Mati Sama-sama

20140222-065506.jpg

Sebuah gambar yang menyayat hati. Seorang pria memeluk seorang wanita, dalam kondisi berlumuran debu. Abu gunung berapi telah meruntuhkan atap rumah mereka, mengubur hidup-hidup penghuninya. Namun rupanya pria itu masih sempat memeluk sang wanita, istrinya mungkin, sebelum mereka menjemput ajal bersama-sama.

Nancy berlama-lama melihat foto tersebut. Rasa haru menyeruak dari hatinya, membayangkan betapa besarnya cinta mereka.

Nancy melirik Liem, suaminya, yang sedang membaca koran. Ritual mereka setiap pagi seperti ini. Sinyo telah diantar supir dan babysitternya ke playgroup. Nancy menunggui suaminya berangkat kerja, sebelum ia sendiri berangkat senam di klub kebugaran dekat rumah.

‘Ko, sudah lihat foto ini?’ Nancy mengangsurkan lipatan koran dengan foto mengharukan tadi menghadap atas. Suaminya hanya melirik sambil tetap tangannya memegang koran yang sedang dibacanya.

‘Sudah,’ katanya, lalu pandangannya diarahkan lagi pada korannya. Nancy meletakkan koran tersebut di meja. Sudah hapal kelakuan suaminya, yang kalau sedang membaca koran tak mau diajak bicara. Tapi kali ini Nancy tak peduli. Menurutnya ia harus menyampaikan apa yang ada di hatinya.

‘Kok ada ya Ko, orang yang sudah tahu mau mati, tapi masih ingat orang lain. Rasanya orang ini berusaha melindungi istrinya, tapi ndak kuat menanggung semua reruntuhan itu. Mati sama-sama akhirnya.’

‘Hmmm…’ kata suaminya malas.

Nancy mulai cemberut. Biasanya ia cuek saja jika suaminya tak mau menanggapi omongannya seperti biasa. Namun kali ini tidak! Ia sedang mengharu biru dengan foto tersebut.

‘Ko! Dengerin dulu dong!’ katanya merajuk.

Suaminya mendesah. Diletakkannya korannya ke pangkuan. Ia mengambil cangkir tehnya, dan meminumnya dulu sebelum berusaha mendengarkan istrinya. ‘Kenapa to Me? Kan sudah kejadian, mereka juga sudah dikuburkan. Apa lagi yang belum?’ katanya tenang.

Nancy merengut. ‘Ya kejadiannya itu lo, Ko. Kan romantis. Mati sama-sama,’ Nancy memandang suaminya, ‘kalau kita mati nanti, bisa sama-sama ndak ya? Katanya kalau saling mencintai bisa gitu Ko,’ katanya menjelaskan dengan semangat. Suaminya mengernyitkan keningnya.

‘Loh, beneran ini Ko!’ kata Nancy lagi. ‘Papanya Ce Syeni kan meninggal duluan. Ndak berapa lama, Mamanya nyusul. Trus terakhir, anjingnya! Saking setianya itu, Ko,’ katanya sambil membayangkan cerita Syeni, teman senamnya, kemarin.

‘Jadi…kalau ndak meninggal sama-sama, artinya ndak cinta?’ kata suaminya dingin.

Nancy terdiam. Ia lupa. Mama mertuanya sudah meninggal lama, namun Papa mertua masih sehat dan tinggal sendirian di Semarang. Apa itu artinya mereka tak saling cinta? Nancy tersadar kesimpulannya terlalu terburu-buru (ah sialan nih Ce Syeni!) dan berpotensi menyinggung suaminya.

‘Eh..ndak juga ya Ko. Wis, pokoknya gitu lah! Kalau matinya sambil pelukan gitu kan mengharukan lo Ko. Sak dunia tahu. Oh Nancy itu sayang kokonya, kokonya ya sayang Nancy. Gitu lo Ko,’ katanya masih ngotot.

Suaminya memandang lagi padanya. ‘Terus opo? Wong sama-sama matinya. Yang mati ya ndak merasa itu romantis. Iya kalau pas ditemukan lagi pelukan, wajahnya serius seperti di foto itu. Kalau pas lagi ngowo, atau wajahnya tertimpa kayu jadi rusak ndak karuan, opo yo masih romantis?’

Nancy hampir menangis. Suaminya memang tidak berperasaan!

‘Me,’ suara suaminya melembut, ‘Ndak perlu merencanakan nanti mau mati gimana. Yang penting sekarang urusi hidup ini mau gimana. Mumpung masih dikasih kesempatan Tuhan menikmati dunia, mbok ya ungkapkan sayangnya sekarang, jangan nunggu pas mau mati.’

Nancy menunduk. ‘Yah, soale Ko, Meme ndak tahu gimana hidup ini tanpa Koko. Kalau Meme mati duluan, ndak apa Koko kawin lagi biar ada yang nemeni. Tapi kalau Koko mati duluan, Meme pasti bingung, kepingin nyusul. Ndak enak kalau ndak ada Koko. Tapi yak apa dengan Sinyo…’ katanya bingung sendiri.

Suaminya tersenyum. Ia berlutut di depan Nancy, menyentuh dagu istrinya supaya dapat memandang matanya. ‘Nah itu lo, ketakutan sama hal yang belum terjadi. Mbok jalani saja to Me, masalah hidup mati di tangan Tuhan. Yang penting gimana kita mengisi hidup.’ Digenggamnya tangan istrinya sambil tersenyum.

Nancy juga mulai tersenyum. Untunglah ia menemukan pria yang tepat sebagai pendamping hidupnya. Kini ia berpikir, siapapun dari mereka yang mati duluan, yang lain harus kuat untuk melanjutkan perjalanan.

‘Mengenai tawarannya,’ kata suaminya sambil bangkit, ‘ndak bisa ditarik dari sekarang ya?’

Nancy bingung. ‘Yang man…’ Lalu ia tersadar. Dengan cepat dikejarnya suaminya yang sudah lari ke dalam dengan tawa berderai-derai.

***
IndriHapsari

Gambar :eyeopening.info

Advertisements