‘Tadi…kenapa?’ tanyaku hati-hati.

Lastri menggeleng. Namun butiran air bening mengalir ke pipinya yang telah berkerut-kerut.

‘Kenapa Lastri?’ tanyaku lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tersedu. Kebingungan, aku coba mengelus bahunya.

‘Mas, aku tak bisa melihat,’ katanya terisak.

Aku terpana.

‘Penglihatanku makin kabur, Mas. Aku kini tak bisa menjahit bajumu lagi. Itulah sebabnya meski aku tahu bajumu berlubang, aku tak bisa memperbaikinya. Semalaman aku telah berusaha, namun … tak bisa.

Tadi aku akan menuangkan air panas itu untuk tehmu. Dengan perlahan, aku bisa mengira dimana teko berada. Tapi aku tak tahu pasti, harus kutuangkan dimana. Akhirnya bukan ke gelas, melainkan ke meja air tertumpah. Terus mengalir, hingga ke lantai. Menuju tempat dimana kakiku berada. Saat merasakan panasnya, aku terkejut dan melepaskan teko itu. Kudengar gelas pecah, dan detik berikutnya, teko itu telah terjatuh di lantai. Menumpahkan sebagian isinya ke kakiku.’ Ia kembali terisak.

Aku terdiam. Lastri…

‘Maafkan aku, Mas. Makin hari penglihatanku makin parah saja, tapi aku tak berani cerita. Aku selalu cemas, tak bisa merawatmu dengan baik jika tak bisa melihat. Pekerjaan rumah tangga, menisik bajumu … bahkan melihatmu keluar dengan memakai seragam itu, hanya samar kehijauan yang bisa kutangkap.

Mas, aku tak bisa lagi melihat wajahmu!’ Kini ia menangis tersedu.

Aku terhenyak. Lalu kebanggaan apa yang tersisa, jika satu-satunya orang yang menemaniku dengan setia, tak bisa menikmatinya? Namun melihat Lastri hancur begini, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk bermanja – manja.

Dengan tertawa menenangkan, yang kuharap cukup meyakinkan, kupeluk ia dari samping.

‘Lastri Lastri, buat apa kau cemas seperti itu. Lakukan apa yang dapat kau lakukan. Aku akan bantu sebisamu, meski hasilnya mungkin tak sesempurna yang kau hasilkan,’ kataku sambil tersenyum. Berikutnya aku baru sadar, Lastri juga tak bisa melihat senyumku. Tapi tetap kupaksakan senyum itu, aku harap ia dapat merasakannya.

‘Yang penting jangan membahayakan dirimu. Kalau kau sakit, siapa coba yang sedih?’ kataku sambil tetap memeluknya.

‘Maafkan aku ya Mas, di masa tua malah aku menyusahkanmu.’

Aku terdiam. Kau susah karena aku, Lastri. Aku selalu tak punya cukup uang untuk membahagiakanmu. Kini … untuk menyembuhkanmu…

‘Lastri,’ kataku cepat, ‘bantu aku bersiap-siap!’

Wajah Lastri nampak bingung. Kubimbing ia agar berdiri, dan kugandeng tangannya ke kamar. Kutunjukkan seragamku padanya, warna hijaunya pasti bisa ia lihat.

‘Bantu aku mengenakan baju ya. Tanganku kaku kala harus memasukkan kancingnya,’ kataku beralasan. Lastri mengangguk. Kubuka kausku dan kutunggu ia di tepi ranjang. Perlahan ia meraba lenganku, dan mengangkatnya perlahan agar masuk ke lengan baju. Lalu sambil agak membungkuk, ia mulai meraba kancing dan lubangnya, satu demi satu.

Mataku mulai basah. Menatap wajah Lastri yang terlihat berjuang membantuku, terbayang hari-hari berat yang akan dilaluinya. Dan aku sebagai suaminya, tak bisa melakukan apa-apa demi kesembuhannya…mungkin…dengan membahagiakannya?

‘Lastri,’ kataku menegarkan suara, ‘pulang nanti aku beli sate. Tak perlu memasak nasi, aku beli sekalian dengan lontongnya.’

Lastri memandangku dengan bola matanya yang nampak makin putih. Lalu ia tersenyum. Semoga mata hati, selalu dapat ia gunakan untukku….

***

IndriHapsari

Advertisements