[FLASH FICTION] PERNIKAHAN JIM

jim

‘Kami akan menikah,’ kata Jim padaku.

Gerakan tanganku menggantung. Tadinya teh celup ini akan kumasukkan ke cangkir yang telah berisi air panas. Otakku memerintahkan untuk berhenti dulu, mencerna kata-kata Jim tadi.

‘Mandy?’ kataku menebak. Sudah sebulan ini Jim dekat dengan Mandy, setelah sebelumnya berganti-ganti wanita yang diperkenalkannya padaku. Tapi aku yakin Jim hanya iseng-iseng dengan mereka. Tidak ada yang perlu dicemaskan.

Ia mengangguk. Matanya menerawang. Mungkin sedang membayangkan ada Mandy di pojok flatku.

‘Tidak…terlalu cepat?’ kali ini kucemplungkan teh celup itu. Suatu alasan yang bagus untuk tidak menatap wajah bahagianya. Kualihkan dengan menaikturunkan kantong teh dalam cangkir.

‘Kami sudah mantap dua-duanya,’ kata Jim tegas.

Air tehku sudah berwarna gelap. Namun kantong teh tetap kunaikturunkan. Aku harus buat ini sewajar mungkin.

‘Tidak takut, hidupmu nanti bakal terikat? Tidak sebebas dulu?’ Mataku kini mencari tempat gula. Lagi-lagi supaya tidak bertatapan dengannya.

‘Dengan Mandy, aku rela melepaskan segalanya,’ jawab Jim. Aku tebak, wajahnya sedang tersenyum kini. Wajah khas pria yang sedang jatuh cinta.

Aku meletakkan kantong teh di tatakan cangkir, dan kini bergerak memasukkan satu sendok teh gula. Kuaduk perlahan, sambil berpikir apalagi yang bisa kukatakan.

‘Pernikahan butuh biaya besar,’ kataku dingin.

‘Ah tidak. Hanya pemberkatan. Aku hanya mengundang keluarga dan teman-teman dekat saja,’ katanya meyakinkan.

Aku menghirup tehku perlahan. Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Akhirnya tiba saatnya, ketika teman, memang selalu akan menjadi teman.

‘Karena itu,’ kata Jim lagi, ‘bisakah kau menjadi best man-ku?’ pintanya.

Aku yakin kini matanya menatapku. Sementara otakku sedang sibuk memikirkan, alasan apa yang membuatku tak perlu datang.

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements