Aku dan Mesin Waktu

20140304-221707.jpg

Einstein bertanya, jika mesin waktunya telah selesai, akan dimanakah aku berada?

Aku katakan, masa sebelum mengenalmu.

Einstein terheran-heran. ‘Aku pikir…kau mencintainya?’

Aku mengangguk. ‘Ya. Tapi apa gunanya kalau ia tak mencintaiku?’ kataku sedih.

Einstein menatapku iba. ‘Ia lupa menunjukkannya? Kebodohan manusia memang tak terbatas ya,’ katanya berusaha menghiburku.

Aku tertawa. ‘Terima kasih atas pernyataan tulusmu. Tapi sungguh, aku ingin kembali ke masa itu. Akan kuambil pilihan yang lain, yang bisa menghindari takdir.’

Einstein mengernyit. ‘Ah, takdir. Kenapa sih tak kau lanjutkan hidupmu, seperti saat mengendarai sepeda? Hidupmu akan seimbang, jika kau teruskan perjalanan, jangan berkutat di sini saja.’

‘Tak mudah,’ kataku padanya. ‘Seperti ada beban berat yang menggelantungiku. Mengikutiku kemana-mana.’

‘Hmmm,’ Einstein menghela napas, ‘baiklah, kalau itu maumu. Kemana kau akan menuju?’

‘Toko buku. Lima tahun yang lalu,’ jawabku mantap.

‘Dan…kau akan menjadi…?’ tanyanya lagi. Penting untuk menjadikanku orang yang berbeda, karena kelak akan ada dua ‘aku’.

‘Oh..bagaimana kalau…pegawai-toko-buku?’ tanyaku ragu.

Einstein tertawa. ‘Imajinasimu luar biasa ya! Saat seperti ini, imajinasi lebih penting dari pengetahuan.’

Aku sih setuju saja. Karena ia yang akan mempersiapkan mesin waktuku.

*

Aku mendatangi laboratoriumnya lima hari kemudian. Ia sudah siapkan mesin waktu yang menurutku serupa kapsul yang besar. Hanya ada satu kursi, sehingga aku tak bisa mengajaknya untuk menemani.

‘Pakai pakaian pelindung, dan pakai sabuk pengamanmu. Perjalanan akan terasa tak nyaman, dan kau bisa mengalami proses penuaan.’

Aku membelalak. Aku tak mau muncul sebagai nenek-nenek di depanmu!

Einstein tertawa. ‘Karena itu, pakai pakaian pelindungmu dengan benar. Kau akan terhindar dari semua resiko.’

Aku ikuti petunjuknya. Saat terakhir ia mengecek semua, dan aku sudah duduk di dalam mesin waktu, aku sempat bertanya padanya, ‘Ini aman ngga, Einstein?’

Ia tersenyum. ‘Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, adalah ia yang tak pernah mencoba hal baru.’

‘Eh!’ teriakku saat tersadar aku ini kelinci percobaan. Namun terlambat, pintu telah menutup, dan komputer telah menginformasikan kesiapannya untuk berangkat.

Aku memejamkan mata saat mesin waktu berguncang. Untung sabuk pengaman mengikatku erat. Seperti naik roller coaster, namun kali ini sendirian. Hampir saja aku muntah, ketika komputer mengatakan sudah mendarat dengan selamat.

Dengan bergegas kubuka pakaian pelindung, dan kubuka pintu. Wah, basement toko buku! Aku masih ingat suasananya, ketika kuparkirkan mobil di sini. Mesin waktu rupanya tembus pandang, tidak kelihatan. Tinggal aku mencari cara bagaimana keluar dari kapsul ini tanpa menarik perhatian.

Hup! Aku meloncat keluar. Aman.

Aku segera naik ke lantai dua. Pukul 10.55. Lima menit lagi, aku-yang-pembeli akan bertemu denganmu. Maka aku-yang-pegawai harus mencegahnya!

Sambil berpura-pura membereskan buku, aku mengamatimu dari jauh. Masih mempesona seperti dulu. Tinggi, serius, dan acuh. Lalu pandanganku beralih ke aku-yang-pembeli. Sibuk mencari buku, yang secara tidak sengaja sebentar lagi menyenggol kamu. Lalu aku dan kamu berkenalan, maksudku, aku-yang-pembeli. Ok, sekarang saatku bergerak!

Aku mendekati aku-yang-pembeli. Di toko buku ini biasa saja pegawai mendekati pengunjung, mencoba membantu mereka. Sepertinya aku-yang-pembeli merasa agak terkejut melihat pegawai yang mirip dengannya. Tapi aku-yang-pembeli tersenyum, ketika aku membawakan buku yang dicari aku-yang-pembeli.

