Tujuh Dosa Sosial

Mahatma Gandhi merumuskannya. Saya tertegun membacanya. Apa yang gandhi rumuskan, telah melalui pengalaman, pengamatan dan perenungan yang mendalam, sehingga Gandhi bisa menyimpulkannya dengan kata-kata yang singkat dan mengena. Mengingatkan pada saya, untuk hati-hati agar tak melakukannya.

Apa saja 7 dosa sosial tersebut?

20140314-222121.jpg

Kekayaan tanpa kerja
Bisa dibayangkan, dapat dari mana kekayaan tersebut, selain dari kegiatan yang tak halal. Saya orang kuno, yang masih beranggapan, if you want more money, so you must have more effort. Ngga ada yang namanya uang datang sendiri. Kelak, mungkin bakal begitu setelah kita initiate usaha, dan usaha kita settle. Tapi, no pain no gain. Jadi ngga usah mimpi duit jatuh dari langit. Lagian, sesuatu yang didapatkan dengan usaha, bukannya lebih berasa?

Kenikmatan tanpa nurani
Menikmati sesuatu di atas penderitaan orang lain? Misal, memeras orang sampai kering, baik keringat sampai darahnya. Atau menikmati tubuh orang lain, yang bukan pasangan resminya. Mungkin sukarela, tapi apa bedanya jadi dengan binatang? Kalau punya nurani, pasti mikir dong, bahwa seks adalah kegiatan yang suci. Kebahagiaan semu saat memakai narkoba. Nurani jelas minggir dulu, mengalahkan rasa menghargai orang-orang yang sayang padanya.

Ilmu tanpa kemanusiaan
Orang pintar itu banyak, tapi kalau pintarnya dipakai untuk ngomong aja, percuma. Apa kontribusinya bagi sesama manusia? Belum lagi orang pintar yang menghujat Tuhannya (yang notabene adalah penciptanya), atau orang pintar yang mempenaruhi orang lain untuk berbuat jahat. Jadi bikin dosa sama-sama. Ada juga yang meneliti dan menemukan sesuatu, untuk tujuan yang jahat. Kalau yang ini semoga hanya di film saja.

Pengetahuan tanpa karakter
Jika pengetahuan tidak punya pendirian yang tetap, maka ia akan bisa salah, dan memuja pada keduniawian. Yang dipikir untung untung dan untung, keberlangsungan atau efeknya tidak dipikirkan. Mudah berubah tujuan, karena semua hanya jalan apa adanya, kalau ada masalah dipikir nanti. Mudah digoyahkan, dan dapat merugikan.

Politik tanpa prinsip
Menyedihkan kalau sampai ketemu yang ini. Jika pemimpin kita adalah orang yang ngga punya prinsip, dia jadi gampang disetir. Berani mengorbankan temannya, apalagi rakyatnya, untuk mencapai tujuan pribadi. Politik tanpa prinsip ibarat perahu yang digoyang badai. Karena dia doesn’t know what to do, jadi ya kemana digoncang di situ dia akan ikut. Ngga maju-maju. Lama-lama tenggelam karena ngga ada kekuatan untuk bertahan dan melawan badai.

Bisnis tanpa moralitas
Apa ada moralnya, ketika membuka lahan kelapa sawit dilakukan dengan menembaki orang utan karena dianggap hama? Apa ada moralnya, ketika pembangunan pasar tak bisa dilakukan karena warga menolak pindah, sehingga berujung pada peristiwa kebakaran? Korban jiwa, meski Indonesia ini kaya penduduk, tetaplah harus diperhatikan. Korban adalah orang tua seseorang, anak seseorang, saudara seseorang, sehingga sedih saja rasanya, jika sampai tega mengorbankan hanya demi harta.

Ibadah tanpa pengorbanan
Kalau mau itung-itungan, jangan di ibadah. Ibadah adalah waktu kita memberi, bukan mengambil untung. Kalau dibandingkan dengan Tuhan yang sudah memberi kita segala, tentu pemberian kita tak ada apa-apanya. Berkorban uang, semestinya juga dibarengi dengan berkorban waktu dan tenaga. Dengan umat yang saling bahu membahu ini, orang susah bakal kurang, dan bentrok antar umat beragama bisa terkikis pelan. Ya iya dong, daripada sibuk ngurusin demo dan artis, mending mikirin umat yang kekurangan. Jangan khawatir, stoknya banyak kok di Indonesia.

Kalau dibalik, maka supaya kita memiliki hidup yang berguna , berarti :
– Kekayaan dengan bekerja
– Menikmati, setelah nurani menyetujui
– Mempelajari ilmu untuk kemanusiaan
– Menggali pengetahuan yang berkarakter
– Menjalankan prinsip politik
– Menjalankan bisnis dengan memperhatikan moralitas
– Berkorban dalam ibadah.

***
IndriHapsari

Advertisements