Enak dan Ngga Enaknya Pacaran dengan Penulis

20140204-171641.jpg

Sempat waktu itu saya sekilas baca, link yang diberikan seorang teman, dengan tema yang sama. Seingat saya, saya sempat ngakak baca salah satu poinnya, bahwa penulis itu romantis. Jelas aja saya ketawa, secara romantis dan gombal itu tipis bedanya 😀

Sebenarnya simalakama sih bahas ginian, soalnya sama saja buka aib saya dan teman-teman, yang menorehkan segala pemikiran dan mungkin rasa juga, dalam bentuk tulisan. Tapi demi adik-adik yang masih merajut masa depan *sok tua nih* baiklah saya berikan pendapat saya soal pacaran dengan penulis.

Penulis bisa dibedakan fiksi dan non fiksi, wanita dan pria. Nah yang ini berlaku untuk umum.

Enaknya pacaran dengan penulis itu, memang benar sih, romantis. Terutama di BBM, SMS, chatting, email, inboxan…bertebaran deh rayuan. Penulis ngga malu-malu untuk tayangkan puja pujinya dalam sebuah karya, entah artikel di internet, kirim surat pakai amplop, atau di mading sekolah. Bangga aja kalau nama kita disebut, entah kita mau terima atau ngga tuh penulisnya. Setidaknya, numpang beken deh 🙂

Soalnya, tulisannya itu pasti beda deh dengan yang lain. Penulis yang asli, ngga copas sana copas sini, bangga banget kalau bisa menciptakan karya sendiri. Khas dia banget, khas kamu banget. Lalu dia bisa merangkai kata-kata indah, yang bikin kamu senyum-senyum saat membacanya. Pintar banget menciptakan situasi yang bikin kamu kepikiran sepanjang hari.

Karena dia pandai merangkai kata, tugas bahasa Indonesia, bikin makalah, bikin poster himbauan, suruh kerjain dia aja #eh Maksudnya minta dia untuk membimbing kita, yang kurang dimana. Trus rayu-rayu sedikit, bilang ngga bisa, dan…hopla! Pekerjaan sudah berpindah tangan #ups

Penulis juga asyik diajak diskusi. Penulis biasanya suka membaca untuk menambah wawasannya, suka diskusi juga. Jadi serap ilmu darinya, tanya-tanya deh. Berhubung kita ehemnya, pasti dijawab dengan senang hati. Kalau beli buku, malas baca, suruh dia baca dan bikin reviewnya. Hehehe…:D

Bahayanya, atau anggap saja ngga enaknya, penulis tuh kadang hidup di dunia mimpi, bukan realita. Dia ingin begini-begini sesuai imajinasinya, lalu begitu kenyataan beda dengan harapan, dia ngga bisa menyesuaikan.

Misal nih, kalau gambaran ideal penulis nih, maunya bangun siang-siang, menulis, makan, jalan-jalan cari inspirasi, nulis lagi, baru tidur menjelang subuh. Konon keadaan tenang membuat kata-kata mengalir lancar. Meja tulisnya menghadap danau, hawanya sejuk, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur.

Kenyataannya, keuangan penulis kadang ngga pasti. Kecuali sudah sekelas JK Rowling, Dan Brown, dan penulis best seller lainnya. Itu sih tanpa nulis lagi, uang sudah masuk sendiri dari royalti. Siapa yang bisa membiayai asisten rumah tangga untuk bersih-bersih rumah dan masak? Siapa yang bisa modalin beli rumah tipe danau? Siapa yang bisa dapat uang setiap hari, kala karyanya belum dihargai? Kalaupun semua dikerjakan istri, siapa yang bisa menghidupi istri, kalau kerjanya suami menulis saja?

Karena itu pernah dengar kan, istri yang marah-marah karena suami kerjanya nuliiis terus. Nulis sih tidak apa, asal penghidupan juga dicukupi. Lalu mau ikut ngurus anak ngga cuek sendiri, dan mau bersosialisasi, ngga gaul sama komputer mulu. Atau suami yang ngamuk karena istrinya mengabaikan pekerjaan rumah tangga, plus ngga ngurusin anak, karena sibuk nulis, atau berinteraksi dengan sesama penulis. Membagi waktu, punya perencanaan yang matang dan peduli sekitar, terutama keluarga, itu syarat penulis yang bikin enak lingkungannya.

Hal lain, kata mbak Dyah Rini, kepo itu bagian dari iman penulis. Jadi sebagai pasangan, ati-ati lo dikepoin urusan pribadi kamu, apalagi kalau belum nikah. Ada berantem sedikit, nyetatus, syukur-syukur dibikinin fiksi #eaaa…Ngga suka sedikit, nulis artikelnya bisa panjaaang, sampai nyindir-nyindir. Orang yang ngga urusan jadi merasa berhak ikutan. Malah makin pelik persoalan. Bahasa tulisan itu lebih menyakitkan loh daripada bahasa lisan. Karena kita bisa mengulang memori buruk itu, dan perkataan yang buruk bisa menjadi alasan untuk keadaan yang lebih buruk lagi.

Tapi tentu saja, ngga semua penulis punya ciri enak dan ngga enak yang saya sebut. Percayalah, dengan saling cinta, semua jadi enak terus 🙂

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/220746819206189514/

Advertisements