Tidak Cantik, Tapi Menarik

woman

‘Dia mutusin saya, katanya saya kurang cantik.’

Dia menangis. Merasa sakit hati diputusin dengan cara yang menyakitkan. Saya geram. Geram ngga cuma ke cowoknya, tapi juga ke yang cerita. Bukan karena yang cerita sama-sama cowoknya (FYI : lekong), tapi karena cewek ini mau saja ikut definisi cantik versi si mantan kekasih itu.

Kalau cewek itu berusia remaja (FYI : teenager, semua usia yang berakhiran teen, jadi mulai 13 -19 tahun) ok-lah, masih masa-masa labil. Tapi kalau umur sudah duapuluhan dan masih mau disetir soal cantik dan tidak cantik itu, it’s sooo yesterday.

Sekali-kali keluar rumah lah, lihat wanita-wanita di sekeliling kita. Semua beragam, kita bisa kelompokkan mereka sesuai tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh, jenis rambut, warna kulit, umur, name it. Apa semua masuk definisi cantik yang so mainstream itu? Ya ngga. Trus kalau tidak masuk dalam golongan cantik, ngga berhak untuk bahagia? Ngga berhak dapat pacar kaya nan setia? #eh

Karena sesungguhnya cantik tiap wanita itu beda. Kulit coklat malah eksotis. Badan gemuk malah kelihatan segar. Hidung pesek terkesan wajar, ngga ngabisin tempat. Jadi, biar dikata hidung kita kutil saking kecilnya, bukan berarti menghilangkan kepercayaan diri dan rasa bahagia.

Kata orang bahagia itu sederhana. Suatu kalimat yang mudah pengucapannya, tapi sulit melakukannya. Kenapa? Karena kita selalu membandingkan, dan minder yang berujung kesedihan itu berasal dari perasaan kurang tinggi, kurang sexy dan kurang cerah warna kulitnya.

Apalagi kalau ketemunya dengan orang atau lingkungan yang tak tepat. Mereka yang memuja penampilan luar, tapi lupa untuk memuji kepribadian. Semua hanya dinilai dari cantik dan tidak cantik, karena mungkin kapasitas penilaiannya ya begitu aja, ngga kemana-mana. Mestinya bersyukur dong kalau diputusin cowok ngga penting, yang meminta ceweknya bak model Victoria Secret, tapi beliaunya sendiri jauuuh dari kata ganteng (baru kata, belum penampakan) 😀

Pemikiran yang saya ingin sharingkan adalah setiap wanita punya kelebihan, yang somehow munculnya malah dari kekurangan. Kecantikan luar ngga ada artinya tanpa kecantikan dari dalam. Kalaupun mentok kita ngga punya kelebihan yang jadi mood booster, kenapa ngga mengusahakan penampilan yang lebih menarik? Terakhir, seandainya penampilan menarikpun ngga mampu kita punya, kenapa ngga coba saja nikmati hidup?

Mari kita bahas satu persatu.

Cek dari diri kita, adakah yang bisa ditonjolkan dari apa yang kita punya? Lihat para pemain film, dari yang semula biasa bisa jadi luar biasa. Mungkin mata kita yang indah, rambut yang tebal, atau gigi yang tertata rapi. Semua itu jadi modal cantik. Jadi pada poin-poin itulah pusat perhatian kita, agar yang lain juga tahu apa yang kita punya.

Kekurangan, bisa jadi kelebihan. Misal gigi kita bagian depan seperti gigi kelinci. Tapi kalau senyum malah jadi kelihatan imut dan manis. Atau badan gemuk, kesannya hidupnya sukses gitu loh. Malah ditawari macam-macam, dan dipercaya kalau nawar barang. Jadi, lihat sisi lain dari kekurangan yang kita miliki, itupun modal untuk merasa cantik.

Berikutnya tentang kecantikan dalam, yah terkait dengan akhlak, etika, ketulusan, pengetahuan, wawasan, komunikasi…semua deh. Percuma cantik kalau tet toot… ngga nyambung. Atau cantik tapi suka meludah sembarangan. Langsung ilfil kan. Maka tingkatkan kualitas diri, sehingga apa yang orang lain lihat bukan lagi luarnya, tapi apa yang terpancar dari dalam diri kita. Mestinya kalau ngerasa ngga cantik, fokusnya ke kecantikan dalam dong. Belajar tambah rajin, kerja tambah semangat, berteman makin banyak, selain untuk menunjukkan kita beda, juga biar perhatian kita teralih ngga cuma ngurusin penampilan saja.

Cantik dan menarik itu dua hal yang berbeda. Kita boleh kalah dengan definisi cantik yang mainstream bak bintang di layar kaca. Tapi soal menarik…hohoho…itu lain masalah. Dan mau ngga mau, menarik ini munculnya dari rasa PD. PD kalau senyumnya OK, PD kalau rambutnya terawat, PD kalau matanya berbinar-binar. Untuk itu perlu usaha. Jangan malas merawat diri, baik dengan cara olahraga, menjaga kebersihan tubuh, juga konsumsi vitamin dan menjaga penampilan. Jadi bukannya udah tahu ngga cantik terus menyerah. Wah itu sih kalah sebelum bertanding. Buat diri menjadi menarik, itu perlu usaha dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Untuk menjadi menarik ngga perlu menjadi istri pengusaha. Semua bisa dilakukan dengan cara sederhana dan gratis. Mau kulit mulus? Buat ramuan herbal. Mau badan langsing? Atur makanan dan lari pagi. Ngga ada alasan saya baru melakukan ini dan itu kalau punya uang. Lakukan mulai sekarang.

Terakhir, jika memang kita tak mampu mengusahakan penampilan yang lebih menarik, bagaimana? Beberapa kasus yang saya amati, misal wanita tersebut mengalami gangguan kesehatan, yang mau diapain aja, jatuh-jatuhnya ya mentok ngga bisa diperbaiki penampilannya. Atau usia ya, kalau sudah oma-oma ya semua sama, sudah sulit bedain mana yang cantik dan tidak.

Namun, tetap saja dari mereka kita bisa merasakan perbedaan, yang bersemangat menikmati hidup, atau kerjanya cemberut, ngeluh terus sepanjang hari. Kira-kira mana yang lebih disukai, kita bisa jawab sendiri. Pada akhirnya, mereka yang selalu bersyukur, suka berbagi dan selalu tersenyum, adalah mereka yang bisa mendefinisikan cantik, khas mereka sendiri.

***

IndriHapsari

Gambar : pinterest.com

Advertisements