Menyikapi Kehilangan

lost

Cara menyikapi kehilangan adalah dengan tidak menikmatinya

Kata-kata itu saya tuliskan di status Facebook, sebagai penyemangat bagi mereka yang masih saja merasa kehilangan.

Seminggu yang lalu baru saja saya mendengar kabar, pria umur 39 tahun yang betah menjomblo, karena dua kali patah hati. Trenyuh juga mendengar kisahnya, sekaligus menyesalkan atas tindakannya berlama-lama pada posisi tersebut, sehingga mengabaikan kesempatan yang datang, dan kemudian pergi.

Saya yakin, di antara dua episode pahit dalam hidupnya, ada anugrah yang mungkin tidak ia rasa, ada perhatian yang mungkin ia abaikan, atas nama sakit hati tadi. Sayang, karena dua orang wanita yang telah meninggalkannya untuk menikah, ia tidak segera bangkit.

Belum lagi kalau melihat alasan kenapa hubungannya menjadi gagal, rasa-rasanya ia belum belajar. Bahwa wanita menginginkan hubungan yang pasti, dan atas dasar serba ragu itulah, ia jadi kalah cepat dengan pesaingnya. Ibarat bisnis, menarik dan menjaga kesetiaan pelanggan, itu ada tekniknya lo.

Kenapa saya simpulkan demikian? Karena jika ia belajar, ia akan mencoba kembali, dan berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hidupnya mungkin akan lebih ceria, meski bukan wanita pertama, atau wanita kedua yang menjadi pasangan resminya. Kalau tidak mencoba, mana tahu hidupnya bakal lebih sendu, atau bahagia.

Kondisi berlama-lama menikmati pedih hati ini, kalau oleh anak gaul disebut dengan menggalau. Sayangnya semua fasilitasnya sudah tersedia. Nonton film sedih gampang, download di youtube, atau putar lewat cakram. Dengerin lagu sedih tinggal cari mp3nya, atau dengerin radio. Baca cerita sedih tinggal baca di novel percintaan yang banyak sekali ragamnya.

Padahal ngga ada enaknya menikmati pedih, hanya menyurutkan semangat saja. Belum lagi masalah mengharap sesuatu yang sulit sekali untuk terwujud. Kemungkinan itu ada, tapi perlu campur tangan Yang Kuasa untuk mewujudkannya. Kalau sudah begitu, mending kita ngga usah ikut-ikutan deh. If and only if, God permits it. Kita mengerjakan yang bagian kita saja, yaitu move on.

Move on atau bergerak, artinya kita teruskan perjalanan, tidak perlu berhenti hanya untuk menikmati kepedihan. Ngga ada gunanya, hasilnya pun nihil. Tapi jika kita bergerak, mengikuti hidup, maka ngga akan sempat berpedih-pedih. OK mungkin kala malam hari kita merasa sepi, atau saat dalam keramaian kita merasa sendiri. Tapi itu hanya sebentar, berikutnya dosis move on ditambah, lagi dan lagi, sampai akhirnya menggalaupun kita tak sempat.

Biasanya sih ada saja yang mencibir, ngomong sih gampang. Wah, meski tidak kehilangan seseorang, tapi saya pernah juga kehilangan harapan. Rasanya, ya sedih aja. Semua usaha seakan sia-sia. Lalu iri pada mereka yang mendapatkannya. Pokoknya saat itu, saya menjadi orang yang tidak menyenangkan.

Tapi setelah itu apa? Itu yang saya pikirkan. Ngga mendapatkannya, lalu apa saya diam saja? Ya jalani saja apa yang ada di tangan. Awalnya sulit, lama-lama menyesuaikan, lama-lama berjalan seperti biasa. Akhirnya sekarang, kalau saya ingat-ingat kejadian dulu, jadi mengerti kenapa Tuhan memberikan saya itu, bukan yang lain. Terus ketawa deh, kok bisa ya saya dulu  menggalau seperti itu?

Supaya move on tambah lancar, banyak bergaul, fokus ke kegiatan, berlibur, ketemu orang baru, atau menekuni hobi. Selain itu sembari menata hati,  meyakinkannya bahwa kehilangan itu harus diterima, bukan sebagai kegagalan seumur hidup, tapi salah satu episode yang buruk dalam hidup kita. Episode manisnya banyak, kalau kita mau mengusahakannya 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements