Begitu Saja? Ya, Begitu Saja

13932204571192176838

‘Begitu saja?’

‘Iya. Begitu saja.’

Lalu kita berbalik arah. Kamu menuju ke mobilmu, dan saya menuju ke dalam kafe lagi. Hujan mulai turun, menyudahi pertengkaran kita.

Kamu marah besar, ketika saya menerima telepon, dari pria yang saya katakan teman. Teman, tapi mencurigakan. Begitu katamu usai saya menelepon.

Kenapa kamu kelihatan kaget?
Kenapa kamu bicara sambil melihatku, seakan takut aku mendengar pembicaraanmu?
Kenapa kamu nampak hati-hati saat berbicara dengannya?
Kenapa kamu ragu menyebutkan namanya, ketika kutanya itu siapa?
Kenapa kamu tak bisa menjawab waktu kutanya, Farhan itu teman dimana?

Siapa Dian, itu SIAPA?

Saya masih ingat semua rentetan pertanyaanmu. Membuat saya bingung setengah mati, bagaimana mempersiapkan jawabannya. Tidak bakal seperti ini, andai Farhan memang hanya teman biasa. Bukan teman yang selalu hadir saat kamu tidak ada. Bukan teman yang rela melakukan apa saja, katanya, dan selalu dibuktikannya. Bukan teman yang mendengarkan saya curhat, saat kamu begitu sibuk sehingga tak bisa dihubungi.

Padahal tak ada niatan bagi saya untuk menduakanmu. Saya hanya butuh teman. Saya merasa berhak mendapatkannya dari Farhan. Dia yang selama ini menjaga saya, sehingga saya selalu bisa bilang saya baik-baik saja, saat kamu menelepon dan menanyakan kabar saya.

Namun kadang rasa bersalah itu muncul mendera, ketika perhatian-perhatian Farhan berubah menjadi letupan asmara. Dia bisa menatap saya dengan mesra, dia bisa menggenggam tangan saya, yang katanya tak sengaja, saat kami minum di kafe ini, berdua. Dia bisa mengirimkan kata-kata yang manis, saat saya ulang tahun, beda denganmu yang mengirimkan boneka.

Lalu, buat apa saya bingung kalau Farhan memang teman.

Maka kebingungan saya telah membuatmu marah. Merasa saya menyembunyikan sesuatu. Merasa saya melakukan entah apa bersama Farhan di belakangmu. Merasa saya tak sepenuhnya jujur padamu.

Saya tidak pernah bohong padamu, hanya….tak pernah ceritakan itu. Tak perlu. Nanti kamu marah dan melarang kami bertemu. Padahal, tanpa Farhan mungkin hidup saya bakal tak berwarna seperti ini.

Lalu kamu bangkit dari sofamu, bergegas keluar sambil menggebrak pintu. Saya mengejarmu, diiringi tatapan para pelayan dan tamu. Saya tarik tanganmu, dan dengan kasar kamu tepiskan.

‘Jangan sentuh aku! Kau sembunyikan sesuatu!’

‘Tidak, Rio! Ia hanya teman!’

‘Bohong! Kau tak pernah sepanik ini di depanku! Teman apa, yang harus disembunyikan seperti itu?!’

‘Teman, Rio, teman! Please, percayalah padaku! Di hatiku cuma kamu!’

‘Bullshit! Ngga ada gunanya kamu ngomong! Ngga ada gunanya percaya sama kamu lagi!’

‘Please Rio. Kamu…kukenalkan padanya ya. OK?’

‘Ngga perlu! Puas-puaslah kamu sama dia!’

‘Rio!’

‘Cukup, Dian! Kita putus!’

Saya terhenyak. Kamupun terhenyak. Sepertinya kamu juga kaget dengan apa yang baru terucap dari bibirmu.

‘Riooo…’ kata saya melemah.

Kamu menggelengkan kepala dengan sedih. ‘Cukup, Dian. Cukup. Ngga ada yang perlu dibahas lagi,’ katamu pelan.

‘Begitu saja?’

‘Iya. Begitu saja.’