‘Bagaimana kau tahu, aku mencari ini?’ kata aku-yang-pembeli.

‘Oh, hanya menebak saja,’ kataku. Mana mungkin aku lupa, lima tahun lalu aku mencari buku ini, maka sekalian saja kubawakan itu untuk aku-yang-pembeli, agar ia tak sempat bertemu kamu.

Aku-yang-pembeli tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan kusarankan ia ke kasir yang jauh dari tempat kau berada, dengan dalih di sana antriannya lebih sepi.

Untung saja aku-yang-pembeli percaya. Aku tersenyum lega melihat aku-yang-pembeli pergi.

‘Mbak, tahu buku dengan judul ini ngga?’

Aku menoleh. Deg! Kamu!

Menatapku dengan tatapan yang hangat. Mata itu…Bagaimana kau bisa menemukanku?

‘Mbak. Aduh, seperti lihat setan saja,’ katamu sambil tertawa. Gusti, tawa itu…

‘Ini Mbak, buku yang saya cari, ada?’ katamu sambil menyodorkan kertas berisi judul buku. Pandanganku terasa gelap.

‘Mbak, kok pucat sih? Jangan pingsan disini dong Mbak, nanti disangka saya ngapa-ngapain Mbak,’ katamu lagi. Deretan gigi yang rapi itu menghiasi senyummu…

**

‘Bagaimana?’ kata Einstein saat aku melangkah keluar dari mesin waktu.

‘Gatot! Gagal total!’ kataku kesal. Lalu kuceritakan usahaku menyingkirkan aku-yang-pembeli, yang berakhir dengan pertemuan dengan aku-yang-pegawai. Einstein terkekeh mendengar ceritaku.

‘Menurutku, Tuhan tidak sedang bermain dadu. Ia tahu benar, angka apa yang akan keluar. Sehingga, saat kau menghindari angka itu pada lemparan pertama, kau akan menemui lagi pada lemparan selanjutnya.’ Lagi-lagi Einstein terkekeh menanggapi kekesalanku.

Aku hanya bisa diam.

***

Aku merapatkan jaketku. Angin dingin bertiup, tapi kau ingin menemuiku di taman. Kupercepat langkahku, melewati jalan setapak yang menghiasi taman.

Kau, sedang menatap langit. Syal panjang menutupi lehermu. Kedua tanganmu masuk di saku, selalu kau lakukan itu bila sedang menunggu.

Seperti naluri, kau bisa merasakan kehadiranku. Kau menoleh, dan tersenyum. Wajahmu berbinar-binar, seakan tak sabar memberitahukanku sesuatu.

‘Hai!’ sapamu. ‘Bagaimana harimu?’

Aku berpikir sejenak. ‘Berat,’ jawabku. Payah juga, sudah berusaha, lagi-lagi kamu yang kuhadapi. ‘Kalau kamu?’ tanyaku balik bertanya.

‘Aku akan pindah ke New Jersey,’ katamu dengan ceria.

Ah, pantas saja kau terlihat begitu gembira. Akhirnya tiba juga saatnya. Mungkin ini akhir pertemuan kita. Sampai ketemu dengan anak cucumu kalau begitu…

‘Karena itu…aku ingin bertanya…mmm…maukah…kau…ikut denganku?’

Apa?? Aku tak salah dengar?? Kau…melamarku??

Aku berdiri mematung. Tak tahu apa yang harus kuucapkan. Setelah sekian lama…

‘Maaf…maaf kalau hal ini mengejutkanmu,’ katamu merasa bersalah.

Aku menggeleng cepat. ‘Kenapa…kenapa…tiba-tiba kau mengajakku?’ tanyaku heran.

‘Ah, sudah lama sih, aku memberanikan diri untuk mengatakannya padamu…aku ingin menikahimu,’ katamu sambil tersenyum salah tingkah. ‘Tapi…tak pernah ada keberanian itu…sampai akhirnya hari ini…entah ya..aku hanya merasa…sudah jatuh cinta berkali-kali denganmu…’ katamu malu-malu.

Mendadak ingatanku terlempar ke lima hari lalu. Saat Einstein berusaha menyelesaikan mesin waktuku. ‘Berpikirlah sederhana, Elsa. Lima tahun dan ia tak kemana-mana? Pastilah kau sangat berharga baginya.’

****
IndriHapsari
Gambar : drchaos.com

Advertisements