(2) INITIUM

Akhirnya, tidak ada penjemputan, pun penguburan pada kejadian ini. Aku hanya diminta ke kantor pusat dua kali, mengurus pemberian ganti rugi. Meski cukup besar, aku rela menukar semua harta, asal suamiku kembali.

Andrew dan Angela kadang saja menanyakan papa mereka, aku katakan Papa masih kerja. Untuk masa sekarang mungkin bisa, tapi nanti, mereka akan bertanya-tanya, mengapa Papa tak ada.

Aku teringat pada saat kami pertama kali berjumpa di sebuah kafe. Ia tipe yang pendiam, agak kutu buku kurasa. Kacamata berbingkai tebal, kemeja yang selalu rapi, dan celana kain berwarna gelap. Sekali melihatnya, aku tahu bahwa ia penjunjung tinggi keteraturan.

Bukan seleraku. Sehingga kuabaikan dia saat diam-diam melirikku dari balik laptopnya. Kusesap pelan-pelan kopiku, sambil berusaha mengetahui apa sih maunya. Lalu ia bergerak mendekatiku. Memberanikan diri menyapaku. Obrolan yang aneh dan terasa lucu, karena ternyata ia tahu semua. Semua hal yang selalu membuatku penasaran.

Beberapa kali pertemuan, dan kita jadian. Tak berapa lama, ia memintaku untuk menikahinya. Aku ternganga kala itu, tapi seperti orang yang dilanda cinta, aku sanggupi permintaannya. Pesta sederhana, hanya orang tuanya yang datang. Adiknya sedang di luar negeri untuk bekerja, tak dapat pulang menghadiri pernikahan kakaknya.

Yah apapun, acara kami berjalan lancar. Aditya agak kaku di ranjang, namun hal itu membuktikan, ia memang belum berpengalaman. Tipe pria yang hanya memuja satu wanita. Menjaga segalanya, sebelum memberikannya pada orang yang dicinta.

Dan sekarang tuan kaku itu telah pergi. Entah kapan ia akan kembali. Atau mungkin…kami tak akan bertemu lagi.

*
(BERSAMBUNG)
IndriHapsari

Advertisements