*

Saya kembali ke dalam kafe, diiringi pandangan para pelayan dan tamu yang menyaksikan pertengkaran kita. Tak sempat saya merasa malu, hanya termangu memandang Cappuccino yang belum jua kamu habiskan. Biskuit vanilla itu baru kau makan setengah, menandakan kamu begitu marah.

Perlahan saya merasa pandangan mata saya kabur. Pertahanan saya hampir jebol. Menghindari pandangan mereka yang bertanya-tanya bagaimana keadaan saya, saya berusaha mengalihkan perhatian dengan membuka tablet yang saya bawa.

Wallpapernya adalah… kita.

Saya melihat senyummu disana. Kamu yang susah sekali untuk tertawa, tapi tetap saja itu adalah wajah paling merindukan di dunia. Melihatmu sekarang ini bagai sebuah hantaman palu di kepala.

Saya salah. Salah sudah melepaskan kamu. Harusnya tadi saya memaksa, agar kita jangan putus. Tapi kamu tidak suka dipaksa. Dan saya khawatir, kamu akan makin marah, marah, dan marah.

Butiran air kini mulai menghiasi layar tablet. Saya gerakkan jari di atasnya, aplikasi foto terbuka. Dan ada kamu. Lagi-lagi kamu. Semua kamu. Dan butiran airnya makin banyak.

Saya menyeka pipi dengan terburu. Ada satu hal lagi yang harus dilakukan. Penyebab semua kekacauan.

Saya menekan tombol call back, dan tak berapa lama suara yang kerap menemani saya terdengar.

‘Halo, Farhan? …Iya…Ngga apa…lagi pilek aja…Far, saya mau ngomong dulu, boleh? …Far, Rio ngamuk…Saya diputus Far…Ngga, bukan, salah saya kok…Yah, dia ngamuk perkara kita…He-eh…Ngga Far, saya yang salah…Udah, kamu ngga usah ngapa-ngapain…Iya, saya merasa, lebih baik kita ngga usah ketemuan lagi…Mmm…ngga tahu bisa apa ngga, tapi yang pasti saya ngga mau Rio marah lagi…’

Suara saya tercekat. Farhan pasti menyadari saya sedang menangis.

‘He-eh ngga apa, saya ngga apa..Ngga, kamu ngga usah ke sini….Jadi, gitu aja ya Far. Makasih selama ini sudah ditemani. Maaf kalau saya selama ini ada salah sama kamu. Maaf ya Far. Bye.’ Tanpa menunggu Farhan membantah ucapan saya lagi, saya segera menutup telepon.

Sudah. Selesai. Jika itu yang membuat kamu marah, saya sudah bereskan. Masalah kamu mau kembali atau tidak…kembali saya terdiam.

Seseorang duduk di depan saya. Saya menengadahkan wajah.

Kamu!

Saya tak melihatmu datang. Tapi melihat kemejamu basah, sepertinya kamu baru saja melintasi hujan.

Saya memandangmu. Kamu sendiri berusaha tersenyum, meski kelihatan canggung.

‘Maaf,’ katamu perlahan, ‘aku tak seharusnya emosi seperti itu, kepikiran di mobil, diam saja di sana dari tadi, aku…’

‘Aku sudah tak berteman lagi dengan Farhan,’ putus saya, ‘jika itu maumu. Rio…dia ngga jauh lebih berharga dari kamu. Aku rela lakuin apa saja, supaya bisa balik sama kamu.’

Kamu tersenyum. Tanganmu mengacak rambutmu. ‘Ah…eh…aku juga. Ngga enak rasanya berantem sama kamu. Sorry. Mmm…tapi kamu lain kali cerita dong, kalau punya teman cowok. Kita kan ngga bisa sering ketemu, maka komunikasi yang baik itu perlu. Biar ngga curigaan gitu.’

Saya mengangguk. ‘Iya Rio, maafin aku ya. Aku memang ngga cerita, takut kamu marah. Daaan, memang aku salah. Sorry ya, hunny,’ kata saya merayumu.

Kamu mengangguk, dan menggenggam tangan saya. ‘Baikan ya?’

Saya tersenyum, ‘Iya. Begitu saja ya,’ kata saya sambil tertawa.

***

IndriHapsari
Gambar : nodirtylooks.com

Advertisements