Free Birds : Super Kalkun dengan Super Misi

20140222-162410.jpg

Kalkun mungkin jadi unggas yang aneh kalau di Indonesia, bahkan hingga ke restoran ternama, jarang yang menyajikan kalkun sebagai menu makanannya. Sekali-kalinya lihat, di supermarket yang banyak dikunjungi ekspatriat. Itupun, cara masaknya kita juga tidak terbiasa, karena harus menggunakan oven.

Maka ketika di Universal Studio Singapura salah satu kiosnya menjual daging kalkun, semangatlah kami untuk mencoba, dapat paha bawahnya yang guede, dan habis dilahap…kami bertiga. Dagingnya banyak, berwarna kemerahan, kalau masaknya kurang pas dagingnya terasa liat, dan sudah gurih dari sononya.

Itu sebabnya kalkun jadi hidangan favorit di Amerika, khususnya pada perayaan Thanksgiving. Perayaan ini sudah berlangsung sejak dulu, sebagai perasaan bersyukur atas hasil panen dan apapun berkah yang terjadi pada tahun sebelumnya. Diadakan sekitar bulan Oktober untuk Kanada, dan bulan November untuk Amerika Serikat. Bintang tamunya tentu kalkun panggang yang terhidang di meja makan.

Film ini, tebakan saya (dan ternyata betul) mestinya sudah rilis tahun lalu di Amerika, soalnya momennya pas. Dan entah mengapa baru Februari akhir ini diputar di bioskop-bioskop di Indonesia. Berkisah tentang Reggie dan Jake, yang berusaha mengubah sejarah supaya bangsa mereka jangan dijadikan santapan utama saat Thanksgiving.

Sampai disini protes keras dari para kritikus sudah tertangkap. ‘Hanya orang tua vegetarian yang mau menemani anaknya nonton film ini,’ begitu komentar yang saya baca di Wikipedia. Karena memang, Thanksgivingnya tetap ada, tapi makanannya diganti…eng ing eng..silakan tonton sendiri ya, ngga tega saya bocorinnya 🙂

Berikutnya, lagunya ngga nancep di telinga. Benar hanya tempelan saja, tidak ada lagu yang mengingatkan kita pada film ini. Katanya sih 3D, tapi apa yang terpampang kok rasanya lebih banyak yang 2D ya, sehingga percuma saja. Penggambarannya menurut saya kurang detail, lucunya dipaksakan, dan meski cuma 64 menit, ceritanya begitu padat.

Cerita seolah-olah punya banyak misi yang hendak disampaikan. Bahwa Reggie yang dianggap aneh dan terbuang, kelak bisa juga jadi pahlawan. Atau Jake si superhero yang selalu bersemangat dan anti gagal. Atau kisah heroik para kalkun yang menyelamatkan temannya. Ada Presiden Amerika dengan Camp Davidnya, orang-orang Indian dan benteng kecil dengan orang-orang yang kelaparan. Itu semua, dibungkus dengan kendaraan penjelajah waktu berbentuk telur, bernama STEVE, alias Space Time Exploration Vehicle Envoy, yang bertenaga surya. Einstein mungkin menangis haru, teori relativitasnya diajarkan sejak usia dini, dan ramah lingkungan lagi!

Tapi saya tidak yakin, mampukah anak-anak memahami loncatan-loncatan waktu yang terjadi? Alurnya maju, lalu mundur, lalu maju lagi, mundur lagi, dan seterusnya. Sampai muncul reuni antar Reggie dari masa depan, masa depannya lagi, lagi dan lagi, pokoknya sampai ada empat biji – eh ekor – Reggie. Lalu kebiasaan menggampangkan masalah, juga tidak bisa dihindari di film ini. Semua seperti sulap, langsung beres, langsung happy.

Yah memang sih ujung-ujungnya yang baik yang menang, but how to achieve it, that’s the problem 🙂

image

***
IndriHapsari
Gambar : 411posters.com

Advertisements